Generasi Muda Aceh Jadi Penggerak Gerakan Lingkungan Berkelanjutan

  • 10 Feb 2026 17:38 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh – Peran generasi muda dalam menjaga lingkungan di Aceh kian nyata dan tidak lagi sebatas wacana. Anak-anak muda kini tampil sebagai penggerak berbagai aksi lingkungan, mulai dari kegiatan relawan bencana, penanaman pohon, rehabilitasi mangrove, hingga kampanye isu lingkungan melalui media sosial.

Hal tersebut mengemuka dalam dialog Green Radio RRI Pro 1 Banda Aceh pada Sabtu (7/2/2026) dengan bertajuk Generasi Muda dan Gerakan Lingkungan di Aceh, yang menghadirkan Direktur Penelitian dan Pengembangan Yayasan Lauser Internasional, Renaldi Safriansyah. Ia menilai, keterlibatan anak muda Aceh menunjukkan arah yang positif dan berada di jalur yang tepat.

“Anak muda di Aceh tidak lagi sekadar menjadi penonton, tetapi sudah bertransformasi menjadi penggerak. Mereka hadir di lapangan sebagai relawan banjir, terlibat dalam penanaman pohon dan mangrove, hingga aktif memviralkan isu lingkungan di media sosial,” ujar Renaldi.

Menurutnya, generasi muda memiliki peran strategis karena kreativitas, literasi teknologi, serta daya adaptasi yang tinggi. Modal tersebut membuat mereka mampu memahami isu lingkungan secara lebih luas, termasuk dampak perubahan iklim yang kini dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Perubahan iklim, kata Renaldi, menjadi isu lingkungan yang paling dekat dengan generasi muda Aceh. Suhu udara yang semakin panas, cuaca ekstrem, banjir berulang, kebakaran lahan, hingga deforestasi akibat pembalakan liar dan aktivitas pertambangan ilegal menjadi realitas yang tidak terpisahkan dari keseharian masyarakat.

“Setiap hari kita berhadapan dengan perubahan iklim. Ini bukan lagi isu masa depan, tapi isu hari ini. Anak muda akan menjadi generasi yang paling merasakan dampak buruknya jika tidak ada upaya serius sejak sekarang,” katanya.

Direktur Penelitian dan Pengembangan Yayasan Lauser Internasional, Renaldi Safriansyah,dalam dialog Green Radio RRI Pro 1 Banda Aceh bertajuk Generasi Muda dan Gerakan Lingkungan di Aceh,pada Sabtu (7/2).       Foto : RRI/Lis 

Meski kesadaran generasi muda terhadap lingkungan terus meningkat, Renaldi mengakui masih terdapat tantangan. Minimnya fasilitas pendukung, seperti sarana pengelolaan sampah dan tempat pembuangan akhir yang memadai, menjadi salah satu kendala. Selain itu, literasi lingkungan yang belum merata juga membuat sebagian anak muda belum sepenuhnya memahami pentingnya jasa lingkungan bagi kehidupan.

“Banyak yang belum tahu manfaat lingkungan sampai dampaknya benar-benar dirasakan. Ini persoalan literasi yang perlu terus diperkuat,” ujarnya.

Dalam upaya melibatkan generasi muda, Yayasan Lauser Internasional telah menjalankan berbagai program, antara lain penanaman dua juta pohon penaung di perkebunan kopi dataran tinggi Gayo, pemantauan satwa kunci seperti harimau Sumatra, serta pendidikan lingkungan bagi pelajar. Anak muda terlibat sebagai agronomis, ranger, hingga fasilitator edukasi di sekolah-sekolah.

Renaldi juga menyoroti peran pendidikan formal yang mulai bergerak ke arah pembelajaran kontekstual. Kurikulum lingkungan hidup di tingkat SMA dan SMK, penguatan Profil Pelajar Pancasila dengan tema gaya hidup berkelanjutan, hingga inovasi mahasiswa melalui program pengabdian masyarakat dinilai berdampak positif terhadap peningkatan kesadaran lingkungan.

Di era digital, media sosial menjadi sarana penting bagi generasi muda untuk menyuarakan dan menggerakkan aksi lingkungan. Platform seperti Instagram dan TikTok dimanfaatkan untuk mengampanyekan penghematan energi, pengurangan sampah plastik, serta ajakan menjaga alam melalui pendekatan kreatif dan inklusif.

“Dulu isu lingkungan terkesan eksklusif dan hanya dibahas kalangan tertentu. Sekarang narasinya berubah, lebih inklusif, dan dekat dengan anak muda. Bahkan muncul narasi baru seperti perubahan iklim dan keadilan iklim,” kata Renaldi.

Ia menekankan, langkah paling sederhana bagi anak muda yang ingin peduli lingkungan adalah memulai dari diri sendiri. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa botol minum dan wadah makan, memilah sampah di rumah, serta menghemat energi dan air merupakan aksi kecil yang berdampak besar jika dilakukan secara konsisten.

Peran komunitas dan organisasi kepemudaan juga dinilai sangat penting sebagai katalis gerakan lingkungan. Dukungan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dibutuhkan, terutama dalam penyediaan sarana prasarana, penguatan kapasitas manajerial, serta dukungan kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan.

Menutup dialog, Renaldi menyampaikan harapannya agar generasi muda Aceh tidak hanya menjadi saksi, tetapi juga penjaga kelestarian alam. Ia mendorong anak muda untuk berani bersuara, mengawal kebijakan, serta mengintegrasikan kearifan lokal dalam praktik menjaga lingkungan.

“Jangan menunggu perubahan, tetapi jadilah perubahan itu sendiri. Aceh bukan hanya warisan, melainkan titipan untuk masa depan. Aksi-aksi kecil hari ini akan menentukan kualitas lingkungan bagi generasi mendatang,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....