Dari Sekolah Rakyat untuk ‘Indonesia Emas 2045’

  • 22 Okt 2025 21:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Sekolah Rakyat merupakan salah satu program Asta Cita prioritas nasional yang dilakukan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Program ini bertujuan untuk memutus rantai kemiskinan melalui upaya peningkatan sumber daya manusia.

Selain itu juga membuka ruang akses pendidikan bagi anak anak keluarga miskin dan miskin ekstrim. Hal itu demi mewujudkan mimpi sebagaimana anak bangsa lainnya di Tanah Air.

Di Indonesia timur tepatnya Ternate, kota yang terletak di kaki Gunung Gamalama, suasana suka cita dan kegembiraan anak-anak Moloku Kie Raha sangat terasa di kala mereka menikmati belajar di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 26 Ternate. Mereka tinggal di asrama, beraktivitas sesuai jadwal, banyak teman, dan menerima makanan enak.

Alfakri Ramadhan siswa SRMP 26 Ternate Maluku Utara mengungkapkan senang belajar di Sekolah Rakyat. Ia pun berterima kasih kepada pemerintah.

“Senang banyak teman belajar, banyak teman yang baik, makanannya enak,” ucap Alfakri. “Saya bercita-cita jadi dokter ahli penyakit dalam, supaya bisa membantu masyarakat yang dapat penyakit yang belum bisa disembuhkan dokter umum,” kata Alfakri.

Siswa lainnya Aprilia Feodora Florensia yang juga belajar di SRMP 26 Ternate, mengatakan bahagia yang dirasakan karena bisa belajar. Apalagi mendapat fasilitas yang bagus dan gratis.

“Jujur di sini senang karena bisa belajar. Selain itu juga dapat fasilitas yang bagus, makan teratur dan banyak teman,” ucap Aprilia.

Peserta didik di sekolah rakyat Ternate (Foto: Dokumentasi RRI)

Sementara Kepala SRMP 26 Ternate, Manton La Usma, siswa selalu diberikan kemudahan akses pelayanan. Dan, semua fasilitas bersifat gratis dari pemerintah.

“Mulai alat makan, makan tiga kali sehari, dua kali snack kemudian juga kebutuhan alat mandinya difasilitasi negara. Kemudian seragam semuanya gratis dari ujung kaki hingga rambut dibiayai negara,” ujar La Usma.

Di sisi lain proses belajar mengajar, kata Fathin Najila guru SRMP 26 Ternate, dilakukan dengan pendekatan khusus. Hal ini untuk memgembangkan kemampuan siswa.

“Kita sama-sama tahu siswa sekolah rakyat itu memang dari desil 1 dan 2 tentunya ada pendekatan khusus yang diterapkan untuk mengembangkan pola pikir. Termasuk life skill (kecakapan hidup) peserta didik di sini,” kata Najila.

Sekolah Rakyat dinilai telah memberikan dampak positif buat anak bangsa di Maluku Utara. Menurut Sultan Ternate, Hidayatullah Sjah, mendukung program sekolah rakyat di Maluku Utara sebagai langkah maju.

“Memang program Presiden Prabowo, mesti harus didukung karena ini langkah maju bagi Pemerintahan Prabowo, bahwa ada kepedulian untuk mengembangkan potensi rakyat. Salah satunya dengan cara mudah bersekolah,”ucap Sultan Ternate Hidayatullah Sjah.

Suasana anak-anak peserta didik di Sekolah Rakyat (Foto: Dokumentasi RRI)

Harapan dari Merauke

Di Merauke, program ini juga disambut baik masyarakat dan generasi mudanya. Nency salah satu generasi muda Merauke mengatakan sekolah rakyat membantu masyarakat miskin di Merauke untuk meraih masa depannya.

“Kami sebagai warga orang asli Papua sangat berterima kasih kepada Presiden Prabowo karena sudah mendukung dan memfasilitasi anak-anak Papua. Dengan adanya Sekolah Rakyat Papua ini bisa menjadi dan membantu masyarakat itu sendiri,” katanya.

Senada dikatakan Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke, Budi Sutomo, berbagai persiapan sudah dilakukan. Termasuk persiapan gedung sekolah.

“Di sekolah rakyat ini anak-anak diberikan fasilitas banyak sekali, mulai makan gratis tiga kali dan snack dua kali. Anak-anak juga difasilitasi laptop, sedangkan seragam disiapkan gratis pemerintah,” ujar Budi.

Sekolah Rakyat di Merauke yang dijuluki ‘Kota Rusa’, menurut tokoh agama Haji Ali Syahbana, sangatlah dibutuhkan. Apalagi penduduk Papua lebih banyak hidup di bawah garis kemiskinan.

“Ditambah dengan pola asrama memungkinkan anak anak lebih maksimal. Terutama dalam menerima pendidikan,” ujar Haji Ali.

Dukungan itu datang dari Pendeta Victor Jelira yang mengatakan program Sekolah Rakyat dibutuhkan masyarakat miskin di Merauke, Papua Selatan. Dikatakannya dari gereja tetap mendukung dan akan selalu memberi dukungan.

“Sekolah Rakyat itu punya tujuan yang baik. Apalagi buat masyarakat yang khususnya memiliki ekonomi lemah,” ucap Victor.

Tempat tidur di asrama sekolah rakyat di Merauke (Foto: Dokumentasi RRI)

Tak Lagi Putus Sekolah

Tidak hanya di kawasan timur Indonesia, suasana bahagia terasa di wilayah tengah, tepatnya di Kabupaten Boalemo, Gorontalo. Kebahagiaan anak-anak, orang tua, hingga guru tidak terbendung menyambut sekolah rakyat.

Kebahagiaan itu seperti terungkap dari orang tua siswa Enti Antu yang menyekolahkan anaknya di sekolah rakyat. “Anak saya putus sekolah kelas 1 di usia 7 tahun, sekarang ada sekolah rakyat sehingga kembali dapat pendidikan lebih bagus,” ujar Enti.

Rukiyah Ismail, ibu yang juga menyekolahkan anaknya di sekolah rakyat turut memberi kesaksian. Dia merasa terbantu dengan pendidikan sekolah rakyat gratis.

“Sebenarnya dorang ini pada sekolah di pondok. Baru ini yang satu sakit, yang satunya tidak mau sekolah,” kata Rukiyah.

“Daripada di rumah menganggur lebih baik saya kasih sekolah. Saya senang karena ada sekolah rakyat,” Rukiyah menambahkan.

Kepala Sekolah Rakyat Boalemo Gorontalo, M. Syaifudin, memastikan akses pelayanan sekolah gratis selalu terbuka buat siapa saja. Apalagi buat masyarakat miskin di Boalemo.

“Terkait metode pembelajaran didapat secara secara digital. Sudah disediakan LMS (Learning Management System) hasil kerja sama dengan Al Hikmah di Kota Batu,” katanya.

“Di LMS disediakan perangkat teknologi berupa laptop dan smartboard. Jadi kurikulumnya sama dengan sekolah umum, tetapi secara proses pembelajarannya sedikit berbeda karena memakai ‘multi-entry multi-exit’,” katanya.

Multi-entry multi-exit adalah model pendidikan fleksibel yang memungkinkan siswa masuk dan keluar dari suatu program pendidikan kapan saja. Kemudian menyelesaikan studi sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.

Wajah Ceria di 'Kota Bunga'

Wajah-wajah ceria penuh harapan juga terlihat dari anak-anak di Indonesia bagian barat. Di ‘Kota Bunga’ Magelang mereka bisa menikmati sekolah rakyat.

Sekolah yang difasilitasi pemerintah dengan akses gratis untuk keluarga miskin dan miskin ekstrim itu sudah menjadi kebanggaan anak anak di Kota Magelang. Mereka bisa menikmati pendidikan seperti anak-anak lainnya.

Kebahagiaan itu terlontar dari Anggia Silvia Paramita, siswa SRMP 43 Magelang. “Di sini bakat dan minat sangat diperhatikan, sesuai apa yang dimiliki,” ucapnya.

Ahmad Ilham Jauhari juga memiliki perasaan yang sama. Di SRMP 43 Magelang ia bisa belajar penuh disiplin dan diajari kepemimpinan.

“Dilatih disiplin waktu dan jiwa kepemimpinan. Semua memiliki kebiasaan yang baik,” kata Ilham.

Sri Rejeki, Kepala Sekolah SRMP 43 Magelang, merasa kehadiran sekolah rakyat sangat membantu akses anak-anak dalam pendidikan. Ditambah dengan sejumlah kegiatan di asrama.

“September itu anak-anak libur tiga hari, ternyata saat di rumah kangen asrama. Alasannya di rumah hanya tiduran, main hape tidak ada kegiatan,” kata Sri Rejeki.

“Mereka mengaku kangen suasana dan kegiatan di asrama. Terutama karena bertemu dengan banyak teman-teman,” ujar Sri Rejeki.

Faruk Ananda, satu di antara tokoh masyarakat Magelang, mengungkapkan sekolah rakyat mampu membuka harapan buat anak-anak untuk masa depannya. Ia yakin Magelang akan maju dengan generasi bangsa menuju Indonesia Emas.

“Saya berharap sekolah rakyat bisa menjadi sarana yang baik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Termasuk tanggung jawab bersama untuk bisa mengentaskan kemiskinan,” kata Faruk Ananda.

Para siswa di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 43 Kota Magelang sedang berbincang dengan gurunya (Foto: Dokumentasi RRI)

Terkait Digitalisasi penggunaan internet di sekolah rakyat, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid memastikan infrastruktur digital internet di sekolah rakyat dapat terkoneksi dengan baik dan cepat. Dia menyatakan itu karena Kementerian Komdigi punya kewajiban memastikan infrastruktur digital untuk sekolah rakyat.

"Jadi sekolah rakyat ini juga terkoneksi dengan koneksi internet yang baik dan cepat. Kemudian yang kedua adalah melakukan komunikasi publik dengan baik, karena setiap program atas nama transparansi harus dapat tersampaikan dengan baik kepada masyarakat," kata Meutya Hafid mengakhiri.

Kebahagiaan anak bangsa dengan belajar di sekolah rakyat ini menandai satu tahun Pemerintahan Presiden Probowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Bisa dikatakan ini menjadi tahun berkah bagi masyarakat miskin dan miskin ekstrim, untuk meraih masa depannya di sekolah rakyat.

Sekolah rakyat menjadi solusi memutus rantai kemiskinan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sekolah rakyat dapat menjadi garda terdepan menghasilkan generasi cerdas, berkualitas menuju Indonesia Emas 2045. Kita bisa, Indonesia luar biasa.

Rekomendasi Berita