Organisasi Relevan Cetak Pemuda Kreatif Era Digital
- 25 Jun 2026 18:28 WIB
- Banda Aceh
RRI. CO. ID, Banda Aceh - Organisasi dinilai masih menjadi ruang penting bagi generasi muda untuk belajar memimpin, membangun jejaring, mengembangkan karya, serta menumbuhkan kepedulian sosial di tengah perkembangan era digital yang semakin pesat. Hal tersebut mengemuka dalam program CCK (Cek Cerita Kamu) RRI Banda Aceh Pro 2 dengan tema “Berorganisasi, Bergerak, Berkarya dan Mengabdi untuk Negeri”, Rabu 24 Juni 2026.
Dialog yang menghadirkan M. Haikal Attari Al Qadiri, Head Education Department NGO Dawateislami Indonesia, dan Yusril Mubarak, Ketua Umum PD PII Pidie Jaya, membahas pentingnya keterlibatan generasi muda dalam organisasi sebagai sarana pengembangan diri sekaligus kontribusi bagi masyarakat.
Haikal mengatakan organisasi bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan wadah untuk bertumbuh melalui pengalaman, relasi, dan pembelajaran yang tidak selalu diperoleh di bangku sekolah maupun perguruan tinggi.
Menurutnya, keterlibatan dalam organisasi telah membentuk kemampuan komunikasi, kepemimpinan, serta keberanian untuk berinteraksi dengan berbagai kalangan masyarakat. Ia mengaku mulai aktif berorganisasi sejak duduk di bangku SMP melalui Pelajar Islam Indonesia (PII).
“Di organisasi kita belajar banyak hal, mulai dari membangun relasi, memperluas wawasan, hingga mengasah kemampuan memimpin. Hal-hal seperti ini sangat dibutuhkan untuk masa depan,” ujarnya.
Pengalaman berorganisasi juga membawanya mengikuti berbagai kegiatan internasional. Haikal mengungkapkan dirinya telah dua kali mengikuti konferensi di Pakistan bersama NGO Dawateislami Indonesia. Baginya, kesempatan tersebut menjadi bukti bahwa organisasi dapat membuka akses yang lebih luas bagi anak muda untuk berkembang di tingkat nasional maupun internasional.
Sementara itu, Yusril Mubarak menilai organisasi memiliki peran penting dalam membentuk karakter kepemimpinan generasi muda. Ia mengawali kiprahnya melalui Leadership Basic Training (LBT) PII yang mengajarkan berbagai keterampilan, seperti public speaking, storytelling, dan manajemen organisasi.
“Organisasi mengajarkan bagaimana bekerja sama, menyelesaikan masalah, menerima kritik, dan memimpin tim. Pengalaman seperti ini sangat berharga bagi anak muda,” katanya.
Yusril yang kini memasuki akhir masa jabatannya sebagai Ketua Umum PD PII Pidie Jaya mengakui bahwa memimpin organisasi tidak terlepas dari berbagai tantangan. Namun, menurutnya, setiap hambatan harus dipandang sebagai proses pembelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Dalam dialog tersebut, kedua narasumber juga menyoroti anggapan bahwa organisasi hanya menyita waktu. Mereka menilai pandangan tersebut kurang tepat karena organisasi justru menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan diri dan memperluas pengalaman sosial.
Haikal menegaskan bahwa waktu yang digunakan untuk kegiatan positif tidak dapat dianggap sebagai pemborosan. Bahkan, banyak keterampilan yang dibutuhkan dalam dunia kerja lahir dari pengalaman berorganisasi.
“Banyak soft skill yang tidak diajarkan secara formal di sekolah, tetapi justru diperoleh melalui organisasi. Mulai dari kepemimpinan, komunikasi, hingga kemampuan menyelesaikan konflik,” ujarnya.
Menanggapi tantangan generasi muda di era digital, kedua narasumber sepakat bahwa organisasi tetap relevan. Mereka menilai media sosial dan teknologi seharusnya menjadi sarana untuk memperkuat karya dan kontribusi, bukan alasan untuk mengurangi interaksi sosial.
Haikal mendorong generasi muda memanfaatkan media sosial sebagai wadah personal branding dan menunjukkan kemampuan yang dimiliki. Menurutnya, keterampilan yang dipublikasikan secara positif dapat menjadi nilai tambah bagi masa depan.
Selain itu, konsistensi dinilai menjadi kunci utama dalam berkarya dan mengabdi. Haikal mengajak generasi muda untuk membangun kebiasaan kecil yang dilakukan secara berkelanjutan, karena perubahan besar selalu dimulai dari langkah sederhana.
Di akhir dialog, kedua narasumber mengajak pemuda Aceh untuk berani mengambil peran sebagai pemimpin dan pelaku perubahan. Mereka menilai Aceh membutuhkan generasi muda yang tidak hanya menjadi penonton, tetapi mampu menciptakan karya, membangun daerah, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Jangan takut memimpin. Mulailah dari hal-hal kecil. Aceh membutuhkan anak-anak muda yang siap bergerak, berkarya, dan membawa perubahan,” kata Yusril.
Pesan serupa disampaikan Haikal yang mengajak generasi muda meneladani semangat para tokoh besar Aceh dalam membangun daerah. Menurutnya, masa depan Aceh berada di tangan generasi muda yang berani berorganisasi, bergerak, dan mengabdi untuk negeri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....