Pusdal Lingkungan Hidup dan Kawan Alam Siapkan Dokumenter Lingkungan

  • 21 Agt 2026 16:24 WIB
  •  Ambon

RRI CO.ID, Ambon — Persiapan menuju Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2027 di Ambon mulai diarahkan tidak hanya pada kegiatan kampanye dan forum kolaborasi, tetapi juga pada dokumentasi gerakan lingkungan melalui produksi film dokumenter. Rencana tersebut dibahas dalam pertemuan Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Sulawesi dan Maluku melalui Bidang Wilayah III bersama Kawan Alam Indonesia dan Wutmaili Romuti, S.Pd., S.T., M.T., peraih Kalpataru 2026 yang akrab disapa Pak Uce.

Film dokumenter direncanakan mengangkat berbagai praktik pengelolaan sampah dan lingkungan di Maluku, termasuk peran pemerintah, masyarakat, komunitas dan dunia usaha.

Kepala Bidang Wilayah III Pusdal LH Sulawesi dan Maluku, Suwardi, S.T.P., M.Si., mengatakan, dokumentasi praktik baik dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat edukasi dan kesadaran publik.

Pusdal LH bersama mitra juga mendorong agar pengelolaan lingkungan tidak berhenti pada kegiatan bersih-bersih, tetapi menyentuh persoalan pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, pengelolaan limbah serta perubahan perilaku masyarakat.

“Kita tidak hanya ingin melihat kegiatan bersih-bersih. Yang lebih penting adalah bagaimana sampah bisa dikurangi dari sumbernya, bagaimana masyarakat memahami pemilahan, bagaimana dunia usaha meningkatkan pengelolaan limbah dan sampahnya, serta bagaimana semua itu dapat berjalan secara berkelanjutan,” kata Suwardi.

Wanda Syahputra dari Kawan Alam Indonesia mengatakan, film dokumenter tersebut diharapkan menjadi media edukasi sekaligus rekaman perjalanan gerakan lingkungan di Maluku.

“Film dokumenter ini penting karena perubahan lingkungan juga perlu diceritakan. Kita ingin menunjukkan bahwa di Maluku ada masyarakat yang bergerak, ada komunitas yang bekerja, ada pemerintah yang melakukan pembinaan dan ada dunia usaha yang mulai membangun praktik baik. Cerita-cerita itu perlu direkam,” ujar Wanda.

Menurut Wanda, proses produksi dokumenter juga dapat dilakukan bersamaan dengan pemetaan praktik baik di berbagai wilayah. Cerita mengenai komunitas yang konsisten bergerak, masyarakat yang berhasil mengelola sampah maupun perusahaan yang memiliki inovasi lingkungan dapat menjadi bagian dari materi dokumentasi.

Selain film dokumenter, pembahasan menuju HPSN 2027 mencakup pengembangan forum Pentahelix yang mempertemukan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas atau masyarakat dan media. Pusdal LH juga membuka ruang kolaborasi dengan dunia usaha. Perusahaan yang telah menerapkan praktik baik dalam pengelolaan lingkungan didorong untuk menjadi contoh bagi pelaku usaha lainnya.

Sementara Peraih Kalpataru 2026, Pak Uce, menekankan pentingnya memastikan masyarakat menjadi bagian utama dari gerakan tersebut.

“Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat menjadi bagian dari perubahan. Jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton. Mereka harus dilibatkan sejak perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasi,” ungkapnya.

Menurut Pak Uce, keberlanjutan program akan sangat ditentukan oleh konsistensi seluruh pihak dalam membangun kerja sama. Pada 21 Februari 2027, Ambon diharapkan tidak hanya menjadi lokasi peringatan HPSN, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan dan memperkuat berbagai gerakan lingkungan di Maluku.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....