Maluku Siaga Hadapi El Nino, Mitigasi Sektor Pertanian Diperkuat
- 06 Jul 2026 14:36 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBRMP) Maluku, Gunawan memastikan berbagai langkah mitigasi telah disiapkan untuk mengantisipasi potensi kekeringan (El Nino) yang dapat memengaruhi sektor pertanian. Langkah tersebut dilakukan meski kondisi Maluku saat ini belum mengalami dampak signifikan akibat fenomena El Nino.
"Menurut informasi BMKG Stasiun Klimatologi, kondisi Maluku masih berada pada kategori moderat dan belum terdampak El Nino. Di Ambon saja saat ini masih sering turun hujan," kata Gunawan saat menjadi narasumber di PRO3 RRI, Senin 6 Juli 2026.
Menurutnya, komoditas padi menjadi sektor yang paling rentan terdampak apabila musim kering berlangsung lebih panjang. Karena itu, pemerintah memfokuskan perhatian pada empat wilayah sentra produksi padi di Maluku yakni Kabupaten Buru, Seram Bagian Barat, Maluku Tengah, dan Seram Bagian Timur.
"Untuk komoditas padi, kami sudah melakukan antisipasi melalui optimalisasi pengelolaan air irigasi, rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan irigasi perpompaan dan perpipaan, serta penggunaan varietas yang toleran terhadap kekeringan," ujarnya.
Selain menjaga produksi, BBRMP Maluku juga berupaya memastikan ketersediaan stok pangan tetap aman di tengah potensi perubahan cuaca. Sejumlah program telah dijalankan, termasuk penyesuaian pola tanam agar petani dapat memanfaatkan kondisi iklim yang masih mendukung.
"Kami berharap El Nino atau musim kering tidak mengganggu stok pangan di Maluku," katanya.
Gunawan menjelaskan, target luas tanam padi Maluku pada tahun 2026 mencapai 24 ribu hektare. Hingga Juni 2026, realisasi luas tanam telah mencapai sekitar 12 ribu hektare atau 50 persen dari target yang ditetapkan.
"Sampai bulan Juni ini capaian kita sudah sekitar 12 ribu hektare. Mudah-mudahan hingga Desember target 24 ribu hektare yang diberikan kepada Maluku dapat tercapai," ucapnya.
Ia optimistis dampak El Nino dapat ditekan melalui koordinasi yang kuat antara pemerintah daerah, BMKG, Balai Wilayah Sungai, penyuluh pertanian, dan instansi terkait lainnya. Sinergi tersebut juga didukung dengan penyediaan benih tahan kering dan penguatan infrastruktur irigasi di daerah sentra produksi.
"Tujuan akhirnya adalah agar petani tidak terlalu terdampak dan masyarakat tetap mendapatkan pasokan pangan yang cukup," kata Gunawan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....