Fenomena panic buying kembali menjadi sorotan publik

  • 04 Apr 2026 19:45 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Fenomena panic buying kembali menjadi sorotan publik setelah terjadi lonjakan pembelian bahan bakar minyak (BBM) di Kota Ambon dalam beberapa hari terakhir. Warga terlihat memadati sejumlah SPBU untuk mengisi kendaraan maupun membeli BBM dalam jumlah lebih dari biasanya.

Kondisi ini memicu antrean panjang dan kekhawatiran akan ketersediaan stok di tengah masyarakat. Panic buying sendiri merupakan perilaku konsumen yang membeli barang dalam jumlah besar secara berlebihan karena rasa takut akan kelangkaan di masa depan.

Fenomena ini biasanya dipicu oleh informasi yang belum tentu benar atau situasi yang dianggap darurat, sehingga masyarakat berlomba-lomba mengamankan kebutuhan mereka tanpa mempertimbangkan kondisi distribusi sebenarnya.

Beberapa faktor utama yang menyebabkan panic buying antara lain adalah penyebaran informasi yang tidak jelas atau hoaks, kekhawatiran terhadap kenaikan harga, serta ketidakpastian pasokan barang. Selain itu, faktor psikologis seperti rasa panik yang menyebar dari satu individu ke individu lain juga mempercepat terjadinya aksi pembelian berlebihan ini.

Di Kota Ambon, fenomena ini terlihat jelas pada pembelian BBM. Sejumlah warga mengaku khawatir akan terjadinya kelangkaan bahan bakar, sehingga memilih untuk membeli lebih banyak dari kebutuhan harian mereka. Hal ini diperparah dengan informasi yang beredar di media sosial yang belum tentu dapat dipastikan kebenarannya.

Dampak dari panic buying sangat signifikan, baik bagi masyarakat maupun sistem distribusi. Salah satu dampak yang paling terasa adalah terjadinya kelangkaan sementara akibat stok yang cepat habis di pasaran. Selain itu, panic buying juga dapat menyebabkan lonjakan harga serta mengganggu stabilitas pasokan barang penting di suatu daerah.

Tidak hanya itu, panic buying juga dapat menimbulkan kepanikan yang lebih luas di tengah masyarakat. Ketika sebagian orang membeli dalam jumlah besar, masyarakat lain akan ikut terdorong melakukan hal yang sama, sehingga menciptakan efek domino yang sulit dikendalikan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat merugikan kelompok masyarakat yang lebih membutuhkan, namun tidak mampu membeli dalam jumlah besar.

Pemerintah dan pihak terkait diharapkan dapat segera mengambil langkah untuk mengatasi situasi ini, seperti memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat serta memastikan distribusi BBM tetap lancar di Kota Ambon. Masyarakat juga diimbau untuk tetap tenang dan membeli sesuai kebutuhan agar kondisi tetap terkendali dan tidak menimbulkan kepanikan yang lebih luas.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....