Blueprint Ekonomi Budaya Indonesia Diperlukan hingga 2030-2045

  • 09 Sep 2026 11:03 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon – Indonesia dinilai membutuhkan arsitektur kebijakan yang lebih terintegrasi untuk mengembangkan ekonomi budaya hingga 2030–2045. Pengembangan tersebut tidak cukup hanya mengukur kontribusi budaya terhadap perekonomian, tetapi juga harus melihat asal nilai budaya, hak, manfaat, dan keberlanjutannya.

Pengamat Ekonomi, Budaya dan Pariwisata, Harry Waluyo, mengatakan Indonesia sebenarnya telah memiliki berbagai kebijakan dan instrumen yang berkaitan dengan kebudayaan, ekonomi kreatif, pariwisata, kekayaan intelektual, serta ekonomi digital.

Namun, menurut Waluyo, berbagai kebijakan tersebut belum sepenuhnya terhubung dalam satu arsitektur nilai. Akibatnya, budaya dapat dipandang berbeda oleh masing-masing sektor, mulai dari warisan bagi bidang kebudayaan, daya tarik bagi pariwisata, sumber kreativitas bagi ekonomi kreatif, hingga barang dan jasa dalam perdagangan.

Waluyo menilai kondisi tersebut perlu diubah melalui pendekatan Cultural and Creative Ecosystem atau ekosistem budaya dan kreatif.

Dalam ekosistem tersebut, budaya menghasilkan nilai, kreativitas mentransformasikan nilai, industri mengorganisasi produksi, pasar memungkinkan pertukaran, sementara KI dan KIK memberikan kerangka perlindungan hak.

Ia menegaskan, seluruh proses tersebut harus kembali memperkuat keberlanjutan budaya. Karena itu, pembangunan ekonomi budaya perlu memastikan adanya hubungan antara cultural value, creative value, economic value, rights, benefit sharing, dan cultural sustainability.

Waluyo mengatakan, gagasan Blueprint Ekonomi Budaya Indonesia 2030–2045 sebaiknya tidak hanya dimulai dari pertanyaan mengenai kontribusi budaya terhadap Produk Domestik Bruto atau PDB.

Pertanyaan yang lebih mendasar, kata dia, adalah dari mana nilai budaya berasal, siapa yang menciptakan dan menjaganya, bagaimana nilai tersebut menjadi nilai ekonomi, siapa yang memiliki hak, serta siapa yang memperoleh manfaat.

“Yang paling penting adalah apakah proses ekonomi tersebut membuat kebudayaan semakin hidup atau justru menggerusnya,” ujar Waluyo.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....