Fenomena Makan Berlebihan usai Ramadan

  • 24 Mar 2026 06:07 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Usai menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh, banyak orang justru menghadapi tantangan baru, keinginan makan berlebihan. Fenomena ini kerap disebut sebagai balas dendam makan, di mana seseorang cenderung mengonsumsi makanan dalam jumlah besar, terutama setelah Hari Raya Idulfitri.

Selama Ramadan, pola makan berubah drastis dari tiga kali sehari menjadi dua kali dalam waktu terbatas. Ketika bulan puasa berakhir, tubuh dan kebiasaan belum sepenuhnya kembali stabil. Namun, kehadiran beragam hidangan khas Lebaran seperti opor ayam, rendang, hingga kue-kue manis sering kali menggoda untuk dikonsumsi tanpa kontrol.

Secara psikologis, kondisi ini dipengaruhi oleh rasa kebebasan setelah menahan diri selama 30 hari. Banyak orang merasa wajar untuk memanjakan diri, bahkan cenderung berlebihan. Ditambah lagi, momen silaturahmi yang identik dengan jamuan makan membuat frekuensi makan meningkat tanpa disadari.

Namun, kebiasaan ini tidak tanpa risiko. Pola makan berlebihan dalam waktu singkat dapat berdampak pada kesehatan, mulai dari gangguan pencernaan seperti perut kembung dan asam lambung naik, hingga peningkatan kadar gula darah dan kolesterol. Bagi sebagian orang, kondisi ini juga bisa memicu kenaikan berat badan secara signifikan dalam waktu singkat.

Ahli kesehatan menyarankan agar masyarakat tetap menjaga pola makan seimbang meskipun suasana Lebaran masih terasa. Mengatur porsi makan, memperbanyak konsumsi air putih, serta tetap aktif bergerak menjadi langkah sederhana untuk menjaga kondisi tubuh tetap prima.

Selain itu, penting untuk kembali ke rutinitas makan yang teratur secara bertahap. Tubuh memerlukan waktu untuk beradaptasi setelah perubahan pola makan selama Ramadan. Menghindari makan berlebihan bukan berarti tidak menikmati hidangan Lebaran, tetapi lebih kepada menjaga keseimbangan.

Fenomena balas dendam makan memang terasa relatable bagi banyak orang. Namun, tanpa disadari, kebiasaan ini bisa menjadi awal dari masalah kesehatan jika tidak dikendalikan. Lebaran seharusnya menjadi momen kebahagiaan, bukan justru memicu gangguan pada tubuh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....