IHSG Menguat di Awal Perdagangan, Pasar Cerna Kebijakan The Fed

  • 17 Sep 2026 19:13 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan Kamis dengan penguatan. Pergerakan tersebut dipengaruhi respons pelaku pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve yang sebelumnya telah diperhitungkan dalam harga aset.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG bertambah 18,18 poin atau 0,28 persen menjadi 6.455,03. Penguatan juga terlihat pada indeks LQ45 yang naik 2,97 poin atau 0,46 persen ke level 649,93.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengatakan pergerakan IHSG masih akan bergantung pada kemampuan indeks mempertahankan sejumlah level teknikal. Jika IHSG turun melewati area 6.430 hingga 6.377, tekanan koreksi berpotensi berlanjut menuju 6.290.

"Sebaliknya, penguatan kembali perlu melewati rentang 6.451–6.516 sebelum berlanjut ke area 6.537–6.552 dan selanjutnya menguji 6.723," katanya dilansir dari Antara.

Dari Amerika Serikat, The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen dari sebelumnya 3,50–3,75 persen. Proyeksi terbaru menunjukkan median suku bunga berada di sekitar 4,1 persen pada akhir 2026. Sejumlah anggota Federal Open Market Committee (FOMC) juga masih memperkirakan adanya satu kenaikan suku bunga pada tahun ini.

Liza menyebut kebijakan moneter AS masih menjadi perhatian pasar karena inflasi tetap menjadi salah satu pertimbangan utama The Fed. Ketua The Fed Kevin Warsh juga menekankan pentingnya pendekatan berbasis data dalam menentukan kebijakan, dibandingkan memberikan panduan kebijakan ke depan secara pasti.

Selain faktor suku bunga, perkembangan geopolitik di Timur Tengah turut menjadi perhatian investor, khususnya terkait risiko terhadap pasokan dan distribusi minyak. Namun, kekhawatiran tersebut mulai mereda setelah adanya laporan mengenai upaya Arab Saudi menambah pasokan minyak untuk pasar Asia dan memulihkan kapasitas pipelinenya secara bertahap.

Harga minyak dunia pun terkoreksi. Minyak Brent turun 3,02 persen menjadi sekitar 105,46 dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) melemah 3,71 persen ke kisaran 102 dolar AS per barel.

Dari dalam negeri, Fitch Ratings mempertahankan peringkat Indonesia Investment Authority (INA) pada BBB dengan prospek negatif, sejalan dengan peringkat sovereign Indonesia. Fitch juga memberikan peringkat nasional AAA dengan outlook stabil. Di sisi lain, kerja sama investasi Indonesia dan China melalui skema Two Countries Twin Parks (TCTP) terus diperkuat. Komitmen investasi baru mencapai sekitar 19,4 miliar Renminbi atau sekitar Rp51 triliun, sehingga total komitmen TCTP mencapai sekitar Rp88,1 triliun.

Di pasar global, bursa Eropa ditutup menguat pada perdagangan Rabu (16/9). Euro Stoxx 50 naik 0,57 persen, FTSE 100 Inggris 0,28 persen, DAX Jerman 0,53 persen, dan CAC 40 Prancis 0,62 persen. Sementara itu, Wall Street ditutup bervariasi cenderung melemah dengan S&P 500 turun 0,45 persen, Nasdaq Composite melemah 0,01 persen, dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 1,21 persen.

Pada perdagangan pagi di Asia, Nikkei menguat 0,12 persen, Kospi naik 0,07 persen, dan Straits Times bertambah 0,08 persen. Sebaliknya, Shanghai Composite melemah 0,40 persen dan Hang Seng terkoreksi 1,21 persen.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....