Taksonomi Bloom & AI Kolaborasi di Era Industri 5.0
- 09 Mei 2025 12:16 WIB
- Ambon
KBRN, Ambon : Industri 5.0 bukan sekadar tentang teknologi mutakhir ini adalah tentang kolaborasi. Bukan lagi manusia versus mesin, tapi manusia dan mesin.
"Di tengah arus ini, Taksonomi Bloom sebuah kerangka pendidikan klasik kembali relevan, terutama saat bertemu dengan kecerdasan buatan (AI). Ketika keduanya dipadukan, lahirlah pendekatan baru yang revolusioner dalam dunia seni rupa dan seni pertunjukan," tutur Pengamat Budaya dan Ekonomi Kreatif, Harry Waluyo kepada RRI, Kamis (8/5/2025).
Waluyo mengatakan, bagi para pendidik dan praktisi seni, Taksonomi Bloom bukan hal baru. Ia membagi proses berpikir manusia menjadi enam tingkatan: mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.
Dalam konteks seni, ini mencerminkan bagaimana seorang seniman berkembang dari mengenal kuas pertama, hingga menciptakan karya orisinal yang menggugah jiwa.
Menurut Waluyo, kolaborasi ini terjadi di dunia nyata. Seorang pelukis modern kini tak harus mulai dari kanvas kosong. Dengan bantuan AI generatif, ia bisa mendapatkan sketsa awal yang terinspirasi dari gaya impresionis atau surealis. AI juga bisa menganalisis data tren pasar seni, menyarankan warna yang sedang digemari, dan bahkan memberi masukan visual tentang komposisi lukisan.
AI bukan hanya mempercepat proses kreatif, tapi juga mendukung pelestarian seni. Pameran virtual dengan pencahayaan simulatif tak hanya menghemat biaya dan sumber daya, tapi juga membuka akses bagi audiens dari belahan dunia manapun.
Di panggung teater, AI membantu lebih dari sekadar menghafal naskah. Ia menganalisis reaksi emosional penonton, mengusulkan variasi adegan, mengevaluasi harmoni musik, hingga merancang efek visual panggung sebelum dipasang secara fisik. Hasilnya, Produksi yang lebih efisien, lebih interaktif, dan tetap berjiwa.
Tentu, tak semua jalan mulus. Biaya perangkat lunak, perlunya pelatihan digital bagi seniman, hingga kekhawatiran soal "keaslian karya" jadi catatan penting. Tapi di sisi lain, AI membuka peluang yang tak terbatas: dari pasar global yang lebih luas, hingga pelestarian budaya secara digital tanpa limbah.
Di era Industri 5.0, ketika kreativitas dan teknologi saling menggandeng tangan, seni rupa dan seni pertunjukan menemukan ruang baru untuk tumbuh. Dengan pendekatan berbasis Taksonomi Bloom dan dukungan AI, seniman bukan hanya tetap relevan, tapi juga menjadi pionir perubahan.
"Kolaborasi ini bukan soal menggantikan jiwa manusia dengan algoritma. Ini soal memanfaatkan teknologi untuk memperkuat sentuhan manusia agar seni tetap hidup, berkembang, dan menyentuh hati generasi masa depan," tegas Waluyo.