Peran Konselor Kunci Dukung Tumbuh Kembang Anak Disabilitas
- 26 Jan 2026 10:18 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Pendampingan anak disabilitas tidak dapat dilakukan secara parsial atau sepihak. Dibutuhkan proses tumbuh bersama yang melibatkan anak, orang tua, pendidik, konselor, hingga lingkungan sosial agar perkembangan anak berjalan optimal dan bermakna.
Hal tersebut disampaikan Konselor Anak dan Remaja sekaligus Koordinator Kesetaraan PKBM Bintang Kecil, Saufa Yu’tika, S.Psi., dalam dialog Ruang Disabilitas dan Inklusi di Pro 1 RRI Banda Aceh, Minggu (25/1/2026).
Menurut Saufa, konsep tumbuh bersama menempatkan anak disabilitas bukan sebagai objek pendampingan semata, melainkan sebagai subjek yang berkembang bersama orang-orang di sekitarnya. “Ketika anak belajar, kita juga belajar. Anak dan pendampingnya sama-sama bertumbuh,” ujarnya.
Saufa menjelaskan, tantangan psikologis anak disabilitas masih sangat besar, terutama akibat stigma sosial dan minimnya pemahaman masyarakat. Berdasarkan berbagai temuan, anak disabilitas rentan mengalami tekanan psikologis dua hingga tiga kali lebih besar dibandingkan anak tipikal, akibat perlakuan diskriminatif dan keterbatasan kesempatan.

Konselor Anak dan Remaja sekaligus Koordinator Kesetaraan PKBM Bintang Kecil, Saufa Yu’tika, S.Psi., dalam dialog Ruang Disabilitas dan Inklusi di Pro 1 RRI Banda Aceh, Minggu (25/1). Foto : RRI/Lis
Dalam konteks ini, peran konselor menjadi krusial, khususnya dalam membangun kepercayaan diri anak. Saufa menekankan bahwa pendekatan awal konseling harus berfokus pada bonding dan kelekatan emosional. “Kepercayaan diri adalah pintu masuk. Ketika anak sudah percaya dan merasa diterima, proses terapi dan pembelajaran akan jauh lebih mudah,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya pendekatan berbasis kekuatan anak (person-centered dan strength-based approach), yakni dengan menggali bakat dan minat anak sebagai bagian dari dukungan kesehatan mental. Kegiatan seperti memasak, berkebun, atau aktivitas kreatif lainnya dinilai mampu membantu anak merasa setara dan memiliki nilai.
Selain konselor, Saufa menegaskan bahwa kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan pendamping merupakan kunci keberhasilan pendampingan. Ketidaksamaan visi antara rumah dan sekolah, menurutnya, dapat membuat anak kehilangan arah dan mengalami kemunduran perkembangan. “Anak tidak boleh menerima pesan yang saling bertentangan,” ujarnya.
Dalam bidang pendidikan inklusi, Saufa menilai masih terdapat tantangan besar, terutama terkait pemahaman guru dan sekolah tentang konsep inklusi itu sendiri. Ia menilai inklusi bukan sekadar menyatukan anak disabilitas dan anak tipikal dalam satu ruang kelas, melainkan menyediakan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.
Melalui PKBM Bintang Kecil, Saufa dan tim mengembangkan ruang belajar ramah anak berbasis green learning, dengan memanfaatkan alam sebagai media pembelajaran. Menurutnya, lingkungan alam memberi ruang yang lebih aman bagi anak disabilitas untuk mengekspresikan emosi dan mengembangkan potensi diri.
Saufa juga menekankan pentingnya deteksi dan intervensi dini, terutama pada usia emas 0–5 tahun. Deteksi sejak dini memungkinkan pendampingan yang lebih efektif dan mempercepat perubahan positif, asalkan didukung konsistensi keluarga di rumah.
Menutup dialog, Saufa mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap anak disabilitas. “Anak disabilitas tidak perlu dikasihani, tetapi diberi kesempatan yang sama untuk belajar, bertumbuh, dan berkarya,” katanya. Ia menegaskan bahwa pendampingan anak disabilitas bukan hanya tanggung jawab konselor atau pendidik, melainkan tanggung jawab bersama sebagai masyarakat inklusif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....