Akhlak Menjadi Kunci Pemuda Idaman Mertua dalam Islam
- 10 Jul 2026 19:45 WIB
- Banda Aceh
RRI. CO. ID, Banda Aceh — Menjadi menantu yang diidamkan keluarga pasangan bukan ditentukan oleh kekayaan, jabatan, ataupun penampilan semata. Dalam pandangan Islam, akhlak, kejujuran, dan tanggung jawab justru menjadi fondasi utama yang harus dimiliki setiap pemuda sebelum memasuki jenjang pernikahan.
Hal tersebut disampaikan Penyuluh Agama Kementerian Agama Kota Banda Aceh, Iswar, dalam program OSSI (Obrolan Seru Santai Islam) Programa 2 RRI Banda Aceh, Kamis 9 Juli 2026 yang mengangkat tema "Pemuda Idaman Mertua".
Menurut Iswar, banyak orang tua saat ini lebih fokus mempersiapkan pendidikan formal anak hingga sukses secara akademik dan karier. Namun, pembentukan karakter sebagai calon suami maupun calon istri sering kali terabaikan.
"Keberhasilan orang tua bukan hanya ketika anak berhasil sekolah atau memiliki pekerjaan. Yang jauh lebih penting adalah mempersiapkan anak menjadi ayah dan ibu yang bertanggung jawab ketika membangun rumah tangga," ujarnya.
Ia menilai pendidikan keluarga harus dimulai sejak dini. Anak laki-laki maupun perempuan perlu dibimbing agar memahami tanggung jawab setelah menikah, bukan sekadar mengejar status sebagai suami atau istri.
Dalam Islam, kata Iswar, perempuan juga memiliki hak memilih pasangan hidup. Ia mencontohkan kisah pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Siti Khadijah RA, di mana Khadijah memilih Rasulullah karena melihat kejujuran, amanah, dan integritas beliau.
| Baca juga: Cara Memilih Pasangan yang Tepat dalam Islam |
"Perempuan boleh memilih calon suaminya. Yang menjadi pertimbangan utama adalah akhlak, kejujuran, serta rasa tanggung jawab, bukan semata-mata materi," katanya.

Untuk menggambarkan pentingnya karakter, Iswar mengisahkan peristiwa pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Saat berpatroli malam, Umar mendengar seorang gadis menolak mencampurkan susu dengan air meskipun ibunya menyuruh demikian. Gadis itu berkata bahwa meski Umar tidak mengetahui perbuatannya, Allah tetap melihat.
Kejujuran tersebut membuat Umar kemudian menikahkan putranya dengan gadis tersebut. Dari keturunan mereka lahirlah Umar bin Abdul Aziz, sosok khalifah yang dikenal adil dan membawa kesejahteraan bagi rakyatnya.
"Kejujuran melahirkan generasi yang luar biasa. Karena itu, karakter jauh lebih penting dibandingkan penampilan ataupun kekayaan," ujar Iswar.
Ia juga mengangkat kisah Nabi Musa AS yang dinilai layak menjadi menantu karena menjaga pandangan, memiliki kekuatan, serta amanah ketika membantu dua perempuan mengambil air. Menurutnya, kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa akhlak selalu menjadi ukuran utama dalam memilih pasangan.
Menjawab pertanyaan pendengar, Iswar menegaskan bahwa etika dan sopan santun merupakan nilai yang harus dimiliki dalam seluruh aspek kehidupan, bukan hanya saat berinteraksi dengan calon mertua.
Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling baik kepada keluarganya.
"Ukuran seseorang bukan gelar akademik atau seberapa tinggi ilmu agamanya, tetapi bagaimana akhlaknya kepada keluarga, pasangan, orang tua, dan masyarakat," katanya.
Menurutnya, seseorang dapat saja memiliki pendidikan tinggi dan pengetahuan agama yang luas, tetapi jika tidak dibarengi akhlak yang baik, maka ilmu tersebut belum mencerminkan kualitas kepribadian.
Dalam membangun hubungan dengan calon mertua, Iswar menyarankan para pemuda menunjukkan sikap santun, tutur kata yang baik, serta menghormati keluarga pasangan.
Ia menjelaskan bahwa karakter seseorang dapat dikenali dari cara berbicara dan berinteraksi sehari-hari. Namun, menurutnya, sifat asli seseorang baru benar-benar terlihat setelah menjalani kehidupan rumah tangga.
"Selama belum menikah, kita hanya melihat sebagian kecil karakter seseorang. Setelah hidup bersama, barulah sifat aslinya akan tampak," ujarnya.
Iswar menilai kesiapan menikah harus mencakup empat aspek utama, yakni kesiapan mental, pemahaman agama, akhlak, dan kemampuan ekonomi.
Ia mengingatkan agar calon mertua tidak menjadikan kondisi finansial sebagai satu-satunya ukuran dalam memilih menantu.
“Menghargai pekerjaan calon menantu boleh, tetapi jangan sampai mengabaikan agama dan akhlaknya. Rezeki bisa dicari bersama, sedangkan karakter adalah bekal yang menentukan keharmonisan rumah tangga," katanya.
Ia juga mendorong pasangan yang akan menikah membangun keterbukaan, termasuk mengenai kondisi ekonomi, agar tidak menimbulkan prasangka maupun konflik di kemudian hari.
Menutup dialog, Iswar kembali menekankan bahwa pendidikan keluarga merupakan kunci utama dalam mencetak generasi yang siap berumah tangga.
Menurutnya, pembentukan karakter tidak bisa dilakukan hanya beberapa bulan menjelang pernikahan, melainkan harus dimulai sejak anak masih kecil melalui teladan, pendidikan agama, dan pembiasaan akhlak mulia.
“Tujuan pernikahan bukan hanya menjadi suami atau istri, tetapi mempersiapkan diri menjadi ayah dan ibu yang mampu melahirkan generasi yang saleh dan berakhlak”, tuturnya.
Melalui dialog tersebut, RRI Banda Aceh mengajak generasi muda memahami bahwa menjadi pemuda idaman mertua bukanlah persoalan kemewahan hidup ataupun status sosial. Dalam perspektif Islam, kejujuran, tanggung jawab, akhlak yang baik, dan kesiapan menjalani amanah keluarga merupakan bekal utama untuk membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....