Petani 'Punk' di Gunungkidul, Jadi Pemasok bagi Dapur MBG
- 18 Apr 2026 06:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- 1. Komunitas Petani Punk di Gunungkidul, Yogyakarta mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG)
- 2. Komunitas Petani Punk didirikan tahun 2018, dengan beranggotakan anak-anak punk yang selama ini tinggal di jalan
- 3. Keberadaan komunitas berawal dari kekhawatiran hilangnya sawah karena tidak ada anak muda yang menjadi petani
RRI.CO.ID, Gunungkidul - Komunitas Petani Punk di Gunungkidul, Yogyakarta menjadi salah satu pemasok bahan pangan untuk dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka memberikan dukungan untuk program MBG yang merupakan program prioritas Presiden Prabowo Subianto.
Pendiri komunitas Petani Punk, Pratisna Sibag mengatakan program MBG tidak hanya sebagai peluang ekonomi namun sebagai kontrol sosial. Sibag dan anak punk lainnya, akan mengkritik keras jika ada penyimpangan di dapur MBG.
“Kami ini kalau salah ya bilang salah, kalau benar ya jalan terus. Kalau besok di dapur MBG ada yang tidak beres, suara kami akan lebih kencang dari siapa pun karena kami ada di dalamnya,” kata Sibag, seperti dalam keterangan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Jumat, 17 April 2026.
Komunitas Petani Punk memiliki kontribusi ganda untuk kesuksesan program MBG. Keberadaan petani punk, tidak hanya berkontribusi pada ketahanan pangan lokal tetapi menjaga transparansi dan kualitas MBG.
Kilas balik komunitas Petani Punk
Komunitas Petani Punk didirikan pada tahun 2018 dengan insiator adalah Sibag. Ia mengatakan komunitas lahir karena kegelisahan mendapati anak muda yang enggan untuk menjadi petani.
Anak muda yang semakin jauh untuk bertani. Bagi Sibag, fenomena tersebut bukan sekadar pemandangan biasa, tapi tanda bahaya.
Apabila tidak anak muda yang bertani, ada kekhawatiran sawah akan semakin hilang. Tentu ini menjadi kondisi berbahaya bagi ketahanan pangan.
“Kita mentertawakan petani-petani tua di lahan. Tapi pas pulang, kita sadar bahwa 10 sampai 20 tahun lagi, mungkin sudah tidak ada petani,” kata Sibag.
Sibag mengatakan kesadaran sederhana tersebut menjadi titik balik bagi anak-anak punk yang selama ini mendapat stigma negatif dari masyarakat. Puluhan anak punk mulai belajar mencangkul, menyemprot, hingga memupuk tanaman.
Anak punk, tidak lagi menggelandang di jalan , dianggap menganggu ketertiban dan kenyamanan masyarakat. Anak-anak punk mulai akrab untuk menanam aneka sayuran seperti terong, bercocok tanam di sawah.
Komunitas Petani Punk semakin berkembang dan menjadi penggerak perubahan sosial di masyarakat. Bahkan 40 anak punk yang semakin terlatih, menjadi pendamping bagi 120 pemuda di Padukuhan Kalangan, Yogyakarta untuk bertani.
Sibag dan anak punk lainnya menilai untuk menjadi sukses, tidak harus merantau ke kota besar untuk menjadi buruh. Baginya menjadi petani dengan mengolah sendiri lahan, dapat memberikan dampak luas bagi perekonomian, tidak hanya untuk keluarga tetapi masyarakat.
Sibag mengakui pernah menggadaikan sertifikat rumah orang tua demi belajar bertani. Kini, kerja keras itu terbayar, dengan hasil panen yang berlimpah.
Dari hasil panen, Sibag dapat melunasi tanggungan, dan yang paling penting membuktikan bahwa mereka mampu bertani. Dari aksi nekat menggadaikan sertifikat rumah, kini Sibag mampu mengangkat derajat ekonomi keluarga.
“Kami sampai menggadaikan sertifikat tanah orang tua saya, yang di atasnya ada rumah, jujur, kami takut. Kalau gagal, orang tua kami bisa kehilangan tempat tinggal tapi saat itu kami nekat,” katanya.
Sepak terjang komunitas Petani Punk semakin diakui oleh masyarakat sekitar. Warga memberikan kepercayaan dengan menghibahkan lahan seluas 800-1.500 meter persegi untuk dikelola menjadi pertanian subur.
Masyarakat menikmati hasil panen dari lahan pertanian yang dikelola komunitas Petani Punk. Kegiatan masyarakat mulai perayaan 17 Agustus, kegiatan pemuda hingga acara pergantian tahun baru, didanai oleh komunitas Petani Punk.
Sibag dan puluhan anak punk lainnya, tidak lagi dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Mereka bukan lagi beban sosial tapi kini menjelma sebagai petani, penggerak komunitas, sekaligus penjaga integritas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....