Cerita Fauziah Bangkitkan Harapan lewat Merek Kapal Tsunami
- 28 Feb 2026 13:23 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Berangkat dari pengalaman pahit sekaligus penuh syukur saat bencana gempa dan tsunami di Aceh, kisah ketangguhan Fauziah Basyariah menjadi potret nyata semangat bangkit penyintas tsunami. Perempuan yang kini dikenal sebagai Owner UD Tuna Kapal Tsunami itu menamai usahanya dari peristiwa yang menyelamatkan nyawanya bersama anak-anak, ketika gelombang besar menerjang Aceh belasan tahun lalu.
Fauziah dalam dialog interaktif bersama RRI Pro 1 Banda Aceh, Senin 23 Februari 2026 mengenang, saat air laut meninggi, ia dan keluarganya terjebak di lantai dua rumah. “Kami naik ke loteng karena air sudah penuh. Tiba-tiba ada kapal tersangkut di dekat rumah. Anak saya menendang atap seng, keluar minta tolong orang-orang di kapal, lalu kami ditarik satu per satu,” ujarnya. Setelah mereka berada di atas kapal, air mulai surut dan kapal tersebut akhirnya terdampar hingga kini.
Pengalaman selamat di atas kapal itulah yang kemudian menginspirasi nama “Kapal Tsunami”. Menurut Fauziah, nama tersebut bukan sekadar merek dagang, melainkan pengingat perjalanan hidupnya. “Itu kenangan masa lalu kami. Dari situ saya berpikir, kalau buat produk, saya pakai nama kapal tsunami supaya orang ingat cerita kami dan usaha ini lebih dikenal,” kata Fauziah.
Namun, ia juga harus menerima kehilangan besar. Suami dan ibunya tidak ditemukan setelah bencana. Dengan lima anak yang masih kecil, Fauziah dipaksa mencari cara untuk bertahan hidup. “Saya bingung mau usaha apa. Menjahit tidak bisa, bikin kue juga tidak pandai. Tapi karena tinggal dekat pelelangan ikan, saya coba olah ikan saja,” tuturnya.
Dengan modal awal Rp500 ribu, ia membeli beberapa keranjang ikan dan mulai berjualan dari tenda pengungsian. Perlahan, produk olahan seperti ikan kayu, ikan teri, dan ikan asin dipasarkan ke kantor-kantor dan kegiatan bazar. Kesempatan besar datang saat peringatan setahun tsunami yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Kami ikut bazar, alhamdulillah sambutannya bagus. Dinas perikanan juga mulai support, dari situ semangat kami tumbuh lagi,” ujarnya.
Seiring waktu, Fauziah belajar memperbaiki kemasan agar produknya lebih diterima pasar. Ia menawarkan produknya ke toko-toko suvenir hingga akhirnya mendapat tempat. Resep olahan ikan yang digunakan pun merupakan warisan keluarga, khas pesisir Aceh yang sejak lama dikenal sebagai sentra ikan kayu. “Dulu memang sudah buat, tapi tidak serius. Setelah tsunami, saya tekuni betul karena ini untuk masa depan anak-anak,” katanya.
Kini, UD Tuna Kapal Tsunami tak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga simbol ketahanan seorang ibu menghadapi tragedi. “Yang penting anak-anak bisa makan dan sekolah. Dari musibah itu saya belajar, kita harus bangkit pelan-pelan. Rezeki pasti ada kalau kita mau usaha,” tutup Fauziah.