Perubahan Iklim Picu Peningkatan Suhu Panas Aceh

  • 08 Mar 2026 16:16 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh : Suhu panas yang dirasakan masyarakat di berbagai wilayah Aceh dalam beberapa waktu terakhir berkaitan erat dengan krisis iklim global dan perubahan pola cuaca musiman. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Yopi Ilhamsyah, Ketua Divisi Hidrometeorological Hazard & Climate Change pada Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala, dalam siaran program Green Radio di Radio Republik Indonesia (RRI) Banda Aceh, Sabtu (7/3/2026).

Menurut Yopi, suhu panas ekstrem yang terjadi saat ini tidak dapat dilepaskan dari fenomena perubahan iklim yang menyebabkan peningkatan suhu rata-rata global. Kondisi tersebut membuat beberapa wilayah mengalami cuaca yang lebih panas dan kering dibandingkan biasanya.

“Panas ekstrem yang kita rasakan merupakan bagian dari dampak perubahan iklim. Suhu udara meningkat karena akumulasi gas rumah kaca di atmosfer yang menahan panas bumi,” kata Yopi dalam siaran tersebut.

Ia menjelaskan bahwa secara musiman, wilayah utara Aceh memang sedang berada pada periode yang relatif kering. Sementara itu, beberapa daerah lain di Indonesia, terutama wilayah selatan, justru masih mengalami hujan. Perbedaan pola cuaca ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer dan kondisi geografis masing-masing wilayah.

Dr. Yopi Ilhamsyah, Ketua Divisi Hidrometeorological Hazard & Climate Change pada Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala, dalam siaran program Green Radio di Radio Republik Indonesia (RRI) Banda Aceh, Sabtu (7/3). Foto : RRI/Lis

Di Aceh sendiri, faktor topografi juga memengaruhi distribusi curah hujan. Yopi menyebutkan bahwa wilayah barat dan selatan Aceh cenderung lebih sering menerima hujan karena menjadi daerah pertama yang dilalui massa udara lembap dari laut. Sebaliknya, wilayah utara dan timur bisa mengalami kondisi lebih kering setelah awan kehilangan sebagian besar kandungan uap airnya di daerah pegunungan.

Kondisi panas dan kering yang berkepanjangan dapat menimbulkan sejumlah dampak bagi masyarakat. Dari sisi kesehatan, suhu tinggi berpotensi meningkatkan risiko dehidrasi, gangguan kebersihan lingkungan, hingga penyakit yang berkaitan dengan sanitasi dan vektor seperti nyamuk.

Selain itu, sektor pertanian juga menghadapi tantangan serius. Menurut Yopi, berkurangnya ketersediaan air dapat mengganggu sistem irigasi dan menyebabkan lahan pertanian, khususnya sawah tadah hujan, mengalami kekeringan.

“Jika kondisi ini berlangsung lama, maka produksi pangan bisa terpengaruh karena tanaman membutuhkan air yang cukup untuk tumbuh,” ujarnya.

Di sisi lain, Yopi menilai bahwa kondisi cuaca panas tidak selalu berdampak negatif bagi semua sektor. Bagi sebagian nelayan, cuaca yang relatif tenang justru dapat memudahkan aktivitas melaut karena gelombang dan angin cenderung lebih stabil.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa upaya mitigasi perubahan iklim tetap menjadi hal penting yang harus dilakukan bersama. Salah satu langkah yang dapat dilakukan masyarakat adalah menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan ruang terbuka hijau.

Menurutnya, pepohonan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan iklim lokal karena mampu menyerap karbon dioksida dan membantu menurunkan suhu lingkungan.

“Penanaman dan pelestarian pohon menjadi langkah sederhana tetapi penting untuk mengurangi dampak pemanasan,” kata Yopi.

Ia juga mengingatkan bahwa alih fungsi lahan dan berkurangnya kawasan hijau di berbagai wilayah dapat memperparah peningkatan suhu. Oleh karena itu, perencanaan pembangunan perlu memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan infrastruktur dan keberlanjutan lingkungan.

Melalui diskusi di Green Radio RRI Banda Aceh, Yopi berharap masyarakat semakin memahami bahwa fenomena panas ekstrem bukan sekadar cuaca biasa, melainkan bagian dari tantangan krisis iklim yang membutuhkan kesadaran dan tindakan bersama.

Rekomendasi Berita