Stem Cell dari Donor atau Tubuh Sendiri, Mana yang Lebih Baik?

  • 25 Jun 2026 00:58 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Terapi stem cell atau terapi sel punca semakin banyak dilirik sebagai salah satu metode pengobatan regeneratif untuk berbagai penyakit degeneratif maupun kebutuhan estetika. Namun, sebelum menjalani terapi ini, pasien perlu memahami bahwa kualitas stem cell sangat dipengaruhi oleh sumber sel yang digunakan.

Dilansir dari Kompas.com, Presiden Direktur Regenic sekaligus Deputy Director of Stem Cell and Cancer Institute, dr. Sandy Qlintang, M.Biomed, menjelaskan bahwa secara umum terdapat dua sumber utama stem cell yang digunakan dalam terapi, yakni dari donor dan dari tubuh pasien sendiri (autologus).

Menurut dr. Sandy, faktor usia menjadi salah satu penentu utama kualitas stem cell. Semakin muda usia sumber sel, maka semakin baik kemampuan regeneratif yang dimiliki.

Ia mencontohkan, stem cell yang berasal dari donor berusia 30 tahun memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan stem cell dari seseorang yang berusia 70 tahun. Seiring bertambahnya usia, jumlah dan kualitas sel punca dalam tubuh akan mengalami penurunan secara alami.

Selain usia, kondisi kesehatan donor juga berpengaruh besar terhadap kualitas stem cell. Penyakit degeneratif seperti diabetes yang tidak terkontrol dapat menurunkan kemampuan regeneratif sel meskipun donor masih tergolong muda.

Karena alasan tersebut, dunia medis menilai tali pusat atau ari-ari bayi sebagai salah satu sumber stem cell terbaik. Jaringan ini dinilai masih sangat muda dan belum terpapar proses penuaan maupun berbagai penyakit yang dapat memengaruhi kualitas sel.

Dr. Sandy menjelaskan bahwa jaringan tali pusat dapat diolah menjadi stem cell jenis Wharton’s Jelly yang banyak dimanfaatkan dalam terapi regeneratif. Bahkan, stem cell dari tali pusat bayi dapat digunakan untuk membantu anggota keluarga lain yang membutuhkan terapi, termasuk kakek dan nenek.

Meski demikian, penggunaan stem cell dari tubuh pasien sendiri juga tetap menjadi pilihan yang banyak digunakan. Dalam praktik medis, terutama untuk kebutuhan estetika dan peremajaan wajah, stem cell dapat diperoleh dari jaringan lemak pasien melalui prosedur sedot lemak atau liposuction.

Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik, dr. Tasya Anggrahita, Sp.BP-RE, Subsp. EL (K), menjelaskan bahwa jaringan lemak yang diambil tidak langsung digunakan. Lemak tersebut terlebih dahulu diproses menjadi stromal vascular fraction (SVF), yaitu fraksi jaringan yang mengandung stem cell dan komponen regeneratif lainnya.

Selain kualitas sumber sel, keamanan terapi juga menjadi perhatian utama. Setiap donor stem cell harus menjalani proses skrining yang sangat ketat untuk memastikan tidak ada penyakit menular maupun kontaminasi yang dapat membahayakan pasien.

Dr. Sandy mengungkapkan bahwa biaya skrining untuk satu donor dapat mencapai ratusan juta rupiah. Proses ini diperlukan untuk mendapatkan stem cell berkualitas tinggi yang aman digunakan dalam terapi.

Tidak hanya itu, seluruh tahapan produksi stem cell juga harus dilakukan di fasilitas dengan standar sterilitas yang sangat tinggi. Proses pembuatan stem cell bahkan tidak diperbolehkan menggunakan antibiotik maupun antijamur, sehingga kebersihan ruangan dan prosedur produksi menjadi faktor yang sangat menentukan kualitas akhir sel yang dihasilkan.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, para ahli menegaskan bahwa pemilihan sumber stem cell harus disesuaikan dengan kondisi pasien, tujuan terapi, serta standar keamanan medis yang berlaku agar manfaat terapi dapat diperoleh secara optimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....