Petani Milenial Aceh Ubah Ampas Kopi Jadi Briket dan Lulur

  • 30 Jun 2026 08:27 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Tumpukan ampas kopi dari ratusan warung kopi di Banda Aceh dan Aceh Besar menjadi inspirasi bagi Ketua Umum Petani Milenial Aceh, Benni Baihaqi, mengembangkan inovasi pengolahan limbah menjadi briket dan lulur. Inovasi berbasis kearifan lokal tersebut mengantarkannya meraih Juara Harapan III tingkat nasional pada cabang Temu Karya Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan XVII di Gorontalo.

Benni mengatakan ide tersebut muncul dari banyaknya limbah ampas kopi yang belum dimanfaatkan. Menurutnya, budaya minum kopi yang berkembang di Aceh menghasilkan limbah organik dalam jumlah besar dan selama ini sebagian besar hanya berakhir di tempat pembuangan.

Berdasarkan data yang dipaparkan dalam Temu Karya Penas XVII, satu warung kopi skala menengah hingga besar di Banda Aceh dan Aceh Besar menghasilkan sekitar 10 hingga 20 kilogram ampas kopi setiap hari. Dengan lebih dari 200 warung kopi aktif, limbah ampas kopi diperkirakan mencapai dua hingga empat ton per hari.

"Selama ini ampas kopi dibuang begitu saja sehingga menjadi persoalan baru. Padahal limbah tersebut masih memiliki nilai ekonomi apabila diolah dengan tepat," ujar Benni.

Ia kemudian mengembangkan pemanfaatan ampas kopi menjadi dua produk berbeda, yakni briket sebagai bahan bakar alternatif dan lulur untuk perawatan kulit. Menurutnya, kedua produk tersebut dapat dibuat menggunakan bahan yang mudah diperoleh masyarakat sehingga berpotensi dikembangkan sebagai usaha rumah tangga.

Benni menjelaskan pembuatan briket diawali dengan mengeringkan ampas kopi sebelum disangrai hingga berubah warna menjadi hitam. Ampas kopi kemudian dicampur dengan arang serbuk kayu dan tepung tapioka sebagai perekat, lalu dicetak dan dikeringkan hingga siap digunakan sebagai bahan bakar alternatif.

Menurutnya, briket ampas kopi dapat dimanfaatkan sebagai pengganti arang kayu maupun arang tempurung kelapa untuk kebutuhan memasak. Selain membantu mengurangi limbah organik, produk tersebut juga memiliki nilai jual yang dapat menambah pendapatan masyarakat.

"Yang tadinya hanya menjadi sampah, sekarang bisa memiliki nilai ekonomi. Masyarakat dapat memperoleh tambahan penghasilan dari limbah ampas kopi yang sebelumnya tidak memiliki harga," katanya.

Selain menjadi briket, ampas kopi juga dimanfaatkan sebagai bahan baku lulur atau scrub alami. Benni mengatakan masyarakat cukup mencampurkan ampas kopi kering dengan minyak zaitun dan madu sebelum digunakan sebagai lulur.

Ia menjelaskan lulur berbahan ampas kopi dapat membantu mengangkat sel kulit mati sekaligus membersihkan pori-pori. Pemanfaatan tersebut juga menjadi bagian dari konsep zero waste karena seluruh limbah kopi dapat dimanfaatkan kembali.

Benni menilai inovasi tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan ekonomi masyarakat, tetapi juga mendukung pelestarian lingkungan. Semakin banyak limbah kopi yang dimanfaatkan, semakin sedikit sampah organik yang berakhir di tempat pembuangan.

Melalui inovasi itu, Benni mewakili Kontingen Kabupaten Aceh Besar berhasil meraih Juara Harapan III tingkat nasional pada cabang Temu Karya Penas Petani Nelayan XVII. Ajang tersebut menjadi wadah bagi peserta dari seluruh Indonesia untuk mempresentasikan inovasi pertanian, teknologi tepat guna, serta produk berbasis kearifan lokal yang ramah lingkungan.

"Kami berharap pemerintah dapat menginisiasi kerja sama dengan warung kopi maupun kafe di Banda Aceh dan Aceh Besar agar ampas kopi bisa dikumpulkan dan diolah bersama. Dengan begitu, limbah yang selama ini terbuang dapat menjadi sumber pendapatan baru sekaligus membantu menjaga lingkungan," ujarnya

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....