ASEAN Masih Bergantung Batubara meski Dorong Energi Bersih
- 11 Jun 2026 00:32 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Di tengah berbagai komitmen menuju energi bersih, negara-negara ASEAN masih menghadapi kenyataan bahwa batubara tetap menjadi sumber energi utama di kawasan. Selama lebih dari satu dekade terakhir, bahan bakar fosil masih memenuhi sekitar 80 persen pertumbuhan kebutuhan energi Asia Tenggara yang terus meningkat seiring laju pembangunan ekonomi.
Ketergantungan tersebut bukan tanpa alasan karena banyak negara ASEAN memiliki pembangkit listrik tenaga uap yang relatif muda dan masih dianggap layak beroperasi dalam jangka panjang. Akibatnya, upaya untuk mempercepat penghentian penggunaan batubara sering kali berhadapan dengan pertimbangan ekonomi, investasi, dan kebutuhan menjaga pasokan listrik nasional.
Indonesia menjadi salah satu contoh paling jelas dari tantangan tersebut karena batubara masih mendominasi sektor ketenagalistrikan nasional. Dominasi ini diperkuat oleh berbagai faktor seperti subsidi, pengaturan harga energi, serta infrastruktur kelistrikan yang belum sepenuhnya siap mengakomodasi penetrasi energi terbarukan dalam skala besar.
Di banyak negara ASEAN, batubara juga tidak hanya dipandang sebagai sumber energi, tetapi telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang menyerap tenaga kerja dan menghasilkan pendapatan negara. Kondisi ini membuat kebijakan pengurangan penggunaan batubara sering kali menghadapi tantangan politik dan sosial yang tidak sederhana.
Padahal, berbagai kajian menunjukkan bahwa ketergantungan yang terlalu besar terhadap energi fosil dapat meningkatkan risiko keamanan energi di masa depan. Gejolak geopolitik global dan konflik di sejumlah kawasan penghasil energi menjadi pengingat bahwa ketahanan energi tidak lagi dapat hanya bergantung pada sumber daya fosil semata.
Di sisi lain, ASEAN sebenarnya memiliki potensi besar untuk mengembangkan energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, air, hingga panas bumi. Namun, keterbatasan pendanaan, regulasi yang belum seragam, serta lambatnya implementasi kebijakan masih menjadi hambatan utama dalam mempercepat transformasi energi kawasan.
Laporan terbaru dari Institute for Essential Services Reform (IESR) menegaskan bahwa masa depan transisi energi ASEAN akan sangat ditentukan oleh kemampuan negara-negara anggotanya mengurangi ketergantungan pada batubara secara bertahap. Tanpa langkah yang lebih konkret dan terukur, target energi bersih serta pengurangan emisi yang telah dicanangkan berisiko sulit tercapai dalam beberapa dekade mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....