Sekolah Rakyat Jadi upaya Putus Rantai Kemiskinan di Aceh
- 17 Sep 2026 09:05 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Subulussalam - Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Subulussalam menjadi upaya pemerintah memperluas akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu. Program tersebut juga diarahkan untuk membantu memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Subulussalam, Heri Sukamto, S.Pd.,M.Pd mengatakan program tersebut menyasar anak dari keluarga pada desil satu dan dua.
"Data awalnya adalah masyarakat yang berada di desil satu dan desil dua," kata Heri dalam Dialog Beranda Asta Cita RRI Banda Aceh, Rabu, 16 September 2026.
Heri menjelaskan, data calon siswa berasal dari Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional atau DTSEN. Data tersebut kemudian diverifikasi melalui pendamping Program Keluarga Harapan dan pihak terkait.
Menurutnya, sekolah rakyat juga menerima anak yang berpotensi putus sekolah karena persoalan ekonomi. Siswa tersebut dapat direkomendasikan sekolah asal setelah melalui proses verifikasi.
Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Subulussalam tidak membebankan biaya pendidikan kepada siswa. Mereka juga memperoleh kebutuhan pendidikan, makanan, pakaian, perlengkapan belajar, serta layanan kesehatan.
Heri mengatakan sekolah rakyat menggunakan kurikulum Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah seperti sekolah reguler. Program tersebut juga menambahkan kurikulum vokasional dan pembentukan karakter melalui kegiatan keasramaan.
"Kalau siswa memiliki minat dan bakat di keterampilan, kami akan menguatkan keterampilan mereka," ujarnya.
Untuk anak yang mengalami kesulitan akses pendidikan, sekolah rakyat menerapkan mekanisme jemput bola. Pemerintah setempat juga menyiapkan kendaraan untuk menjemput siswa yang terkendala akses transportasi.
Heri menyebut sekolah rakyat menerapkan sistem multi entry dan multi exit bagi anak yang pernah putus sekolah. Siswa mengikuti matrikulasi selama tiga bulan untuk memetakan kompetensi sebelum ditempatkan sesuai kemampuan.
Ia menambahkan, pendampingan siswa dilakukan selama 24 jam melalui wali asuh dan wali asrama. Sekolah juga melibatkan psikolog untuk membantu menangani persoalan sosial dan psikologis siswa.
Heri berharap lulusan sekolah rakyat dapat melanjutkan pendidikan tinggi, bekerja sebagai aparatur, atau mengembangkan keterampilan vokasional. Menurutnya, pendidikan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup siswa dan keluarganya.
"Saya berharap keluarga yang mendapat kesempatan mengakses sekolah rakyat tidak ragu mengambil kesempatan tersebut," kata Heri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....