Teungku Chik Pantee Geulima: Ulama Aceh yang Mengubah Dayah Jadi Pencetak Pejuang

  • 22 Mei 2026 14:10 WIB
  •  Banda Aceh

Di Aceh, dayah sejak lama dikenal sebagai tempat belajar ilmu agama. Namun pada masa perang melawan kolonial Belanda, sejumlah dayah berubah menjadi pusat pertahanan rakyat. Salah satu yang paling menonjol adalah Dayah Pante Geulima di wilayah Meureudu, yang dipimpin Teungku Ismail Yaakob atau lebih dikenal sebagai Teungku Chik Pante Geulima.

Kisah ulama pejuang ini diangkat dalam salah satu episode program siaran RRI “Ulama Kharismatik Aceh” didistribusikan lewat aplikasi radio RRI Digital. Program tersebut bersumber dari buku 55 Ulama Kharismatik Aceh dan dibacakan langsung oleh penulisnya. Masyarakat dapat mendengarkan kembali program itu melalui layanan siaran langsung maupun arsip siaran digital di aplikasi tersebut.

Tangkapan layar bagian Ensiklopedia Islam yang mengisahkam jejak ulama Aceh dalam aplikasi RRI Banda Aceh. (Foto: Dokumen untuk RRI)

Buku 55 Ulama Kharismatik Aceh karya Dr. Nurkhalis Mukhtar. (Foto: Toko Kitab Alhidayah/Shopee)

Teungku Chik Pante Geulima lahir pada 1838 di Pante Geulima, Meureudu. Ia berasal dari keluarga ulama keturunan Aceh yang memiliki hubungan dengan garis Sayyidil Mukammil. Ayahnya, Teungku Yaakob, merupakan pimpinan dayah sekaligus tokoh agama yang disegani di kawasan tersebut.

Sejak kecil, Teungku Ismail menempuh pendidikan agama di Dayah Pantele Geulima. Dalam tradisi pendidikan dayah kala itu, ia terlebih dahulu belajar kepada Teungku di Rangkang atau asisten pengajar sebelum akhirnya dididik langsung oleh ayahnya sendiri.

Di usia muda, kemampuan ilmunya telah berkembang pesat. Namun ia merasa pengetahuannya belum cukup. Pada 1868, Teungku Ismail berangkat ke Makkah untuk memperdalam ilmu agama di Masjidil Haram.

Hampir sepuluh tahun ia belajar di Tanah Suci. Dalam catatan yang berkembang di kalangan ulama Aceh, ia bahkan dipercaya menjadi asisten seorang syekh di Masjidil Haram. Masa belajarnya diperkirakan sezaman dengan ulama besar seperti Syekh Said Bakri Syatha, pengarang kitab I’anatut Thalibin.

Kepulangan Teungku Ismail ke Aceh menjadi harapan besar bagi masyarakat dan para santri di Dayah Pante Geulima. Saat itu jumlah penuntut ilmu di dayah tersebut disebut mencapai hampir seribuan orang.

Namun situasi Aceh telah berubah. Pengaruh kolonial Belanda mulai masuk ke berbagai wilayah dan konflik perang semakin meluas. Dalam keadaan itu, Teungku Chik Pante Geulima tidak hanya melanjutkan pendidikan agama, tetapi juga mulai mempersiapkan perlawanan.

Dayah Pante Geulima kemudian berkembang menjadi salah satu basis latihan pejuang Aceh. Para santri tidak hanya dibekali ilmu agama, tetapi juga dilatih menghadapi peperangan. Dari dayah itu, Teungku Chik Pante Geulima membentuk sekitar 500 pasukan inti yang dipersiapkan menghadapi kemungkinan serangan Belanda.

Ketika Perang Aceh meletus pada 1873 setelah ultimatum Belanda kepada Kesultanan Aceh ditolak, Teungku Chik Pante Geulima bersama pasukannya bergerak ke Aceh Besar dan Banda Aceh. Selama beberapa tahun, mereka terlibat dalam berbagai pertempuran melawan pasukan kolonial.

Pada 1876, ia kembali memperkuat kawasan Meureudu, Samalanga, dan Keumala sebagai benteng pertahanan. Ia memperkirakan perang melawan Belanda akan berlangsung panjang sehingga wilayah pedalaman harus dipersiapkan sebagai pusat gerilya dan pertahanan rakyat.

Selain dikenal sebagai ulama dan panglima perang, Teungku Chik Pante Geulima juga disebut pernah menjalankan misi diplomatik ke Tanah Batak atas utusan Sultan Aceh untuk membangun komunikasi perlawanan terhadap Belanda bersama pemimpin Batak, Sisingamangaraja.

Perjuangan Teungku Chik Pante Geulima berakhir pada 1904. Dalam sebuah pertempuran besar melawan Belanda, ia gugur bersama pasukannya.

Kiprah Teungku Chik Pante Geulima menempatkannya sejajar dengan sejumlah ulama pejuang besar Aceh lain seperti , , dan — ulama yang tidak hanya mengajar dari mimbar, tetapi juga turun langsung memimpin perlawanan di medan perang.

Kini, nama Teungku Chik Pante Geulima kembali diperbincangkan. Pemerintah Aceh mengusulkan beliau sebagai pahlawan nasional atas jasa dan perjuangannya dalam melawan kolonial Belanda. Usulan tersebut menjadi bagian dari upaya mengangkat kembali jejak ulama pejuang Aceh yang memiliki peran besar dalam sejarah perjuangan bangsa. Berita terkait usulan tersebut dapat dibaca di rri.co.id. (*)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....