Naik Kelas Lewat BI, OJK Menjaga Iklim Keuangan

  • 31 Okt 2025 17:52 WIB
  •  Ambon

KBRN, Ambon: Riuh pengunjung Expo Maluku Manggurebe pada 2-4 Oktober 2025. Berkah Novita, pengrajin handycraft, tampil percaya diri. Pendiri Kabeta berparas ayu itu, berdiri anggun di depan stand-nya, sambil memperkenalkan beragam jenis tas yang terbuat dari sabut kelapa dan kain tenun kepada pengungjung yang lalu lalang.

“Tas Kabeta bukan hanya untuk perempuan,” ujarnya menjawab RRI, sambil mengangkat sebuah tas. “Laki-laki pun bisa tampil etnik, asal percaya diri.” ujarnya dengan nada yakin.

Di sebelahnya, Okke Omelas tak kalah seru. Pengrajin tenun khas Tanimbar itu bercerita tentang kain-kain warisan leluhur yang telah bertransformasi. Motif-motif yang dulu hanya menghiasi dinding rumah adat, kini menjelma jadi produk fashion yang menembus pasar global.

“Ini tenun warisan. Dulu kami menenun hanya untuk keperluan adat. Sekarang, jadi sumber penghidupan. Bahkan sudah sampai ke luar negeri,” ujarnya penuh rasa bangga.

Founder Omelas bersama kain tenun warisan

Berkah dan Oke, adalah wajah baru UMKM Maluku yang kreatif dan inovatif. Awalnya, mereka tak tahu cara mengemas produk, apalagi menaklukkan pasar digital, hingga Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku hadir. Sejak 2020, BI menjalankan program kurasi UMKM sebagai bagian dari Strategic Regional Program, yang tak hanya membina, tapi juga mengangkat martabat.

Panggung Maluku Manggurebe

Perhelatan 5th Maluku Manggurebe yang diselenggarakan pada 3 Oktober 2025 menjadi panggung bagi transformasi ini. Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali, dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi atas kolaborasi yang terjalin.

Ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh mitra dan stakeholders KPw BI Maluku, yang senantiasa berkomitmen untuk “mendorong peningkatan kinerja UMKM serta mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi Maluku dan nasional.”

Melalui festival ini, BI menggandeng Dekranasda Provinsi dan tujuh kabupaten/kota untuk menghadirkan 58 UMKM unggulan. Program kurasi yang dilakukan BI mencakup pendampingan desain produk dan kemasan, sertifikasi halal dan legalitas usaha, pelatihan branding dan digital marketing, hingga literasi keuangan dan inklusi digital melalui QRIS.

“Kami dulu masih meraba-raba, bingung soal harga, kemasan, literasi keuangan, bahkan cara bicara ke pembeli. Sekarang, kami bisa tampil di pameran nasional dan internasional. Semua karena kurasi BI,” ujar Berkah Novita mengakui peran program tersebut.

Pengamat ekonomi, Andi Marasabessy, msngakui produk UMKM Maluku saat ini telah jauh berkembang. "Yang masih kurang dari mereka adalah branding, juga literasi keuangan," ujarnya usai dialog di Prosatu RRI Ambon.

Transformasi UMKM diakui Roy, mahasiswa Fakultas Perikanan Unpatti Ambon. Di tengah gemerlap pameran, dia terkesima. Datang dengan bayangan deretan produk amatiran, ia akhirnya menarik prasangkanya.

"Saya sebetulnya malas datang melihat pameran UMKM, karena dalam benak saya pasti produknya biasa-biasa saja, tidak inovatif dan kampungan," aku Roi saat disapa RRI. "Setelah melihat sendiri, saya baru sadar kurang update," katanya terkekeh.

Tak hanya itu, transformasi UMKM juga menyentuh aspek kenyamanan. Jauh dari tumpukan uang lusuh yang membuat orang, terutama perempuan, merasa jijik memegangnya, pembayaran di stand kini didominasi gawai dan suara notifikasi transaksi digital. Mira, salah satu pembeli, merasa sangat terbantu.

"Lebih memudahkan pakai QRIS," katanya ringan usai membayar. "Kalau pakai uang tunai di pasar UMKM, yang paling aku benci, uang kembaliannya selalu lusuh, jijik memegangnya.," ucapnya singkat sambil lalu.

Respons lugas dari Roi dan Mira menjadi validasi terbaik bahwa upaya Bank Indonesia dan OJK telah berhasil membawa UMKM Maluku melompat jauh dari stigma kampungan menuju pasar yang modern dan terdigitalisasi.

Dampak dari sinergi ini terasa lebih nyata, dimana hingga semester I 2025, jumlah merchant QRIS di Maluku mencapai 97,2 ribu dengan nilai transaksi Rp661 miliar.

Tonton Wawancara Founder Kabeta: https://youtu.be/MOBiTVFBz0I?si=9vt_xG7xWu21KA6R

OJK Menembus Batas 3T

Di balik gairah panggung Manggurebe, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hadir sebagai penjaga iklim. OJK memastikan stabilitas sektor keuangan agar pelaku UMKM bisa tumbuh dalam ekosistem yang sehat.

“Kami diajari cara mengelola keuangan, mengenal pinjaman yang sehat, dan memahami risiko. Itu sangat bermanfaat dan membuat kami lebih siap melangkah jauh,” kata Dwi, penjual aksesoris yang baru 6 bulan bergabung dalam kurasi BI.

Aksi nyata OJK tidak hanya terpusat di ibu kota provinsi. Mereka secara aktif menjangkau wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Komitmen ini terlihat jelas dalam rangkaian kegiatan OJK Maluku di Kabupaten Kepulauan Aru, sebagaimana diberitakan RRI sebelumnya.

Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa bersama Forkopimda, manajemen BI dan OJK, foto bersama usai pembukaan Expo Maluku Manggurebe 2035 di Pattimura Park, Ambon, 3 Oktober 2025.

Kepala OJK Provinsi Maluku, Andi Muhammad Yusuf, menegaskan kolaborasi ini. Ia menyatakan, "OJK Maluku bersama pemerintah daerah dan lembaga jasa keuangan berkolaborasi menghadirkan kegiatan edukasi keuangan dan upaya memperluas akses keuangan di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar)."

Rangkaian kegiatan di Kepulauan Aru mencakup sosialisasi Satgas PASTI (Penanganan Kegiatan Usaha Tanpa Izin) dan Business Matching bagi pelaku UMKM. Kegiatan ini ditutup dengan Rapat Pleno Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), yang membahas tantangan geografis Aru yang terdiri dari 678 pulau.

Wakil Bupati Kepulauan Aru, Mohamad Djumpa, berharap TPAKD dapat menjadi penggerak pengembangan ekonomi, peningkatan literasi serta inklusi keuangan melalui kolaborasi dengan Lembaga Jasa Keuangan di tengah tantangan geografis.

Di tingkat regulasi, peran OJK sebagai penjaga iklim ditegaskan melalui kebijakan seperti POJK 19 Tahun 2025 yang mengatur kemudahan akses pembiayaan UMKM, termasuk skema berbasis kekayaan intelektual.

Andi Muhammad Yusuf menjelaskan, "TPAKD adalah forum kolaborasi antara Pemerintah Daerah, OJK, dan Lembaga Jasa Keuangan untuk memperluas literasi dan inklusi keuangan masyarakat. Kami dari OJK hadir sebagai pengarah sekaligus mitra strategis mendukung program kerja TPAKD Kabupaten Kepulauan Aru."

Tantangan dan Harapan Masa Depan

Meskipun sinergi BI dan OJK telah menghasilkan capaian signifikan, tantangan di lapangan masih besar. Mayoritas pelaku UMKM adalah perempuan, 64% ibu rumah tangga, yang masih kesulitan memisahkan uang usaha dengan uang dapur. Konektivitas antar wilayah kepulauan masih terbatas, dan literasi digital belum merata, membuat mereka ragu melangkah penuh ke ekosistem digital.

Di balik senyum Berkah Novita dan sorot mata Okke Omelas, ada kisah tentang keberanian bermimpi. "Transformasi ini lahir dari sinergi Bank Indonesia yang membina, OJK yang menjaga iklim, dan pemerintah daerah yang menopang," aku Berkah, dkk.

Lewat kurasi, literasi, dan pengendalian inflasi seperti Gerakan Pasar Murah di Manggurebe, mereka menciptakan ekosistem yang memungkinkan UMKM tumbuh, berinovasi, dan naik kelas.

“Kami disini bukan hanya menjual produk. Kami menjual cerita, budaya, dan harapan,” ujar Berkah, diamini Okke, sebelum kembali menyambut pengunjung.

Stand fashion B'gaya by Evie Hehanussa

Banyak yang Ingin Bergabung

Program kurasi Bank Indonesia memang menjadi pintu masuk strategis bagi pelaku ekonomi kreatif di Maluku yang ingin naik kelas. Tak sekadar seleksi, kurasi ini menghadirkan pembinaan intensif yang mengubah cara pandang pelaku usaha terhadap produk, promosi, dan pengelolaan keuangan. Banyak yang ingin bergabung, namun hanya mereka yang lolos seleksi ketat yang bisa merasakan dampaknya secara nyata.

Dwi, penjual aksesoris, adalah salah satu peserta terpilih yang tampil di pameran Maluku Manggurebe 2025. Baru enam bulan bergabung dalam kurasi BI, ia sudah merasakan lonjakan positif, mulai dari desain produknya makin terarah, strategi promosinya makin menarik, dan penjualannya pun meningkat.

“Kami diajari cara mengelola keuangan, mengenal pinjaman yang sehat, dan memahami risiko. Itu membuat kami lebih siap melangkah lebih jauh lagi,” ujarnya, sambil merapikan display dagangannya yang kini tampil lebih profesional.

Kisah Dwi menjadi bukti bahwa kurasi bukan sekadar program, melainkan proses transformasi. Ketika pelaku usaha lokal diberi ruang untuk belajar, berkembang, dan tampil di panggung nasional, maka ekonomi kreatif Maluku tak lagi berjalan di pinggiran. Ia mulai menari di tengah arus utama, membawa cerita, produk, dan harapan dari timur Indonesia.

Yang pasti, di balik suka cita pelaku UMKM, di balik gemuruh ombak dan sunyi pegunungan Maluku, OJK telah memainkan peran krusial sebagai penjaga iklim keuangan yang sehat dan inklusif. Di wilayah yang kerap terpinggirkan dari radar pembangunan nasional, OJK hadir sebagai regulator dan katalisator perubahan.

Melalui edukasi keuangan, pengawasan lembaga jasa keuangan, dan dorongan terhadap inklusi finansial, OJK berupaya memastikan bahwa denyut ekonomi lokal tetap berdetak stabil, bahkan di tengah tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur.

Namun, menjaga stabilitas keuangan di Maluku bukanlah tugas yang mudah. Daerah 3T seperti Maluku Barat Daya, dan Kepulauan Aru, masih menghadapi minimnya akses terhadap layanan keuangan dasar.

Seperti kata pengamat ekonomi, OJK dituntut menembus sekat-sekat keterisolasian dengan pendekatan yang lebih humanis dan adaptif, berupa program literasi keuangan di pelosok, pelatihan bagi pelaku UMKM, serta sinergi dengan pemerintah daerah dalam membangun kepercayaan dan pemahaman masyarakat terhadap sistem keuangan.

Langkah-langkah ini bukan hanya soal angka dan statistik, tapi soal harapan. Ketika warga di Kepulauan Aru mulai memahami pentingnya menabung, atau ketika ibu-ibu di MBD mulai mengakses kredit mikro untuk usaha rumahan, itulah bukti bahwa inklusi keuangan bukan sekadar jargon.

Tantangan masih membentang. OJK perlu memperkuat kolaborasi lintas sektor dengan kementerian, lembaga pendidikan, dan pelaku industri jasa keuangan agar intervensi mereka tidak bersifat sporadis.

Digitalisasi layanan keuangan juga harus disesuaikan dengan kondisi lokal ketika sinyal internet yang lemah, rendahnya literasi digital, dan budaya transaksi tunai masih menjadi hambatan. Tanpa strategi yang kontekstual, inklusi bisa berubah menjadi ilusi.

Ke depan, OJK harus berani melangkah lebih jauh dalam membangun ekosistem keuangan yang berbasis komunitas, memperluas jangkauan agen Laku Pandai, dan menjadikan literasi keuangan sebagai bagian dari kurikulum lokal.

"Maluku bukan hanya wilayah yang harus dibantu, tapi juga wilayah yang bisa menjadi model inklusi keuangan berbasis kearifan lokal. Jika OJK mampu menjawab tantangan ini, maka bukan hanya iklim keuangan yang terjaga, tapi juga martabat ekonomi masyarakat Maluku yang terangkat," kata pengamat ekonomi, Temy Talaohu dalam dialog di Pro1 RRI Ambon belum lama.

Rekomendasi Berita