Pendidikan Tidak Boleh Lepas Dari Konteks Lingkungan
- 08 Mei 2026 19:20 WIB
- Banda Aceh
RRI CO.ID, Banda Aceh - Di tengah arus digitalisasi dan tantangan global, konsep pendidikan yang kembali ke alam justru dinilai sebagai fondasi penting membangun peradaban Indonesia di masa depan. Hal ini ditegaskan Siti Nurhidayah, S.Pd., M.Sc., Pembina Sekolah Alam Kahfis Aceh, saat di wawancara , RRI Jumat 8 Mei 2026
Menurut Siti Nurhidayah, pendidikan tidak boleh lepas dari konteks lingkungan dan nilai-nilai kemanusiaan.
"Sekolah alam bukan sekadar belajar di luar kelas. Ini tentang membentuk manusia yang utuh: cerdas secara intelektual, kuat secara spiritual, dan peka terhadap lingkungan serta sesama," ujarnya.
Di Sekolah Alam Kahfis Aceh, kurikulum dirancang menyatu dengan kearifan lokal dan isu-isu nyata. Siswa diajak menanam, mengelola sampah, hingga berdialog dengan masyarakat sekitar.
"Anak-anak belajar matematika dengan menghitung hasil panen, belajar sains dari ekosistem sungai, dan belajar sejarah dari cerita para tetua gampong. Otaknya jalan, hatinya jalan, tangannya juga jalan," tambah Nurhidayah.
Nurhidayah menilai, krisis peradaban hari ini berakar dari pendidikan yang terlalu seragam dan jauh dari realitas. "Kalau kita ingin Indonesia emas 2045, kita butuh generasi yang tidak hanya pintar ujian, tapi juga mampu berpikir kritis, berkolaborasi, dan punya empati. Peradaban besar lahir dari manusia yang merdeka berpikir dan bertanggung jawab."
Meski konsep sekolah alam makin diminati, Nurhidayah mengakui tantangannya tidak kecil. Stigma "sekolah mahal" dan minimnya dukungan kebijakan masih jadi kendala. "Padahal biaya terbesarnya cuma kemauan. Alam itu ruang belajar paling murah dan paling jujur," tegasnya.
Ia berharap pemerintah daerah dan pusat mulai melirik model pendidikan alternatif sebagai mitra, bukan kompetitor. "Masa depan Indonesia tidak bisa dibangun dengan satu model saja. Kita butuh ekosistem pendidikan yang beragam, agar tiap anak bisa tumbuh sesuai fitrahnya."
Nurhidayah menutup dengan optimisme: "Kalau hari ini kita tanam nilai ke anak lewat tanah, air, dan interaksi nyata, 20 tahun lagi kita akan panen peradaban. Peradaban yang maju, tapi tetap berakar."
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....