Mahasiswa ISBI Aceh Sulap Limbah Kayu Banjir Jadi Produk Kreatif

  • 10 Mar 2026 11:14 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Tim Mahasiswa Berdampak Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh telah menuntaskan program pengabdian kepada masyarakat di Gampong Meunasah Mancang, Kabupaten Pidie Jaya. Kegiatan tersebut berlangsung selama 30 hari, sejak 28 Januari hingga 28 Februari 2026, dengan melibatkan puluhan mahasiswa lintas program studi yang berfokus pada penguatan kreativitas masyarakat pascabanjir.

Program pengabdian ini dibimbing oleh dosen Kriya Seni, Saniman Andi Kafri, M.Sn., serta didampingi oleh Anni Kholilah, M.Sn., Achmad Zaki, M.A., dan Aris Munandar, M.Ag. Kehadiran tim dosen dan mahasiswa ini bertujuan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat yang terdampak bencana banjir, khususnya dalam mengolah potensi yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Sebanyak 53 mahasiswa terlibat langsung dalam kegiatan tersebut.

Mereka melakukan berbagai aktivitas pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkan limbah kayu yang hanyut terbawa banjir sebagai bahan dasar pembuatan produk kerajinan bernilai ekonomi.

Beragam produk kreatif berhasil dihasilkan selama kegiatan berlangsung. Limbah kayu yang sebelumnya dianggap tidak bernilai diolah menjadi berbagai produk kerajinan seperti gantungan kunci, hiasan dinding, pigura, hingga rak Al-Qur’an yang memiliki nilai estetika sekaligus fungsi praktis bagi masyarakat.

Ketua dosen pendamping, Saniman Andi Kafri, M.Sn., mengatakan bahwa kegiatan pengabdian ini dirancang untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat pascabanjir, terutama terkait banyaknya limbah kayu yang berserakan di lingkungan desa.

“Program ini kita rancang untuk menjawab permasalahan banyaknya limbah kayu akibat banjir. Di sisi lain, kegiatan ini juga diharapkan mampu membuka peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat Meunasah Mancang yang terdampak banjir,” ujarnya.

Keuchik Gampong Meunasah Mancang menyambut baik kehadiran mahasiswa ISBI Aceh beserta karya-karya yang dihasilkan selama kegiatan pengabdian berlangsung. Ia menilai hasil karya mahasiswa tidak hanya bernilai kreatif, tetapi juga memberi manfaat langsung bagi lingkungan desa.

“Salah satu karya yang kami apresiasi adalah hiasan dinding yang dipasang di meunasah kami. Karya tersebut membuat tampilan meunasah menjadi lebih indah dan memberi nuansa baru bagi masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Koordinator Lapangan kegiatan, Muhammad Rahul, menyampaikan bahwa kegiatan pengabdian ini memberikan banyak pengalaman berharga bagi mahasiswa. Menurutnya, interaksi langsung dengan masyarakat menjadi proses pembelajaran penting yang tidak diperoleh di ruang kelas.

“Selama 30 hari di Meunasah Mancang kami belajar banyak hal, mulai dari memahami kondisi masyarakat pascabanjir hingga mempraktikkan langsung keterampilan mengolah limbah kayu menjadi produk kerajinan. Pengalaman ini sangat berharga bagi kami sebagai mahasiswa seni, karena kami bisa melihat bagaimana karya kreatif dapat memberi manfaat bagi masyarakat,” tutup Rahul.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita