Hikmah di Balik Sejarah Penyusunan Al-Qur’an

  • 17 Apr 2026 15:32 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Sejarah penyusunan Al-Qur’an dari lembaran terpisah hingga menjadi mushaf utuh menyimpan hikmah mendalam bagi umat Islam. Hal ini disampaikan Ustadz M. Haris Attamimi, Lc. Dipl., Anggota IKAT Aceh, saat diwawancara RRI, Jumat 17 April 2026

Ustadz Haris menjelaskan, pada masa Rasulullah SAW, Al-Qur’an dijaga melalui hafalan para sahabat dan tulisan di pelepah kurma, kulit, serta tulang. Baru pada era Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, mushaf pertama disusun atas usulan Umar bin Khattab.“

Setelah 70 hafizh gugur di Perang Yamamah, Umar khawatir Al-Qur’an akan hilang. Ini hikmah pertama: Allah menjaga kalam-Nya melalui rasa takut kehilangan di hati sahabat,” ujarnya

Tim yang dipimpin Zaid bin Tsabit kemudian mengumpulkan semua tulisan dan mencocokkannya dengan hafalan sahabat. Syaratnya ketat: harus ada dua saksi tertulis dan hafalan. “Ini mengajarkan kita teliti dan tidak tergesa dalam urusan agama,” tambahnya.

Hikmah kedua muncul pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Saat Islam meluas, muncul perbedaan dialek bacaan yang berpotensi memecah umat. Utsman lalu membentuk panitia untuk menyalin mushaf standar dengan rasm Utsmani dan mengirimkannya ke berbagai wilayah.

“Lihat, Allah menjadikan potensi perpecahan sebagai jalan untuk menyatukan umat dalam satu mushaf. Ini pelajaran bahwa ikhtilaf harus dikelola, bukan dihindari,” jelasnya

Ustadz Haris merangkum 3 hikmah utama dari sejarah mushaf:

  • Jaminan Penjagaan Allah: Proses kodifikasi membuktikan janji Allah dalam QS. Al-Hijr: 9, “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami yang menjaganya.” Manusia hanya wasilah.

  • Pentingnya Ilmu dan Amanah: Zaid bin Tsabit dipilih karena muda, cerdas, teliti, dan pernah jadi penulis wahyu. Artinya, tugas besar harus diamanahkan pada ahlinya.

  • Persatuan di Atas Perbedaan: Standarisasi mushaf Utsmani tidak menghapus 7 huruf/qiraat, tapi menyatukan tulisan. “Beda bacaan boleh, tapi mushaf induknya satu. Ini fondasi ukhuwah,” tegasnya.

Menurut Ustadz Haris, kisah ini mengajak generasi muda untuk kembali ke Al-Qur’an, tidak cukup hanya memiliki mushaf di rumah. “Para sahabat rela mati menjaga Al-Qur’an. Tugas kita sekarang menjaganya dengan membaca, menghafal, dan mengamalkannya.

Ia menutup dengan pesan: “Mushaf yang kita pegang hari ini adalah hasil air mata, darah, dan kehati-hatian sahabat. Jangan sampai kita yang hidup di zaman serba mudah justru lalai.”

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....