Kemenhub: 'Buffer Zone' Jadi Strategi Urai Kemacetan Selama Periode Lebaran 2026
- 25 Mar 2026 08:33 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Buffer zone dinilai efektif mengurai kemacetan di kawasan penyeberangan saat arus mudik dan balik Lebaran 2026
- Kemenhub menerapkan delaying system untuk mengendalikan arus kendaraan menuju pelabuhan
- Skema TBB (tiba bongkar berangkat) digunakan untuk mempercepat pergerakan kapal
- Penyamaan kelas penyeberangan diberlakukan agar kendaraan langsung naik kapal tanpa antre panjang
RRI.CO.ID, Jakarta – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menilai buffer zone efektif mengurai kemacetan terutama di kawasan penyeberangan menuju pelabuhan pada periode Lebaran 2026. Ketua Harian Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2026, Capt Hasan Sadili, mengatakan strategi ini menjadi fokus Kemenhub untuk mengantisipasi kepadatan.
“Mengacu kepada pengalaman-pengalaman di even mudik angkutan lebaran, Kemenhub menilai buffer zone sangat efektif dalam mengurai kemacetan. Terutama menuju ke pelabuhan karena biasanya yang paling kelihatan dominan itu terkait dengan penyebrangan,” katanya di Jakarta, Selasa 24 Maret 2026.
Hasan menambahkan Kemenhub juga menerapkan delaying system untuk mengendalikan arus kendaraan sebelum memasuki pelabuhan. Selain itu, kapasitas rest area dan pelabuhan bantuan turut ditingkatkan untuk mendukung kelancaran arus balik.
“Penambahan misalnya pelabuhan bantuan, kalau di Merak-Bakauheni itu pelabuhan-penambahannya ada Ciwandan, kemudian ada Bandar Bakau Jaya. Itu biasanya evaluasi dan strategi yang kita laksanakan untuk mengurai kepadatan dan kemacetan,” ujarnya.
Kemenhub juga mendorong digitalisasi pembelian tiket di seluruh moda transportasi. Langkah ini bertujuan agar masyarakat dapat melakukan pemesanan lebih awal sehingga mengurangi antrean di lapangan.
Selain itu diterapkan skema tiba bongkar berangkat (TBB) pada kapal penyeberangan untuk mempercepat arus kendaraan. Menurut Hasan, kebijakan ini diterapkan untuk mengurangi waktu tunggu kapal di pelabuhan selama periode arus balik berlangsung.
“Untuk arus balik di 2026 di Bakauheni Kemenhub juga mendukung skema tadi tiba-bongkar-berangkat. Jadi untuk mempercepat, setelah kapal lakukan pembongkaran tidak lagi proses menaikkan kendaraan maupun penumpang, tapi langsung berangkat,” ucapnya.
Sebagai bagian dari evaluasi, Kemenhub juga menerapkan penyamaan kelas pada layanan penyeberangan. Hasan menilai hal ini memungkinkan kendaraan langsung naik ke kapal tanpa harus memilih jenis layanan tertentu.
“Jadi kita tidak lagi memberlakukan kelas eksekutif misalnya, jadi langsung rata-rata dari tujuh dermaga yang di Merak-Bakauheni itu satu kelas. Jadi semua mobil kendaraan itu bisa langsung ke kapal yang sudah ready, itu juga mengurangi kepadatan di pelabuhan,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....