Hidup Kedua Delisa Setelah Tsunami
- 30 Jan 2026 22:16 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh — Dua puluh satu tahun telah berlalu sejak gelombang tsunami 26 Desember 2004 meluluhlantakkan Aceh. Namun, bagi Delisa, penyintas tsunami yang kini hidup dengan disabilitas tunadaksa, ingatan tentang air laut yang menerjang masih kerap hadir, bahkan dalam mimpi.
Dalam perbincangan KHUPIE SARENG PODCAST Episode #28 RRI Banda Aceh, Delisa menuturkan bahwa perjalanan hidup pascatsunami bukanlah jalan yang mudah. Saat ini, ia bekerja di salah satu perbankan syariah di Aceh, Bank Syariah Indonesia (BSI). Pencapaian tersebut diraihnya melalui proses panjang yang penuh perjuangan, mulai dari pemulihan trauma hingga belajar bertahan hidup secara mandiri dengan kondisi fisik yang berubah.
Delisa ditemukan pada hari kedua setelah tsunami dalam kondisi terluka parah. Minimnya akses medis akibat terputusnya infrastruktur dan layanan kesehatan membuat penanganan tidak optimal. Selama beberapa hari, luka di kakinya hanya dibersihkan dengan air seadanya. Baru pada hari kelima, Delisa dibawa ke rumah sakit Kesdam yang saat itu didatangi dokter dari Australia. Kondisi infeksi yang sudah parah membuat amputasi tidak dapat dihindari.
“Jika sejak hari kedua mendapat penanganan medis, kemungkinan amputasi tidak harus terjadi,” tutur Delisa. Namun, kenyataan saat itu berkata lain. Setelah melalui tiga kali operasi, kaki kirinya akhirnya diamputasi di bawah lutut.
Trauma psikologis pun menjadi bagian dari kehidupan Delisa hingga kini. Ia mengaku masih kerap bermimpi tentang air laut dalam sebulan. Meski demikian, Delisa memilih tidak terjebak dalam masa lalu. Selain bekerja, ia aktif berbagi pengalaman sebagai penyintas tsunami melalui berbagai kegiatan, mulai dari sesi berbagi hingga forum kebencanaan, bahkan hingga ke Jepang.
Keputusan untuk terus berbagi kisah lahir dari proses panjang berdamai dengan diri sendiri. Delisa mengakui, rasa lelah dan tangis masih sering hadir. Namun, ia memaknai keselamatannya sebagai amanah untuk menguatkan orang lain.
“Saya berpikir, mungkin Allah memberi saya cobaan ini agar saya bisa menjadi contoh. Kalau saya tidak bisa memberi apa-apa, setidaknya cerita saya bisa membangkitkan semangat orang lain,” ujarnya.
Bagi Delisa, bertahan hidup bukan sekadar melanjutkan hari, melainkan memilih untuk tetap berdiri, menerima diri, dan menjadikan luka sebagai sumber kekuatan bagi sesama.