BMKG Perkuat Modifikasi Cuaca Hadapi Dampak El Niño
- 21 Agt 2026 05:19 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - BMKG memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai salah satu langkah mitigasi menghadapi dampak El Niño 2026. Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan air sekaligus mencegah kebakaran hutan dan lahan di wilayah rawan.
Hal tersebut disampaikan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam podcast kerja sama RRI dengan LKBN Antara yang disiarkan pada Rabu, 19 Agustus 2026. Modifikasi cuaca dapat dilakukan dengan memanfaatkan awan yang tersedia dan menyemai awan menggunakan bahan tertentu, termasuk natrium klorida atau garam.
“Ketika satu daerah sudah mengalami sangat kering, atau waduk atau bendungan kering, kita dapat mengisi dengan melakukan modifikasi cuaca,” kata Faisal.
Melalui operasi tersebut, awan yang memiliki potensi hujan dapat disemai untuk menghasilkan curah hujan di wilayah yang membutuhkan. Sebaliknya, ketika suatu wilayah menghadapi ancaman banjir, modifikasi cuaca dapat diarahkan untuk mengurangi curah hujan di wilayah tersebut dengan mengatur lokasi jatuhnya hujan.
Faisal mengatakan OMC juga menjadi bagian dari strategi pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Dengan menjaga kawasan gambut tetap basah, risiko lahan mudah terbakar dapat ditekan sehingga pendekatan yang dilakukan tidak hanya memadamkan kebakaran setelah terjadi, tetapi mencegahnya sejak awal.
Enam provinsi yang menjadi perhatian dalam pencegahan karhutla yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
Menurut Faisal, BMKG bersama kementerian dan lembaga terkait memantau kondisi gambut serta berbagai indikator cuaca untuk menentukan kebutuhan operasi modifikasi cuaca.
Ia menjelaskan teknologi modifikasi cuaca di Indonesia telah berkembang sejak proyek percontohan pada 1977. Perkembangan teknologi tersebut terus berlanjut, termasuk pengembangan bahan semai, peningkatan sumber daya manusia serta rencana penggunaan drone untuk mendukung operasi modifikasi cuaca.
Faisal menekankan pelaksanaan modifikasi cuaca membutuhkan pengaturan dan pengawasan karena hujan perlu diarahkan sesuai kebutuhan dan kondisi wilayah. BMKG berperan sebagai regulator sekaligus operator dalam pelaksanaan operasi tersebut dengan melibatkan berbagai pihak.
Selain menghadapi kekeringan dan karhutla, modifikasi cuaca juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengisian waduk dan bendungan. Upaya tersebut menjadi bagian dari mitigasi untuk menjaga ketersediaan air menghadapi musim kemarau yang lebih kering.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....