Keracunan Makanan Anak Bisa Picu Gangguan Jangka Panjang
- 14 Sep 2026 09:16 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Keracunan makanan pada anak tidak selalu berakhir setelah gejala seperti muntah, diare, sakit perut, dan demam mereda. Sejumlah infeksi akibat makanan yang terkontaminasi berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan dalam jangka panjang, termasuk masalah pada saluran pencernaan, sistem saraf, hingga ginjal.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik, Prof. Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, Sp.A(K), menjelaskan keracunan makanan atau foodborne illness terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi.
Menurutnya, dampak keracunan makanan tidak hanya perlu diperhatikan dari gejala akut yang muncul sesaat setelah mengonsumsi makanan. Beberapa jenis infeksi dapat menimbulkan gangguan kesehatan yang baru terlihat setelah beberapa waktu.
Dilansir dari Kompas.com, Prof. Damayanti mengatakan dampak jangka panjang tersebut terkadang tidak disadari karena tidak selalu langsung dikaitkan dengan riwayat keracunan makanan.
"Kalau kita lihat long term efeknya itu seringkali tidak dikenali bahwa efeknya itu karena keracunan makanan," kata Prof. Damayanti dalam media briefing Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Jumat (11/9/2026).
Bakteri Dapat Memicu Komplikasi
Risiko dampak jangka panjang dapat berbeda, bergantung pada mikroorganisme yang menyebabkan penyakit. Prof. Damayanti mencontohkan infeksi Campylobacter yang dapat berkaitan dengan sejumlah komplikasi, termasuk gangguan saraf dan gagal ginjal.
Sementara itu, infeksi Salmonella juga dapat menyebabkan komplikasi yang tidak hanya menyerang saluran pencernaan. Adapun infeksi Listeria dapat menyebabkan meningitis.
Komplikasi tersebut tidak selalu muncul bersamaan dengan gejala awal keracunan makanan. Karena itu, kondisi anak setelah mengalami keracunan tetap perlu diperhatikan apabila terdapat keluhan yang menetap atau muncul gangguan kesehatan lain.
"Ini jangka panjangnya bukan sesaat dia akan muncul," ujar Prof. Damayanti.
Kondisi tersebut juga berpotensi membuat penanganan terlambat apabila hubungan antara gangguan kesehatan dengan riwayat keracunan makanan sebelumnya tidak dikenali.
Anak Termasuk Kelompok Rentan
Tidak semua orang memiliki tingkat risiko yang sama ketika mengalami keracunan makanan. Anak-anak, terutama balita, termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami dampak berat.
Selain anak berusia di bawah lima tahun, kelompok yang lebih sensitif terhadap foodborne illness antara lain lansia, orang dengan daya tahan tubuh rendah, serta ibu hamil.
Kondisi gizi juga dapat memengaruhi daya tahan tubuh anak. Anak dengan status gizi kurang dapat memiliki daya tahan tubuh yang lebih rendah sehingga lebih mudah mengalami infeksi.
"Dengan daya tahan tubuh, kalau anak gizinya juga enggak bagus, itu juga menyebabkan daya tahan tubuhnya juga tidak bagus. Sehingga mudah sekali terkena infeksi," jelasnya.
Keracunan Makanan Tak Selalu Disebabkan Bakteri
Prof. Damayanti menjelaskan foodborne illness tidak selalu disebabkan oleh bakteri. Penyakit akibat makanan dapat terjadi karena berbagai bahaya, baik biologis, kimiawi maupun fisik.
Bahaya biologis dapat berupa bakteri, virus, parasit, atau jamur. Sementara bahaya kimiawi dapat berasal dari pestisida, bahan kimia dalam proses pengolahan, maupun zat lain yang mencemari makanan.
Adapun bahaya fisik dapat berupa benda asing yang masuk ke dalam makanan.
Pada kasus yang disebabkan bakteri, penyakit juga dapat terjadi akibat infeksi bakteri, toksin yang dihasilkan bakteri, atau kombinasi keduanya.
Keamanan Makanan Perlu Dijaga
Pencegahan keracunan makanan perlu dilakukan sejak makanan diproses hingga dikonsumsi. Pertumbuhan mikroorganisme dipengaruhi sejumlah faktor, seperti karakteristik makanan, tingkat keasaman atau pH, temperatur, lama penyimpanan, oksigen, dan kelembapan.
Pengendalian suhu menjadi salah satu hal penting dalam menjaga keamanan makanan. Makanan yang telah dimasak tidak sebaiknya dibiarkan terlalu lama dalam kondisi yang memungkinkan mikroorganisme berkembang.
Karena itu, makanan perlu disimpan dan dikonsumsi dengan memperhatikan kebersihan, suhu, serta lama penyimpanan untuk mengurangi risiko kontaminasi.
Jangan Abaikan Keluhan Setelah Keracunan
Orangtua umumnya lebih mudah mengenali gejala akut keracunan makanan, seperti muntah dan diare. Namun, perhatian juga perlu diberikan setelah gejala tersebut mereda.
Jika anak mengalami keluhan kesehatan yang tidak kunjung membaik, muncul gangguan baru, atau terjadi perubahan kondisi yang tidak biasa setelah mengalami keracunan makanan, orangtua perlu memperhatikan perkembangannya dan mencari pertolongan medis.
Pemahaman mengenai foodborne illness penting agar keracunan makanan tidak hanya dianggap sebagai gangguan kesehatan sementara. Sebab, pada kondisi tertentu, infeksi akibat makanan dapat berkaitan dengan masalah kesehatan yang muncul dalam jangka panjang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....