Film Merawat Masa Depan di Ujung Jalur Rempah Angkat Kisah Banda
- 19 Agt 2026 13:05 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Cerita tentang Banda Neira kembali dihidupkan melalui film dokumenter berjudul Merawat Masa Depan di Ujung Jalur Rempah. Karya tersebut merekam memori, kehidupan, persoalan, serta harapan masyarakat Banda dari perspektif lingkungan, sejarah, budaya, dan generasi muda.
Film ini lahir dari perjalanan dan kolaborasi sejumlah pemuda yang berupaya menghadirkan cerita Banda melalui medium audiovisual. Dalam proses pengembangannya, tim produksi juga bertemu dan berdiskusi dengan Lookman A. Ang, penulis buku Tanah Pala, yang banyak merekam cerita dan ingatan tentang Banda melalui karya tulisnya.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan dua medium dalam bercerita, yakni buku dan film, untuk menghadirkan kembali kisah Banda kepada generasi yang lebih luas.
Bagi tim produksi, buku Tanah Pala tidak hanya menjadi karya literasi, tetapi juga menjadi salah satu representasi kekayaan cerita Banda yang dapat diwariskan. Sementara itu, film dokumenter menjadi medium visual untuk membawa penonton melihat Banda dari perspektif yang lebih dekat, mulai dari memori, persoalan, manusia hingga harapan masa depan.
Film Dibawa ke Yogyakarta
Co-Founder Kawan Alam Indonesia, Wanda Syahputra, S.E., mengatakan film dokumenter tersebut tidak dirancang hanya sebagai karya audiovisual, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk membangun ruang dialog dan kolaborasi pemuda.
Menurut Wanda, Kawan Alam Indonesia tengah menyiapkan rencana penayangan film dokumenter tersebut di Yogyakarta bertepatan dengan momentum Peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026.
“Kami sedang mempersiapkan sebuah ruang pertemuan pemuda di Yogyakarta dalam momentum Hari Sumpah Pemuda. Salah satu agenda utamanya adalah penayangan film dokumenter Merawat Masa Depan di Ujung Jalur Rempah. Tetapi acaranya tidak berhenti pada nonton bareng,” ujar Wanda, Rabu, 19 Agustus 2026.
Wanda menjelaskan, kegiatan tersebut nantinya direncanakan melibatkan berbagai pihak di Yogyakarta, termasuk sejumlah komunitas film dokumenter dan organisasi kepemudaan.
“Kami ingin film ini menjadi pintu masuk untuk berdiskusi. Karena itu, selain pemutaran film, kami juga merencanakan bedah buku Tanah Pala dan menghadirkan langsung penulisnya, Lookman A. Ang. Beliau adalah sosok inspiratif dari tanah Banda yang memiliki banyak cerita tentang Banda dan kehidupan masyarakatnya,” katanya.
Menurut Wanda, mempertemukan film dan buku dalam satu forum merupakan upaya menghadirkan Banda melalui dua perspektif yang saling melengkapi.
“Film memberikan kita pengalaman visual, sementara buku memberikan ruang yang lebih dalam untuk membaca dan memahami cerita. Ketika keduanya dipertemukan dan dibicarakan oleh anak-anak muda, kami berharap akan muncul perspektif baru tentang bagaimana kita melihat Banda dan apa yang bisa kita lakukan untuk masa depannya,” tambahnya.
Ia berharap momentum Sumpah Pemuda dapat menjadi ruang untuk mengingat kembali bahwa semangat persatuan pemuda tidak hanya berbicara tentang sejarah, tetapi juga tentang keberanian generasi saat ini mengambil peran terhadap berbagai persoalan bangsa.
Rencana Penayangan di Paris, Yogyakarta, dan Bali
Wakil Ketua Umum Kawan Alam Indonesia sekaligus Direktur Pengabdian Masyarakat PPI Dunia Kawasan Amerika–Eropa, Aurelia Arianti Vinton, yang dalam produksi film bertindak sebagai produser, mengatakan film dokumenter tersebut direncanakan memiliki perjalanan penayangan di sejumlah kota, baik di dalam maupun luar negeri.
Menurut Aurelia, salah satu agenda penayangan film direncanakan berlangsung di Paris, Prancis, dalam rangkaian simposium yang akan dihadiri jejaring pemuda Indonesia di kawasan Eropa.
“Film ini sejak awal kami bayangkan bukan hanya untuk ditonton oleh masyarakat di Banda atau Indonesia, tetapi juga bisa membawa cerita Banda ke ruang yang lebih luas. Karena itu, salah satu rencana penayangannya adalah di Paris, Prancis, bersamaan dengan agenda simposium di sana,” jelas Aurelia.
Setelah Paris, film tersebut juga direncanakan hadir di Yogyakarta pada momentum Hari Sumpah Pemuda.
“Kami juga sedang menyiapkan penayangan di Yogyakarta pada Oktober nanti. Momentum Sumpah Pemuda sangat relevan karena film ini berbicara tentang generasi muda, tentang memori, tentang tantangan dan tentang bagaimana kita bisa mengambil bagian untuk masa depan daerah,” ujarnya.
Selain Yogyakarta, Kawan Alam Indonesia juga merencanakan penayangan film tersebut di Bali pada November 2026, bertepatan dengan momentum Hari Pahlawan.
“Untuk Bali, rencananya akan kami hadirkan pada November 2026, bertepatan dengan momentum Hari Pahlawan. Kami ingin membawa cerita dari Banda ke Bali dan mempertemukannya dengan komunitas, anak muda, pegiat film, lingkungan dan berbagai pihak lainnya,” kata Aurelia.
Ia menambahkan, rencana penayangan tersebut masih terbuka untuk berkembang ke berbagai daerah lain.
“Kami tidak menutup kemungkinan film ini nantinya ditayangkan di beberapa tempat lainnya, termasuk tentu saja di Maluku sendiri. Justru kami berharap cerita ini bisa kembali ke tanah asalnya dan menjadi ruang diskusi bagi masyarakat Maluku, khususnya generasi mudanya,” ungkapnya.
Merekam Banda dari Balik Lensa
Sementara itu, Muhammad Adha Hawari, bagian dari Kawan Alam Indonesia sekaligus Director/Sutradara film dokumenter Merawat Masa Depan di Ujung Jalur Rempah, menjelaskan film tersebut dibangun dari perjalanan visual untuk merekam memori tentang sebuah pulau.
Menurut Adha, kamera dalam film tidak hanya digunakan untuk menangkap keindahan Banda, tetapi juga menjadi alat untuk melihat lebih dekat berbagai realitas yang ada di wilayah tersebut.
“Dari perspektif kamera, kami mencoba membangun cerita tentang memori sebuah pulau. Banda memiliki begitu banyak lapisan cerita. Ada sejarah, laut, rempah, masyarakat, budaya, alam dan juga persoalan-persoalan yang hari ini masih dihadapi,” ujar Adha.
Menurutnya, alur film dibangun melalui perjalanan yang secara perlahan membawa penonton dari memori menuju realitas Banda saat ini.
“Kami mencoba mengumpulkan kepingan-kepingan cerita yang kami temui di lapangan. Dari sana kemudian muncul semacam kumpulan persoalan—mulai dari lingkungan, kehidupan masyarakat, tantangan generasi muda hingga bagaimana Banda harus menghadapi masa depannya,” jelasnya.
Adha menegaskan film tersebut tidak ingin berhenti sebagai dokumentasi persoalan.
“Kami tidak ingin membuat film yang hanya menunjukkan masalah lalu selesai. Ending dari film ini kami arahkan menjadi sebuah call to action. Ada ajakan bahwa Banda bukan hanya untuk dikenang, tetapi harus dibangun. Masa depan Banda harus menjadi tanggung jawab bersama,” katanya.
Ia menambahkan, keindahan Banda justru menjadi alasan berbagai persoalan di dalamnya perlu dibicarakan lebih serius.
“Kami ingin penonton setelah melihat film ini tidak hanya berkata, ‘Banda itu indah’. Kami ingin ada pertanyaan berikutnya: lalu apa yang bisa kita lakukan? Bagaimana kita bisa ikut merawatnya? Bagaimana generasi muda bisa mengambil peran? Itu yang menjadi semangat utama film ini,” ungkap Adha.
Mempertemukan Film dan Literasi
Pertemuan dengan Lookman A. Ang, penulis Tanah Pala, menjadi salah satu bagian dari perjalanan produksi film tersebut.
Kehadiran sosok yang memiliki kedekatan dengan cerita dan memori Banda itu membuka ruang untuk melihat Banda bukan hanya sebagai lanskap sejarah, tetapi juga sebagai tempat yang terus hidup dan memiliki cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kolaborasi antara film dan literasi tersebut diharapkan dapat menjadi medium untuk mengajak generasi muda mengenal Banda dari berbagai perspektif.
Film Merawat Masa Depan di Ujung Jalur Rempah tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga mengangkat persoalan mengenai masa depan Banda dan peran generasi muda dalam merawat serta membangunnya.
Perjalanan penayangan film tersebut direncanakan berlangsung dari Banda Neira menuju sejumlah kota, termasuk Paris, Yogyakarta, dan Bali, serta tidak menutup kemungkinan ke daerah lainnya, termasuk Maluku.
Bagi tim produksi, Banda bukan hanya tempat yang menyimpan sejarah, tetapi juga memiliki cerita yang terus berkembang dan masa depan yang masih dapat dibangun bersama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....