Keluarga Jadi Kunci Pendampingan Anak Disabilitas
- 17 Mei 2026 16:56 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh — Keluarga, bukan sekolah, adalah garda terdepan dalam mendampingi anak disabilitas. Tanpa dukungan dan pemahaman dari orang tua, proses pendidikan inklusif akan sulit berjalan maksimal. Hal itu disampaikan Prof. Dr. Abdul Samad, S.Pd., M.App.Ling, Koordinator Program Studi S2 Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Syiah Kuala, saat diwawancara RRI , Minggu, 26 April 2026
Anak disabilitas belajar 24 jam, bukan hanya 6 jam di sekolah. Sisanya bersama keluarga. Kalau keluarga tidak paham, tidak sabar, tidak konsisten, maka intervensi guru di sekolah jadi tidak efektif,” ujar Prof. Abdul Samad.
Menurutnya, peran keluarga mencakup tiga hal utama :
Penerimaan jadi fondasi. Banyak orang tua awalnya mengalami penolakan atau merasa malu ketika anaknya didiagnosis disabilitas. Kondisi ini, kata Prof. Abdul Samad, membuat anak kehilangan dukungan emosional paling dasar.
“Begitu orang tua bisa menerima, baru muncul energi untuk mencari solusi. Anak merasa aman, dan perkembangan kognitif serta sosialnya ikut terangkat,” jelasnya.
Pendampingan sehari-hari juga tak kalah penting. Ia mencontohkan orang tua yang meluangkan waktu melatih komunikasi, kemandirian, dan keterampilan sosial anak di rumah. Hal-hal kecil seperti melatih anak memakai baju sendiri, meminta tolong, atau berinteraksi dengan tetangga, punya dampak besar untuk kemandirian jangka panjang.
“Kolaborasi dengan guru itu wajib. Orang tua harus jadi mitra, bukan hanya penerima laporan. Bawa catatan perkembangan anak dari rumah, sampaikan ke sekolah. Begitu juga sebaliknya,” katanya.
Advokasi keluarga diperlukan untuk memastikan anak mendapatkan hak layanan pendidikan dan kesehatan. Prof. Abdul Samad menyebut masih banyak keluarga yang tidak tahu bahwa anak disabilitas berhak mendapat pendampingan khusus, asesmen, dan akomodasi ujian.
Ia mendorong pemerintah daerah dan kampus memperbanyak pelatihan parenting inklusif untuk orang tua. “Kita tidak bisa hanya melatih guru. Orang tua juga harus dibekali. Mereka butuh pengetahuan, bukan cuma semangat,” ujarnya.
Prof. Abdul Samad menutup dengan menekankan bahwa keberhasilan anak disabilitas tidak diukur dari nilai rapor, tapi dari seberapa mandiri dan percaya dirinya mereka hidup di masyarakat.
“Kalau keluarga kuat mendampingi, anak disabilitas bisa kuliah, kerja, bahkan jadi kontributor sosial. Kuncinya ada di rumah,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....