Aceh Green Conservation Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

  • 12 Mei 2026 12:49 WIB
  •  Banda Aceh

RRI. CO. ID, Banda Aceh – Persoalan sampah perkotaan di Aceh dinilai masih menjadi tantangan serius yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, komunitas, hingga generasi muda. Hal tersebut mengemuka dalam Dialog Green Radio Programa 1 RRI Banda Aceh, Sabtu 9 Mei 2026 dengan tema “Pengelolaan Sampah Perkotaan: Upaya dan Tantangan”.

Narasumber dialog, Nurulyana Daba, S.Pd., selaku Kepala Biro Organisasi Yayasan Aceh Green Conservation (AGC), mengatakan produksi sampah rumah tangga terus meningkat setiap tahun, terutama di kawasan perkotaan dan pusat aktivitas ekonomi seperti warung kopi.

Menurutnya, fenomena menjamurnya coffee shop di sejumlah daerah Aceh turut berdampak pada meningkatnya penggunaan sampah plastik sekali pakai, seperti gelas dan kantong plastik.

“Kekhawatiran kita adalah ketika sampah semakin banyak, maka kerusakan lingkungan juga akan semakin cepat terjadi,” kata Nurulyana.

Ia menjelaskan, AGC selama ini fokus melakukan advokasi kebijakan pengelolaan sampah terintegrasi, termasuk mendorong program bank sampah di tingkat desa. Salah satu pilot project dijalankan di Desa Blang Hasan, Kabupaten Bireuen.

Melalui program tersebut, masyarakat diajak memilah sampah rumah tangga menjadi sampah organik dan anorganik. Sampah yang telah dipilah kemudian dikumpulkan dan dibeli oleh desa sebelum diteruskan kepada dinas terkait.

Nurulyana Daba, S.Pd., selaku Kepala Biro Organisasi Yayasan Aceh Green Conservation (AGC),dalam Dialog Green Radio Programa 1 RRI Banda Aceh, Sabtu (9/5). Foto : RRI/Lis.

Menurut Nurulyana, pendekatan ekonomi menjadi salah satu cara efektif meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah.

“Masyarakat akhirnya melihat bahwa sampah bukan hanya untuk dibuang, tetapi juga memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.

Ia menyebutkan, sejumlah desa di Bireuen kini mulai memanfaatkan limbah organik seperti pelepah pinang menjadi produk UMKM bernilai jual tinggi. Produk tersebut bahkan telah dipasarkan hingga tingkat nasional.

Selain itu, sampah plastik juga mulai dimanfaatkan menjadi berbagai kerajinan tangan seperti tas, meja, hingga sofa.

Nurulyana menilai perubahan pola pikir masyarakat menjadi kunci utama dalam menyelesaikan persoalan sampah. Ia mengajak masyarakat mengubah kebiasaan “kumpul-angkut-buang” menjadi “pilah-kelola-manfaatkan”.

“Kalau mindset masyarakat berubah, maka sampah tidak lagi dipandang sebagai barang tidak berguna, tetapi sebagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan kembali,” katanya.

Dalam dialog tersebut, ia juga menyoroti pentingnya peran perempuan, khususnya ibu rumah tangga, dalam pengelolaan sampah domestik. Menurutnya, sebagian besar sampah rumah tangga berasal dari aktivitas belanja dan dapur yang sehari-hari banyak dilakukan oleh ibu-ibu.

Karena itu, AGC kerap melakukan pendekatan melalui kelompok pengajian, posyandu, dan komunitas perempuan untuk meningkatkan kesadaran memilah sampah sejak dari rumah.

“Ibu-ibu memiliki peran paling dekat dengan pengelolaan sampah rumah tangga, sehingga mereka menjadi kunci perubahan,” ujarnya.

Nurulyana juga menilai masih terdapat kesenjangan layanan persampahan antara kawasan perkotaan dan pinggiran kota. Di sejumlah desa, fasilitas tempat sampah dan layanan pengangkutan masih minim sehingga masyarakat memilih membuang sampah ke sungai atau saluran irigasi.

Ia berharap pemerintah daerah dapat memperluas akses layanan persampahan hingga wilayah pinggiran agar pengelolaan sampah lebih merata.

Selain itu, Nurulyana mencontohkan Kota Surabaya sebagai salah satu daerah yang berhasil mengelola sampah melalui kolaborasi pemerintah dan pihak ketiga. Menurutnya, inovasi seperti pembayaran transportasi umum menggunakan botol plastik bekas mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah.

Menutup dialog, ia mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjadi agen perubahan dalam menjaga lingkungan.

“Persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama. Generasi muda harus hadir membawa inovasi dan edukasi agar kesadaran lingkungan terus tumbuh,” kata Nurulyana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....