Cara Atasi Trauma Pada Anak Korban Kekerasan
- 23 Jan 2025 13:37 WIB
- Ambon
KBRN, Ambon : Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) berdampak serius pada psikologis anak-anak. Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan sering mengalami trauma, kehilangan rasa aman, dan kesulitan membangun kepercayaan terhadap orang lain.
Tak jarang, seringkali hal tersebut dapat memengaruhi perkembangan emosional dan sosial mereka saat masih anak-anak dan bisa terjadi hingga dewasa jika tidak segera diatasi sebaik mungkin.
Dampak psikologis KDRT juga dapat terlihat dalam bentuk gangguan kecemasan, depresi, atau masalah perilaku. Anak-anak sering kesulitan fokus dalam belajar dan menunjukkan prestasi yang menurun. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung agar anak dapat tumbuh secara sehat secara mental dan emosional.
"Anak-anak yang menjadi korban tindak kekerasan umumnya dapat mengalami trauma. Kondisi mental dan kejiwaan yang belum stabil membuat mereka lebih rentan terguncang begitu menghadapi kondisi yang menekan," tutur Nur Ria Handayani, S.Psi, M.Psi, Psikolog di RSUD dr. M. Haulussy kepada RRI beberapa waktu lalu.
Handayani menjelaskan, beberapa cara yang dapat dilakukan oleh orangtua dalam menghadapi trauma pada anak korban kekerasan, antara lain :
- Berikan rasa aman.
| Baca juga: Tips Utama Pencegahan Influenza |
Ketika anak mengalami suatu trauma, perihal yang dirasakan adalah lingkungannya terasa tidak aman. Pembangunan rasa aman inilah yang perlu diperhatikan sejak awal oleh orangtua. Rasa aman ditunjukkan melalui perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh orang tua. Pastikan Anda selalu ada untuknya dan berikan pengertian bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dengan begitu, kecemasan pada diri anak dapat berkurang dan meredakan traumanya.
- Biarkan anak tetap bersosialisasi.
Memberikan rasa aman bukan berarti ‘mengurung’ anak di rumah dan menghindarkannya dari bermain dengan teman sebayanya. Meskipun ada kecenderungan orangtua untuk merasa cemas atau khawatir bahwa kejadian serupa akan muncul, biarkan anak tetap bersosialisasi. Membatasi sosialisasi anak justru akan menimbulkan rasa kesepian dan terisolasi pada diri anak. Rasa kesepian berpotensi mengingatkan anak pada kejadian traumatis yang pernah dialaminya dan memperbesar ketakutannya. Upayakan agar anak dapat kembali ke ke dunia mereka, dimana mereka bisa bermain dan bergaul di bawah pengawasan penuh dari orang tua.
- Mengalihkan perhatian anak dengan kegiatan positif.
Untuk menghindarkan anak dari perasaan tertekan dan bayangan traumatis, ajak anak untuk melakukan kegiatan menyenangkan yang positif dan disukai anak. Misalnya bermain sepak bola, melukis, memasak, atau kegiatan lain selain hobi yang dapat menyibukkan. Dengan begitu, pikiran negatif dan memori traumatis perlahan-lahan secara bertahap dapat teralihkan pada kegiatan-kegiatan tersebut.
Handayani menekankan untuk jangan segan meminta bantuan psikolog ataupun psikiater, saat orang tua merasa memerlukan pihak lain dalam mengatasi trauma anak. Tujuannya adalah agar dapat dilakukan bentuk penanganan yang tepat dan efisien. Pada tahap yang lebih lanjut, anak juga diarahkan untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi ke ranah yang lebih positif.
"Dalam prosesnya nanti, tidak hanya anak yang akan diajak bicara, tetapi hal ini juga nanti akan melibatkan orang tuanya. Pihak orang tua akan diarahkan bagaimana mengatasi trauma si anak," tutup Handayani
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....