Arsip Tsunami Aceh Jadi Kompas Indonesia Emas 2045

  • 12 Jun 2026 17:28 WIB
  •  Banda Aceh

RRI. CO. ID, Banda Aceh - Arsip tidak lagi dipandang sekadar kumpulan dokumen masa lalu, tetapi menjadi sumber pengetahuan dan pembelajaran untuk membangun masa depan bangsa. Semangat itu mengemuka dalam Talkshow Luar Studio RRI Banda Aceh yang berlangsung di Mal Pelayanan Publik (MPP) Pasar Aceh, Kamis 11 Juni 2026 dalam rangka memperingati Hari Kearsipan ke-55 Tahun 2026.

Mengusung tema Empowering the Future: Kearsipan untuk Memberdayakan Masa Depan Menuju Indonesia Emas 2045”, kegiatan tersebut menghadirkan Kurator Pameran Balai Arsip Statis dan Tsunami Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Eka Husnul Hidayati, Ketua Tim Layanan dan Pemanfaatan Arsip Balai Arsip Statis dan Tsunami ANRI Farhan Muhammad Uzair, serta Peneliti dan Pengamat Kebencanaan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Dr. Alfi Rahman.

Dalam kesempatan itu, Eka Husnul Hidayati menjelaskan bahwa pameran arsip tsunami bertajuk Pijar: Cahaya Keteguhan, Kompas Masa Depan” merupakan agenda tahunan yang diselaraskan dengan tema Hari Kearsipan Nasional tahun ini.

Menurutnya, pameran tersebut sengaja ditempatkan di ruang publik agar masyarakat lebih dekat dengan arsip tsunami dan dapat memahami nilai-nilai ketangguhan yang lahir dari peristiwa gempa dan tsunami Aceh 2004.

"Kami ingin menampilkan sisi manusia atau human resilience. Sosok-sosok tangguh yang berhasil bangkit dari tragedi besar menjadi inspirasi bahwa membangun masa depan harus dimulai dari manusia yang kuat dan tangguh," ujarnya.

Eka mengatakan arsip yang dipamerkan tidak hanya menampilkan penyintas, tetapi juga relawan lokal dan internasional, aparat pemerintah, hingga masyarakat yang bahu-membahu membangun kembali Aceh setelah bencana.

Menurutnya, solidaritas dan semangat bangkit yang terekam dalam arsip merupakan modal penting dalam membentuk karakter generasi menuju Indonesia Emas 2045.

Sementara itu, Farhan Muhammad Uzair menegaskan bahwa arsip memiliki fungsi strategis sebagai sumber pengetahuan untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Ia mengatakan pameran tersebut bertujuan menunjukkan bahwa arsip bukan hanya menyimpan sejarah, tetapi juga menghadirkan pelajaran berharga tentang ketangguhan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana.

"Kami berharap generasi muda dapat memahami bagaimana tsunami mengubah perjalanan Aceh, bagaimana proses rehabilitasi dan rekonstruksi berlangsung, serta bagaimana masyarakat bangkit hingga menjadi seperti sekarang," katanya.

Farhan menjelaskan Balai Arsip Statis dan Tsunami ANRI terus melakukan akuisisi, pengolahan, preservasi, restorasi, hingga digitalisasi arsip tsunami agar dapat diakses generasi mendatang.

Selain pameran, pihaknya juga rutin menyelenggarakan program Edukasi Tsunami dan Arsip yang melibatkan pelajar dan mahasiswa untuk meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya mitigasi bencana serta perlindungan arsip keluarga.

Menurut Farhan, arsip keluarga seperti ijazah, sertifikat tanah, dan dokumen penting lainnya perlu dijaga karena sering menjadi persoalan baru ketika bencana terjadi.

Kurator Pameran Balai Arsip Statis dan Tsunami Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Eka Husnul Hidayati, Ketua Tim Layanan dan Pemanfaatan Arsip Balai Arsip Statis dan Tsunami ANRI Farhan Muhammad Uzair, serta Peneliti dan Pengamat Kebencanaan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Dr. Alfi Rahman, dalam Talkshow Luar Studio RRI Banda Aceh yang berlangsung di Mal Pelayanan Publik (MPP) Pasar Aceh, Kamis (11/6). Foto : RRI/Lis

Di sisi lain, Dr. Alfi Rahman menilai memori tsunami Aceh harus terus diwariskan karena menjadi sumber pembelajaran penting dalam membangun budaya kesiapsiagaan masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa tingginya jumlah korban pada tsunami 2004 salah satunya disebabkan minimnya pengetahuan masyarakat mengenai risiko bencana saat itu.

"Kita belajar bahwa pengetahuan risiko merupakan kunci utama dalam pengurangan risiko bencana. Masyarakat harus mengetahui ancaman yang mungkin dihadapi agar mampu mengambil keputusan yang tepat saat bencana terjadi," ujarnya.

Alfi menambahkan berbagai penelitian menunjukkan pentingnya menjaga memori kolektif bencana agar generasi yang lahir setelah tsunami tetap memahami risiko yang ada di wilayah Aceh.

Menurutnya, tantangan saat ini adalah semakin banyak generasi muda yang tidak mengalami langsung peristiwa tsunami dan perubahan lanskap perkotaan yang membuat jejak-jejak bencana semakin sulit dikenali.

Karena itu, ia mengapresiasi upaya ANRI dan berbagai pihak yang memanfaatkan arsip sebagai media edukasi kebencanaan.

Alfi juga menekankan bahwa arsip tsunami Aceh yang telah diakui UNESCO sebagai Memory of the World menjadi bukti bahwa pengalaman Aceh memiliki nilai pembelajaran bagi masyarakat dunia.

"Peristiwa yang kita alami di masa lalu harus menjadi harapan dan pembelajaran. Dari pengalaman tsunami, kita belajar untuk lebih siap menghadapi berbagai tantangan dan risiko di masa depan," katanya.

Melalui peringatan Hari Kearsipan ke-55, para narasumber sepakat bahwa arsip tidak hanya berfungsi sebagai rekaman sejarah, tetapi juga menjadi kompas masa depan yang membantu masyarakat membangun ketangguhan, memperkuat kesiapsiagaan, dan menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Pameran arsip tsunami Pijar: Cahaya Keteguhan, Kompas Masa Depan masih berlangsung di MPP Kota Banda Aceh hingga 12 Juni 2026 dan terbuka bagi masyarakat umum sebagai ruang belajar tentang sejarah, solidaritas, serta ketangguhan Aceh pascatsunami.unami.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....