Menanti Berkah di Serambi Utara Al Fatah

  • 10 Jan 2026 19:37 WIB
  •  Ambon

KBRN, Ambon: Setiap sore, ketika langkah jamaah mulai memenuhi Masjid Raya Al Fatah Ambon, sebuah lapak kecil di serambi utara selalu setia menunggu. Di atas papan beralaskan terpal sederhana, kopiah tersusun rapi, putih, hitam, polos hingga bermotif. Di situlah Rais menghabiskan harinya, berdagang sambil berharap.

Sejak Agustus 2025, pria asal Palu ini memilih berjualan di pelataran masjid. Bukan tanpa alasan. Al Fatah baginya adalah tempat yang hidup, ramai, dan penuh peluang. “Daripada menganggur,” katanya singkat, sembari merapikan dagangan.

Kopiah ia jual dengan harga yang ramah di kantong, mulai dari dua puluh ribu hingga lima puluh ribu rupiah, menyesuaikan merek dan jenis. Tak hanya kopiah, ada pula sorban dan perlengkapan shalat lain yang menemani lapaknya.

Dibawah cahaya lampu dan tenda biru, deretan kopiah tersusun menanti pembeli. (Foto: Gama/RRI)

Hari-hari biasa tak selalu ramai. Dalam sehari, dua atau tiga pembeli sudah menjadi hitungan yang patut disyukuri. Namun Rais paham betul, kesabaran adalah modal utama. Ia tahu ada waktu yang selalu ia nantikan, bulan Ramadhan. Bulan itu, serambi masjid berubah wajah, jamaah bertambah, aktivitas meningkat, dan lapaknya nyaris tak pernah sepi.

Menariknya, barang-barang yang dijual Rais bukan miliknya sendiri. Ia hanya menjadi perpanjangan tangan, menjualkan dagangan orang lain demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Keuntungan yang ia bawa pulang mungkin tak besar, tetapi cukup untuk bertahan dan menjaga harapan tetap menyala.

Di tengah hiruk pikuk kota, kisah Rais berjalan pelan namun jujur. Ia bukan pedagang besar, bukan pula pemilik toko permanen. Ia hanyalah satu dari sekian banyak wajah yang menggantungkan hidup pada denyut masjid dan kemurahan langkah orang-orang yang singgah. Di serambi utara Al Fatah, Rais tak sekadar menjual kopiah, ia sedang menunggu rezeki, dan percaya, setiap kesabaran akan menemukan waktunya sendiri.

Rekomendasi Berita