Jemaah Haji Diminta Waspadai MERS dan Risiko Demensia

  • 24 Apr 2025 20:05 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN, Banda Aceh: Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh mengingatkan jemaah calon haji untuk tetap waspada terhadap sejumlah penyakit menular, termasuk virus MERS-CoV dan COVID-19, serta memperhatikan kondisi kesehatan mental seperti demensia yang berpotensi menimbulkan risiko tinggi selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Kabid P2P) Dinkes Aceh, dr. Iman Murahman, Sp.KKLP, MKM dalam wawancara bersama RRI Banda Aceh, Selasa (15/4/2025).

Menurut dr. Iman, meski pandemi COVID-19 telah mereda, virus tersebut masih menjadi perhatian, terutama di tengah keramaian dan interaksi intensif selama pelaksanaan ibadah haji. Selain itu, munculnya kasus virus MERS-CoV (Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus) menjadi kekhawatiran tersendiri, mengingat belum adanya vaksin untuk virus ini.

“Kita tetap imbau jemaah untuk tidak terlalu dekat dengan unta, tidak berfoto selfie apalagi minum susu unta. Ini penting karena virus MERS-CoV bisa menular dari hewan ke manusia dan menyerang sistem saraf, bahkan bisa menyebabkan kematian,” jelasnya.

Selain penyakit menular, dr. Iman juga menyoroti tantangan terkait kesehatan mental, khususnya kasus demensia ringan yang dialami sebagian jemaah lansia. Berdasarkan pengalaman tahun lalu, hampir semua kloter memiliki jemaah dengan gejala demensia yang dapat menyebabkan mereka tersesat atau tidak mampu kembali ke kamar hotel.

“Biasanya mereka lupa lokasi kamar, atau lantai hotel, apalagi jika tanpa pendamping. Tahun ini, jumlah petugas haji juga dikurangi, termasuk tim gerak cepat (TGC) yang biasa disiagakan di titik-titik strategis. Ini tentu menambah tantangan dalam pengawasan,” ungkapnya.

Untuk mencegah kejadian serupa, Dinkes Aceh bekerja sama dengan pihak Kementerian Agama dan otoritas kesehatan Arab Saudi, mendorong pelacakan dan pengawasan ketat terhadap jemaah berisiko, terutama lansia dan mereka yang memiliki penyakit bawaan.

“Kami berharap para jemaah dapat mengikuti imbauan ini dengan serius. Kesehatan adalah kunci kelancaran ibadah haji. Pencegahan jauh lebih baik daripada penanganan di lokasi yang serba terbatas,” tutup dr. Iman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....