Sejarah Mushaf Al-Qur’an Mengandung Hikmah Besar Bagi Umat
- 17 Apr 2026 17:05 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID,Banda Aceh - Program siaran Dialog Kajian Islami yang disiarkan pada Jumat, 17 April 2026 mengangkat tema “Hikmah Dibalik Sejarah Penyusunan Al-Qur'an Hingga Menjadi Sebuah Mushaf.” Dialog ini menghadirkan narasumber Ustad M. Haris Attamimi, Lc., Dipl., mahasiswa S2 Universitas Al-Azhar Mesir sekaligus anggota IKAT Aceh.
Dalam pemaparannya, Ustad Haris menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW selama kurang lebih 23 tahun. Proses bertahap ini bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk kemudahan bagi umat dalam memahami, menghafal, dan mengamalkan isi kandungan wahyu.
“Pada masa Rasulullah SAW, Al-Qur’an lebih banyak dijaga melalui hafalan para sahabat. Namun, sebagian ayat juga sudah dituliskan di berbagai media sederhana seperti pelepah kurma dan tulang,” ujarnya dalam dialog tersebut.
Ia menambahkan, proses pembukuan Al-Qur’an secara sistematis baru dilakukan setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, tepatnya pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Langkah ini diambil setelah banyak para penghafal Al-Qur’an gugur dalam peperangan, sehingga dikhawatirkan terjadi kehilangan sebagian ayat.

Selanjutnya, pada masa Khalifah Utsman bin Affan, dilakukan standarisasi mushaf untuk menyatukan perbedaan bacaan yang mulai muncul di berbagai wilayah Islam. Mushaf Utsmani inilah yang kemudian menjadi rujukan utama umat Islam hingga saat ini.
Menurut Ustad Haris, terdapat banyak hikmah dari proses panjang penyusunan Al-Qur’an tersebut. Salah satunya adalah jaminan keaslian dan kemurnian wahyu yang tetap terjaga dari masa ke masa. Selain itu, penyusunan mushaf juga menjadi sarana pemersatu umat Islam di tengah keberagaman dialek dan wilayah.
| Baca juga: Hikmah di Balik Sejarah Penyusunan Al-Qur’an |
“Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya dijaga secara spiritual, tetapi juga melalui upaya kolektif umat Islam sepanjang sejarah,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa susunan ayat dan surah dalam Al-Qur’an bukanlah hasil rekayasa manusia, melainkan memiliki hikmah dan ketentuan tersendiri yang telah ditetapkan.
Melalui dialog ini, pendengar diajak untuk tidak hanya memahami sejarah penyusunan Al-Qur’an sebagai peristiwa masa lalu, tetapi juga mengambil pelajaran penting tentang pentingnya menjaga wahyu, ilmu, serta persatuan umat.
Program Dialog Kajian Islami diharapkan dapat terus menjadi ruang edukasi keagamaan yang mencerahkan dan memperkuat pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai Islam secara komprehensif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....