Kemenhub Matangkan Strategi Arus Balik Gelombang Kedua di Ketapang-Gilimanuk
- 28 Mar 2026 14:48 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Perhubungan mematangkan strategi menghadapi puncak arus balik gelombang kedua pada 28–29 Maret 2026 di lintas Ketapang–Gilimanuk.
- Kemenhub menilai perlu optimalisasi buffer zone dan delaying system. Guna mengurai antrean kendaraan menuju pelabuhan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Perhubungan mematangkan strategi menghadapi puncak arus balik gelombang kedua pada 28–29 Maret 2026 di lintas Ketapang–Gilimanuk. Khususnya, di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi.
Langkah ini dilakukan guna memastikan kelancaran penyeberangan sekaligus mengantisipasi kepadatan kendaraan. Kemenhub bersama para pemangku kepentingan telah menggelar rapat koordinasi untuk mematangkan strategi menghadapi lonjakan arus balik di lintas tersebut.
“Kita harus memprioritaskan layanan penyeberangan dari Ketapang menuju Gilimanuk pada arus balik ini," kata Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Aan Suhanan, Sabtu 28 Maret 2026. "Mekanisme tiba bongkar berangkat (TBB), keputusan harus diambil secara cepat dan jangan terlambat sesuai kondisi di lapangan,” ujarnya.
Optimalisasi Buffer Zone dan Delaying System
Berdasarkan evaluasi arus mudik sebelumnya, Kemenhub menilai perlu optimalisasi buffer zone dan delaying system. Guna mengurai antrean kendaraan menuju pelabuhan.
“Kesiapan buffer zone menjadi kunci dan harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Pengaturan kendaraan barang sumbu dua yang tidak masuk pembatasan juga perlu diperhatikan agar tetap kondusif,” kata Aan.
Untuk kendaraan roda empat dan bus, buffer zone disiapkan di Gran Watudodol dan Kantong Parkir Bulusan. Sementara kendaraan barang dialihkan ke buffer zone Sri Tanjung serta kantong parkir milik PT Pusri dan Pelindo.
Strategi lain yang disiapkan adalah pengaturan jumlah kapal penyeberangan, di mana pada kondisi normal, 28 kapal beroperasi. Jumlah tersebut meningkat menjadi 30 kapal saat kondisi padat dan 32 kapal saat sangat padat.
“Jika sangat diperlukan, jumlah kapal bisa ditambah hingga 35 sampai 40 unit. Termasuk dua kapal bantuan berkapasitas 60–80 kendaraan,” ucap Aan.
Berdasarkan data PT ASDP Indonesia Ferry, pada H+1 hingga H+3 Lebaran tercatat 41.526 kendaraan telah menyeberang ke Bali. Rinciannya, 24.093 sepeda motor (25 persen), 14.179 mobil (34 persen), 927 bus (20 persen), dan 2.327 truk (17 persen).
“Masih ada 114.255 kendaraan atau sekitar 73 persen yang belum menyeberang ke Bali. Puncak arus balik diprediksi terjadi pada H+6 atau 28 Maret 2026,” katanya.
Aan menegaskan, keberhasilan pengelolaan arus balik membutuhkan komunikasi dan sinergi kuat antara operator pelabuhan, TNI, Polri, Dishub serta pemangku kepentingan lainnya. Upaya ini diharapkan mampu mewujudkan arus balik Lebaran yang selamat, aman, dan lancar bagi masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....