Belanja Gen Z Tinggi, Perlindungan Kesehatan Belum Jadi Prioritas
- 22 Jul 2026 22:30 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Tingginya pengeluaran generasi Z (Gen Z) di Jakarta dinilai belum sejalan dengan kesadaran untuk berinvestasi pada perlindungan kesehatan. Meski memiliki daya beli yang relatif tinggi, sebagian besar pengeluaran generasi muda masih lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan gaya hidup dibandingkan jaminan kesehatan.
Fenomena tersebut menjadi sorotan setelah Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat rata-rata pengeluaran Gen Z di ibu kota mendekati Rp12 juta per bulan. Dari jumlah tersebut, lebih dari separuhnya digunakan untuk pengeluaran nonmakanan, namun perlindungan kesehatan belum menjadi salah satu prioritas utama.
Kondisi ini dinilai kontras dengan tantangan yang dihadapi Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Data BPJS Kesehatan menunjukkan sekitar 53,7 juta peserta JKN berstatus nonaktif, terdiri dari 38,5 juta peserta nonaktif tanpa tunggakan dan 15,2 juta peserta yang tidak aktif akibat menunggak iuran.
Dilansir dari Kompas.com, persoalan tersebut bukan semata-mata disebabkan keterbatasan kemampuan ekonomi masyarakat, melainkan rendahnya willingness to pay atau kemauan untuk mengalokasikan dana bagi perlindungan kesehatan. Dalam ekonomi kesehatan, kemampuan membayar (ability to pay) berbeda dengan kemauan membayar (willingness to pay), yang dipengaruhi oleh persepsi terhadap pentingnya kesehatan.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa keputusan seseorang untuk tetap membayar iuran jaminan kesehatan lebih banyak dipengaruhi oleh tingkat literasi kesehatan, pengalaman menggunakan layanan kesehatan, persepsi terhadap risiko penyakit, serta kepercayaan terhadap sistem jaminan kesehatan, dibandingkan besarnya pendapatan yang dimiliki.
Kajian internasional yang dipublikasikan dalam Frontiers in Public Health pada 2024 juga mengungkapkan kelompok usia muda cenderung memiliki kemauan membayar yang lebih rendah karena merasa kondisi kesehatannya masih baik dan menganggap risiko sakit masih jauh di masa depan.
Akibatnya, berbagai kebutuhan gaya hidup seperti membeli kopi, berlangganan layanan digital, hiburan, hingga layanan pesan antar makanan lebih mudah dianggap sebagai kebutuhan rutin. Sementara itu, pembayaran iuran BPJS Kesehatan yang nilainya relatif kecil justru masih sering ditunda atau tidak diprioritaskan.
Para ahli menilai kondisi tersebut mencerminkan rendahnya persepsi terhadap nilai kesehatan sebagai investasi jangka panjang. Karena itu, upaya meningkatkan kepatuhan membayar iuran tidak cukup hanya melalui imbauan atau penekanan kewajiban, tetapi juga perlu membangun pemahaman bahwa perlindungan kesehatan merupakan bagian penting dalam menjaga produktivitas, karier, dan kualitas hidup.
Selain itu, pengalaman positif saat mengakses layanan kesehatan dinilai menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap sistem jaminan kesehatan. Kemudahan pelayanan, kepastian manfaat, dan kualitas layanan diyakini lebih efektif mendorong masyarakat mempertahankan kepesertaan dibandingkan sekadar kampanye mengenai tingginya cakupan peserta.
Dengan tingginya daya beli Gen Z di perkotaan, tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini bukan lagi sekadar apakah masyarakat mampu membayar iuran kesehatan, melainkan bagaimana menjadikan perlindungan kesehatan sebagai kebutuhan utama yang layak diprioritaskan dalam pengeluaran bulanan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....