MBG Ubah Suasana Belajar Anak Difabel di SLB Negeri Laura

  • 18 Feb 2026 13:17 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menghadirkan perubahan suasana belajar di SLB Negeri Laura, Sumba Barat Daya. Anak-anak grahita, terutama Down Syndrome, kini lebih mampu mengendalikan emosi dan lebih tenang hingga pelajaran selesai.

Kepala SLB Negeri Laura, Maria Dolorosa Mada, mengatakan perubahan itu mulai terasa dalam beberapa pekan terakhir. Ia melihat anak-anak yang sebelumnya mudah gelisah kini lebih tenang mengikuti pelajaran hingga selesai.

“Kadang-kadang mereka ini kan mood-nya suka berubah-ubah. Kalau sebelum terima MBG itu, baru jam-jam tertentu mood-nya sudah berubah,” ujarnya dikutip dari keterangan tertulis di Kecamatan Laura, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, Rabu, 18 Februari 2026.

Maria mengungkapkan, hampir 90 persen orang tua hidup dalam kondisi serba kekurangan. Ia menceritakan ada orang tua yang menjual tiga kilogram jagung demi ongkos ojek.

“Ya mereka makan sehari tiga kali, tetapi lauk yang seadanya dan porsinya terbatas. Kadang asupan itu tidak cukup untuk menjaga energi dan emosi anak-anak,” ucapnya.

Asrama memang tidak memungut biaya, tetapi kebutuhan sehari-hari tetap dipenuhi dari dana terbatas dan bantuan donatur. Makan minum, pakaian, sabun, odol, hingga peralatan masak menjadi tanggungan yang tidak sederhana.

Keterbatasan asupan sebelumnya memengaruhi energi dan kestabilan emosi siswa, khususnya Down Syndrome. Gelisah kerap muncul sebelum waktu belajar usai karena kondisi fisik yang kurang kuat.

Sejak sekitar tiga minggu terakhir, kehadiran MBG mulai membawa perubahan di lingkungan sekolah. Anak-anak terlihat lebih antusias datang ke kelas dan mampu duduk lebih lama mengikuti pembelajaran.

“Setelah menerima MBG mereka lebih bersemangat. Mereka lebih bisa bertahan ada dalam kelas,” katanya.

Perubahan itu juga terlihat dari raut wajah siswa yang lebih cerah setiap hari. Waktu belajar bertambah dan ledakan emosi semakin berkurang dibandingkan sebelumnya.

“Setelah ada MBG ini mukanya cerah sekali anak-anak saya. Makannya itu boleh dibilang kalau di asrama mereka akhirnya cuma makannya malam,” ujarnya.

Maria yang berlatar belakang sarjana pendidikan kimia mulai memimpin sekolah itu pada 2019 dengan berbagai tantangan. Ia mengakui masa awal kepemimpinannya dipenuhi keterbatasan dan perjuangan panjang.

“Awal-awal mungkin banyak duka. Duka itu bisa berubah menjadi suka,” ucapnya.

Kini ia menyaksikan seporsi makan siang bergizi menghadirkan ketenangan nyata bagi anak-anak difabel. MBG tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menstabilkan emosi dan memperpanjang senyum mereka.

Sebagai informasi, sekolah ini memiliki 68 siswa, meski yang tercatat resmi di Dapodik sebanyak 59 siswa. Selebihnya masih terkendala administrasi, seperti kartu keluarga bermasalah atau data yang tercatat di sekolah lain.

Sejak 2025, SLB Negeri Laura membuka kelas jauh di Kodi Utara untuk melayani tiga desa. Kebijakan ini diambil karena jarak menuju sekolah induk terlalu jauh bagi sebagian siswa.

SLB tersebut melayani berbagai ketunaan, mulai tuna rungu wicara, tuna daksa, autis, hingga grahita termasuk Down Syndrome. Sekolah juga membuka kelas lambat belajar serta tuna netra, meski belum memiliki siswa pada kategori terakhir.

Sekitar 40 siswa tinggal di asrama, walau jumlahnya tidak selalu penuh setiap hari. Mayoritas siswa berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah dengan keterbatasan cukup berat.

Rekomendasi Berita