AI Percepat Transformasi Human Capital Indonesia

  • 16 Sep 2026 15:56 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon : Indonesia memasuki periode perubahan besar yang ditandai perluasan pendidikan tinggi, transformasi struktur industri, dan akselerasi kecerdasan artifisial atau AI. Kondisi tersebut menuntut kebijakan yang tidak hanya berfokus pada jumlah lapangan kerja, tetapi juga kemampuan sumber daya manusia menghasilkan produktivitas, pekerjaan berkualitas, kewirausahaan, inovasi, dan mobilitas sosial.

Analis Kebijakan Independen, Harry Waluyo, mengatakan data BPS menunjukkan pada Agustus 2025 terdapat 904.440 penganggur berpendidikan universitas dari total 7.461.507 penganggur. Menurutnya, Tingkat Pengangguran Terbuka nasional sebesar 4,85 persen menjadi baseline penting, namun belum dapat dijadikan bukti bahwa AI merupakan penyebab utama pengangguran sarjana.

Harry menjelaskan, persoalan struktural seperti ketidaksesuaian kompetensi, kualitas pekerjaan, informalitas, dan lemahnya transisi dari pendidikan ke dunia kerja telah berlangsung sebelum perkembangan AI. Karena itu, tantangan utama Indonesia adalah menyelaraskan sistem pendidikan dengan kebutuhan industri dan perubahan pasar kerja.

Ia mencontohkan China yang pada 2026 menghadapi sekitar 12,7 juta lulusan perguruan tinggi baru dan meresponsnya melalui kebijakan employment-first, integrasi industri dan pendidikan, pelatihan bersubsidi, serta dukungan kewirausahaan. Di sisi lain, China juga mempercepat pemanfaatan AI sebagai strategi peningkatan produktivitas, sehingga pendidikan, industri, teknologi, dan pasar kerja perlu diselaraskan secara bersamaan.

Harry juga mengutip temuan ILO 2026 yang menunjukkan GenAI memiliki tingkat exposure yang signifikan di ASEAN, namun bukti gangguan pasar kerja secara luas masih terbatas. Di Indonesia, exposure relatif tinggi terdapat pada pekerjaan clerical, sementara sekitar 3 hingga 4 persen pekerjaan masuk kategori exposure tertinggi dengan risiko displacement lebih besar, yang perlu dipahami sebagai sinyal perubahan tugas, bukan ramalan kehilangan pekerjaan.

Untuk menghadapi perubahan tersebut, Harry mengusulkan visi Zero Stranded Human Capital 2045, dengan lima keputusan strategis, yakni membangun National Skills Intelligence System, mengubah pendidikan tinggi menjadi competence-and-productivity-centric, serta menghubungkan industrialisasi dengan Sectoral AI Workforce Plan. Selain itu, diperlukan National First Job Program untuk mempercepat transisi lulusan ke dunia kerja serta indikator baru seperti GECR, GUER, GERI, HACI, Entry-Level Compression Rate, dan Stranded Human Capital Index sebagai pelengkap pengukuran pengangguran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....