Kasus Bunuh Diri di JMP Ambon Meningkat, Warga Desak Pasang Pagar Pengaman

  • 06 Mei 2026 18:27 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Aksi bunuh diri di kawasan Jembatan Merah Putih (JMP), Kota Ambon, kian memprihatinkan. Dalam lima bulan terakhir, tercatat hampir sepuluh kasus percobaan bunuh diri terjadi di jembatan yang menjadi ikon Kota Ambon.

Terbaru, pada Rabu siang, aparat keamanan bersama warga kembali berhasil menggagalkan upaya bunuh diri yang dilakukan seorang wanita paruh baya. Peristiwa ini menambah daftar panjang kejadian serupa yang terus berulang di lokasi tersebut.

Warga pun mendesak pemerintah dan pengelola JMP, yakni Balai Pelaksanaan Jalan Nasional, untuk segera mengambil langkah konkret dengan memasang pagar pengaman di sepanjang jembatan. Amy, warga Poka, menilai pemasangan pagar pengaman menjadi kebutuhan mendesak untuk mencegah jatuhnya korban jiwa.

“Kalau melihat contoh Jembatan Suramadu di Jawa Timur, sejak awal sudah dilengkapi pagar pengaman. Untuk JMP, sebaiknya dibuat setinggi dua hingga tiga meter, dengan konstruksi besi yang mengarah ke dalam dan dililit kawat duri,” ujarnya.

Menurutnya, langkah tersebut dapat secara signifikan mengurangi potensi aksi nekat di lokasi tersebut. Pendapat serupa disampaikan Harun Elly, warga Tantui. Ia menilai JMP kini telah menjadi lokasi yang kerap digunakan untuk percobaan bunuh diri.

“Dulu kasus gantung diri di Ambon cukup sering terdengar. Sekarang justru beralih ke JMP, dan banyak yang terekspos di media sosial,” katanya. Dia menilai kondisi ini harus segera ditangani secara serius, tidak hanya dari sisi pengamanan fisik, tetapi juga pendekatan sosial dan psikologis kepada masyarakat.

Menanggapi situasi tersebut, Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, menyatakan keprihatinannya atas meningkatnya kasus bunuh diri di JMP. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kepedulian, terutama dalam lingkungan keluarga.

Menurutnya, Jembatan Merah Putih dibangun sebagai infrastruktur vital yang menghubungkan Desa Hative Kecil di Kecamatan Sirimau dengan Desa Rumah Tiga di Kecamatan Teluk Ambon. Jembatan ini seharusnya menjadi simbol kemajuan, bukan justru dikaitkan dengan peristiwa tragis.

Ia juga mengingatkan potensi munculnya fenomena peniruan jika kasus-kasus tersebut terus terjadi tanpa penanganan yang komprehensif. “Seketat apa pun pengawasan, kalau niat itu ada, sulit dihindari. Tidak mungkin jembatan ini dijaga 24 jam penuh. Karena itu, peran keluarga sangat penting untuk saling mengingatkan dan memperhatikan kondisi satu sama lain,” ujarnya.

Pemerintah kota diharapkan segera berkoordinasi dengan pihak terkait guna merumuskan langkah pencegahan yang lebih efektif, baik melalui peningkatan pengamanan fisik di kawasan JMP maupun penguatan edukasi kesehatan mental di tengah masyarakat.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....