Sekolah Alam KAHFIS Aceh dan PEMANGKU Tanam Mangrove untuk Tanggap Bencana

  • 07 Agt 2026 14:55 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh– Sekolah Alam KAHFIS Aceh kembali menghadirkan pengalaman belajar berbasis alam melalui kegiatan Outing Class Jelajah Literasi Alam dalam rangka Hari Mangrove Sedunia. Kegiatan ini merupakan kolaborasi progran Sekolah Alam kahfis Aceh dengan PEMANGKU (Pemuda Peduli Mangrove Kutaraja) di Mangrove Park Lampulo, Banda Aceh. Mengusung tema "Tanggap Bencana melalui Penanaman Mangrove."

Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus membangun kesadaran mitigasi bencana sejak usia dini.

Kegiatan diawali dengan senam bersama yang diikuti oleh seluruh peserta, kemudian dilanjutkan dengan sesi edukasi mengenai ekosistem mangrove yang disampaikan oleh Fikri, Sekretaris sekaligus wakil ketua konservasi PEMANGKU.

Dalam pemaparannya, Fikri menjelaskan bahwa mangrove merupakan salah satu komoditas penting di wilayah pesisir yang memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Selain menjadi habitat berbagai biota laut, hutan mangrove juga berfungsi melindungi garis pantai dari abrasi, mengurangi dampak gelombang pasang, serta menjadi benteng pertahanan alami ketika terjadi bencana seperti tsunami sebelum gelombang mencapai permukiman masyarakat.

"Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap anak-anak dapat mengenal pentingnya menjaga ekosistem mangrove sejak dini. Semoga kolaborasi ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi terus berlanjut sehingga semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap kelestarian mangrove dan semakin banyak Sekolah Alam yang hadir di Banda Aceh," ujarnya Kamis 6 Agustus 2026.

Senada dengan hal tersebut, Surya Darma, S.Pi., M.Si, Inisiator sekaligus Ketua PEMANGKU (Pemuda Peduli Mangrove Kutaraja) serta Penanggung Jawab (Person in Charge) Mangrove Park Lampulo, menyampaikan bahwa pendidikan lingkungan perlu dimulai sejak usia dini melalui pengalaman belajar secara langsung.

Menurutnya, metode pembelajaran yang diterapkan Sekolah Alam KAHFIS Aceh sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini karena memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk melihat, merasakan, dan mempraktikkan langsung apa yang mereka pelajari di alam.

"Kami berharap semakin banyak Sekolah Alam yang tumbuh di Aceh sehingga semakin banyak anak yang mendapatkan edukasi lingkungan sejak dini. Belajar langsung di alam memberikan pengalaman yang tidak bisa diperoleh hanya dari dalam kelas. Anak-anak dapat memahami pentingnya menjaga lingkungan, mengenal ekosistem mangrove, serta memiliki kesadaran terhadap mitigasi dan kesiapsiagaan bencana," jelasnya.

Seluruh rangkaian kegiatan dikemas dengan metode fun learning, sehingga proses belajar berlangsung menyenangkan sekaligus bermakna. Para siswa juga diajak mengenal berbagai spesies mangrove beserta karakteristik, manfaat, dan fungsinya. Mereka juga belajar bahwa mangrove tidak hanya berperan sebagai pelindung pesisir, tetapi juga memiliki manfaat dalam bidang seni melalui pemanfaatannya sebagai bahan pewarna alami batik dan ecoprint, serta berpotensi dimanfaatkan dalam industri farmasi.

Pengalaman belajar semakin lengkap ketika peserta diajak memegang dan menanam bibit mangrove secara langsung di kawasan pesisir. Aktivitas tersebut menjadi momen berharga bagi anak-anak untuk memahami proses pelestarian lingkungan sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap alam.

Tidak hanya itu, peserta juga melakukan eksplorasi kawasan mangrove dengan mengamati berbagai satwa yang hidup di dalamnya, seperti kepiting dan beragam organisme kecil lainnya yang menjadi bagian dari ekosistem pesisir.

Di sela-sela kegiatan, peserta memperoleh informasi bahwa Mangrove Park Lampulo memiliki 12 spesies mangrove, yang merupakan bagian dari sekitar 216 jenis mangrove yang dikenal di dunia. Kawasan ini juga menjadi habitat sekaligus tempat singgah berbagai jenis burung migran dari berbagai negara, sehingga menjadikannya sebagai salah satu kawasan konservasi yang kaya akan keanekaragaman hayati.

Kegiatan ditutup dengan dokumentasi bersama serta eksplorasi kawasan mangrove untuk memperkaya pengalaman belajar para siswa.

Melalui kegiatan *Outing Class* ini, Pembina Sekolah Alam KAHFIS Aceh, Siti Nurhidayah, S.Pd., M.Sc berharap bahwa "Siswa Sekolah Alam Kahfis Aceh tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang mangrove, tetapi juga tumbuh menjadi generasi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Para siswa juga diharapkan memahami pentingnya menjaga ekosistem pesisir, serta memiliki kesadaran akan mitigasi bencana sejak usia dini." ungkap Bunda Dayah.

Sekolah Alam KAHFIS Aceh menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada keluarga besar PEMANGKU (Pemuda Peduli Mangrove Kutaraja) atas sambutan hangat, ilmu, serta pengalaman belajar yang diberikan kepada para siswa. Semoga kolaborasi ini menjadi langkah awal lahirnya lebih banyak program edukasi lingkungan yang mampu menginspirasi masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian alam, khususnya ekosistem mangrove sebagai salah satu benteng alami bagi wilayah pesisir Aceh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....