AI Bantu Tenaga Kesehatan Tingkatkan Kapasitas Pelayanan dan Diagnosis
- 22 Agt 2026 13:06 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai memberikan dampak terhadap pelayanan kesehatan di Indonesia. Teknologi tersebut dinilai membantu tenaga kesehatan meningkatkan kapasitas pelayanan, mempercepat alur kerja, hingga mendukung proses diagnosis.
Berdasarkan laporan Philips Future Health Index (FHI) 2026, sebanyak 69 persen tenaga kesehatan di Indonesia menyatakan penggunaan alat berbasis AI telah meningkatkan kemampuan mereka dalam melayani lebih banyak pasien. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang mencapai 50 persen.
Di antara tenaga kesehatan yang merasakan peningkatan kapasitas, peningkatannya mencapai median empat pasien tambahan per minggu. Kondisi tersebut menunjukkan AI mulai dimanfaatkan bukan hanya sebagai inovasi teknologi, tetapi sebagai alat pendukung pekerjaan klinis.
Presiden Direktur Philips Indonesia Astri Ramayanti Dharmawan mengatakan, pemanfaatan AI di bidang kesehatan kini mulai diarahkan untuk membantu tenaga kesehatan bekerja lebih efektif dan produktif.
Menurutnya, peningkatan efektivitas tersebut pada akhirnya dapat memperbesar kapasitas layanan sehingga lebih banyak masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan.
Selain meningkatkan kapasitas pelayanan, AI juga dinilai mampu mempercepat alur kerja tenaga kesehatan. Sebanyak 88 persen tenaga kesehatan Indonesia dalam laporan FHI 2026 menyebut penggunaan AI meningkatkan efisiensi alur kerja.
Sebanyak 87 persen tenaga kesehatan juga melaporkan akses terhadap hasil diagnosis menjadi lebih cepat. Sementara 82 persen menyatakan proses pengambilan keputusan terkait diagnosis berlangsung lebih cepat.
Kepala Pusat Kebijakan Sistem Sumber Daya Kesehatan Kementerian Kesehatan, Riris Dian Hardiani, mengatakan AI dapat membantu mempercepat pembacaan hasil pemeriksaan, termasuk pencitraan medis.
Namun, percepatan proses tersebut tidak berarti keputusan medis sepenuhnya diserahkan kepada AI. Penilaian dan keputusan klinis tetap menjadi kewenangan dokter atau tenaga kesehatan.
Pemanfaatan AI juga berpotensi mengurangi beban kerja tenaga kesehatan. Dalam laporan tersebut, 59 persen tenaga kesehatan Indonesia melaporkan penghematan waktu rata-rata sedikitnya 88 jam per tahun setelah menggunakan teknologi berbasis AI.
Penghematan waktu tersebut dapat memberikan kesempatan lebih besar bagi tenaga kesehatan untuk menelaah kasus secara lebih cermat dan berfokus pada pekerjaan klinis yang membutuhkan keahlian manusia.
Sebanyak 67 persen tenaga kesehatan juga menyatakan penggunaan AI membantu meningkatkan keseimbangan kehidupan dan pekerjaan. Persentase yang sama melaporkan adanya penurunan tingkat stres.
AI juga mulai digunakan sebagai alat bantu untuk meminimalkan kesalahan dalam pekerjaan medis. Sebanyak 34 persen profesional kesehatan menyebut AI membantu mengoreksi atau memvalidasi pekerjaan mereka.
Presiden Direktur Philips Indonesia Astri Ramayanti Dharmawan menggambarkan AI sebagai "second eye" atau mata kedua bagi tenaga kesehatan yang dapat membantu proses pemeriksaan dan validasi.
Meski demikian, AI tetap ditempatkan sebagai alat bantu dan bukan pengganti tenaga kesehatan. Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Prof. Asnawi Abdullah, menegaskan keputusan klinis tetap berada di tangan dokter dan tenaga kesehatan.
Dari sisi institusi, penerapan AI juga mulai memberikan dampak terhadap efisiensi anggaran. Sebanyak 43 persen pemimpin institusi layanan kesehatan di Indonesia melaporkan adanya penghematan anggaran setelah menerapkan AI.
Sementara itu, 69 persen pemimpin institusi kesehatan menyatakan manfaat investasi AI telah memenuhi atau bahkan melampaui biaya yang dikeluarkan.
Presiden Direktur Siloam International Hospitals David Utama mengatakan, manfaat AI akan lebih optimal apabila teknologi tersebut terintegrasi dengan alur kerja tenaga kesehatan sehari-hari.
Namun, penerapan AI di sektor kesehatan masih menghadapi sejumlah tantangan. Sebanyak 55 persen tenaga kesehatan mengatakan pelatihan penggunaan perangkat berbasis AI masih sulit diperoleh, terbatas, atau belum merata.
Selain itu, 62 persen tenaga kesehatan menyebut belum tersedia proses yang jelas untuk memantau penggunaan perangkat berbasis AI.
Karena itu, penerapan AI di sektor kesehatan membutuhkan dukungan pelatihan, validasi teknologi, tata kelola, serta pengawasan manusia. Teknologi diharapkan dapat memperkuat kemampuan tenaga kesehatan sekaligus meningkatkan kualitas dan efisiensi pelayanan kepada masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....