Detak Jantung Terlalu Cepat? Waspadai Gangguan Irama Jantung

  • 08 Mar 2026 14:23 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Sensasi jantung berdebar atau deg-degan sering dikaitkan dengan kondisi emosional, seperti saat jatuh cinta, menonton film horor, atau mengalami stres. Namun, jika debaran jantung terjadi terus-menerus tanpa sebab yang jelas, kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan jantung, salah satunya aritmia.

Menurut dokter spesialis jantung, Yoga Yuniadi, aritmia merupakan kondisi ketika detak jantung tidak teratur, bisa terlalu cepat atau terlalu lambat. Dalam keadaan normal, denyut jantung manusia berada pada kisaran 50–100 kali per menit.

“Aritmia adalah detak jantung yang tidak teratur; terlalu cepat atau terlalu lambat. Ketika terjadi aritmia, impuls listrik yang mengatur detak jantung tidak bekerja dengan baik,” jelas dr. Yoga di Siloam Hospitals TB Simatupang.

Penyebab aritmia

Gangguan irama jantung dapat dipicu oleh berbagai faktor. Beberapa di antaranya adalah penyakit pembuluh darah jantung, ketidakseimbangan elektrolit dalam darah seperti kalium dan natrium, serta perubahan pada otot jantung.

Selain itu, aritmia juga dapat muncul akibat luka pada jantung setelah serangan jantung atau selama masa pemulihan setelah operasi jantung. Meski begitu, kondisi ini juga bisa terjadi pada seseorang yang memiliki jantung sehat.

Gejala yang perlu diwaspadai

Aritmia terkadang tidak menimbulkan gejala dan hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan medis. Namun, beberapa gejala yang sering dirasakan penderita antara lain:

  • Palpitasi atau sensasi jantung berdebar kuat
  • Rasa seperti ada pukulan di dada
  • Pusing atau kepala terasa ringan
  • Sesak napas
  • Nyeri atau rasa tidak nyaman di dada
  • Mudah lelah
  • Sering pingsan

Dr. Yoga juga mengingatkan bahwa gangguan irama jantung tidak hanya dialami orang tua. Anak muda pun dapat berisiko mengalami masalah jantung yang berdampak pada kesehatan.

Diagnosis dan pengobatan

Untuk memastikan diagnosis aritmia, dokter biasanya melakukan beberapa pemeriksaan medis. Pemeriksaan tersebut antara lain:

  • Elektrokardiogram (EKG) untuk merekam aktivitas listrik jantung
  • Ekokardiografi atau USG jantung
  • Kateterisasi jantung
  • Studi elektrofisiologi
  • Tilt table test

Pengobatan aritmia tergantung pada jenis dan tingkat keparahannya. Sebagian pasien mungkin tidak memerlukan terapi khusus, sementara yang lain membutuhkan pengobatan atau tindakan medis.

Terapi yang diberikan dapat berupa perubahan gaya hidup, konsumsi obat anti-aritmia seperti beta blocker, calcium channel blocker, atau amiodarone, serta obat pengencer darah untuk mencegah penggumpalan darah.

Terapi medis lanjutan

Jika obat tidak efektif, dokter dapat menyarankan beberapa prosedur medis lanjutan, seperti:

  • Kardioversi, yaitu pemberian kejut listrik untuk mengembalikan irama jantung normal
  • Pemasangan pacemaker (alat pacu jantung)
  • Implantable cardioverter defibrillator (ICD) untuk mencegah gangguan irama yang mengancam nyawa
  • Ablasi kateter untuk memperbaiki jaringan kelistrikan jantung yang bermasalah
  • Operasi bedah jantung sebagai pilihan terakhir

Selain menjalani pengobatan, pasien juga dianjurkan untuk memperbaiki gaya hidup, seperti berhenti merokok dan mengurangi konsumsi kafein yang dapat memicu gangguan irama jantung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....