Dispar Dorong Brand Lokal Aceh Tembus Pasar Global

  • 01 Okt 2025 20:09 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN, Banda Aceh: Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dinilai memiliki keterkaitan erat dalam memperkuat citra dan daya saing produk lokal di Kota Banda Aceh. Sinergi keduanya diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekaligus memperkenalkan kekhasan daerah kepada wisatawan.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh, Iin Muhaira, dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh, Jumat (19/9/2025). Menurutnya, pariwisata membutuhkan pengalaman otentik bagi wisatawan, sementara produk kreatif membutuhkan pasar.

“Kalau keduanya dipadukan dengan strategi yang matang, brand lokal bisa lebih cepat dikenal. Produk kreatif itu bisa menjadi bagian dari pengalaman wisatawan di setiap destinasi,” ujarnya.

Ia mencontohkan, sejumlah destinasi wisata di Banda Aceh seperti Pantai Ulee Lheue, Masjid Kaliturrahman, hingga Museum Tsunami telah dilengkapi dengan outlet produk kreatif. Di lokasi tersebut, wisatawan bisa menemukan berbagai souvenir, kopi khas Aceh, hingga kuliner tradisional yang dipasarkan langsung oleh pelaku usaha kreatif.

Selain itu, Pemko Banda Aceh juga menggandeng masyarakat gampong untuk turut mempromosikan produk unggulan di kawasan desa wisata. Saat ini terdapat delapan desa wisata di Banda Aceh yang mendapat pendampingan, di antaranya Desa Wisata Lampulo yang mengembangkan makanan khas berbahan ikan.

“Setiap kampung memiliki produk unggulan. Misalnya di Lampulo, wisatawan bisa menikmati kuliner khas berbahan ikan yang disajikan langsung di destinasi. Ini bentuk nyata sinergi antara pariwisata dan ekonomi kreatif,” jelas Iin.

Pihaknya juga terus mendorong promosi produk melalui festival dan berbagai event pameran. Dalam waktu dekat, Dispar Banda Aceh akan berkolaborasi dengan Gramedia untuk memasarkan produk-produk ekonomi kreatif melalui kegiatan pameran.

Iin menambahkan, strategi branding untuk pasar lokal, nasional, maupun internasional perlu dibedakan. “Produknya bisa sama, tetapi cara penyampaiannya berbeda. Storytelling dan standar yang digunakan harus menyesuaikan dengan segmen pasar,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....