Malam Damar dan Aroma Kenari, Tradisi 27 Ramadan di Watubela
- 28 Mar 2025 06:06 WIB
- Ambon
KBRN, Ambon: Malam tujuh likur atau 27 Ramadan bagi masyarakat di Kepulauan Watubela, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) memiliki makna yang sangat sakral. Pada malam itu, lantunan zikir dan doa mwnyatu dengan aroma harum kenari dan sagu yang menggugah selera.
Itulah malam Damar, malam yang dianggap istimewa oleh masyarakat setempat, dimana setiap doa diyakini akan dikabulkan. Di keheningan malam suci ini pula, perempuan Watubela berkumpul melestarikan tradisi turun-temurun Tantan dan Babau.
Tantan dan Babau bukan sekadar makanan khas, melainkan sebuah ritual penghormatan kepada sanak keluarga yang itelah meninggal dunia, khususnya yang telah pergi lebih dari tiga tahun. Tradisi ini diwariskan dari leluhur tanpa catatan tahun pasti, namun terus hidup di tiga desa, yakni Lahema, Effa, dan Ilili.

Masyarakat duduk melingkar di atas anyaman daun kelapa dalam perayaan malam damar. Di tengah mereka terdapat berbagai jenis makanan tradisional, termasuk Tantan dan Babau, pisang, kelapa, yang tersusun rapi sebagai bagian dari prosesi ritual. Suasana khidmat terlihat saat mereka mengikuti rangkaian doa bersama, mencerminkan tradisi budaya yang masih dijaga oleh masyarakat setempat. (Foto: Sumber)
Mengapa malam ke-27 Ramadan? Masyarakat Watubela percaya, inilah waktu terbaik untuk mengirim doa. "Malam Damar adalah saat Allah paling dekat dengan hamba-Nya," ujar tetua adat, Muhammad Ikram Rumakamar. Maka, prosesi pembuatan Tantan dan Babau pun tak lepas dari nuansa sakral.
Selama tujuh hari sebelum malam puncak, para perempuan khususnya ibu-ibu yang dituakan, sibuk mempersiapkan bahan. Kenari dikupas, direbus, dijemur, disangrai, lalu ditumbuk halus idengan lesun (alu tradisional). Sagu mentah (libia atau tumang) ditapis, dijemur, lalu dicampur dengan kenari. Semua digoreng dengan minyak kelapa kampung di atas tungku berbahan pelepah kelapa (mayang).
Yang unik, anak-anak dan laki-laki dilarang masuk area pembuatan. "Jika ada butiran pasir yang tercampur, minyak panas bisa meletup dan membahayakan," jelas Nyonya Sety Ramakamar yang telah puluhan tahun terlibat dalam ritual ini.
Sebelum pengolahan dimulai, digelar doa syukuran dan ritual adat dengan menyediakan sirih, pinang, dan kapur simbol penghormatan pada leluhur. Uang koin tembaga peninggalan zaman dulu juga diletakkan sebagai bagian dari tradisi.
Tantan dan Babau: Simbol Kesabaran dan Keharuman
- Tantan berasal dari kata ditahan-tahan, proses menindih adonan perlahan hingga membentuk lingkaran panjang. Terbuat dari kenari dan sagu, makanan ini melambangkan kesabaran dan ketekunan.
- Babau berarti bau harum, mengacu pada aroma khas kenari yang memenuhi udara. Dibentuk dengan motif bunga, Babau adalah simbol keindahan dan kebersamaan.
Keduanya disajikan bersamaan pada malam Damar, bukan hanya sebagai hidangan, tetapi juga sebagai pengikat silaturahmi. Pada sore harinya, warga berkumpul untuk tahlilan, mengirim doa bagi almarhum, lalu menikmati Tantan dan Babau bersama-sama.
Meski tradisi ini masih terjaga keasliannya, pertanyaan besar mengemuka: Akankah generasi muda tetap melestarikannya?
"Kami diajarkan turun-temurun, dan sekarang giliran kami mengajarkan anak-anak kami," ujar Sahiba Rumalau. Antusiasme terlihat saat anak-anak perempuan mulai dilibatkan dalam iproses pembuatan. Namun, ditengah gempuran modernisasi, kekhawatiran akan punahnya tradisi ini tetap ada.
Masyarakat Watubela berharapiTantan dan Babau tetap hidup. "Ini bukan sekadar makanan, tapi identitas kami," tegas tetua. Mereka mendorong generasi muda khususnya perempuan untuk tak hanya menikmati, tetapi juga terlibat langsung dalam setiap prosesi.
Di malam Damar, ketika aroma kenari membaur dengan doa-doa, tradisi Tantan dan Babau mengingatkan kita bahwa kematian bukanlah akhir. Selama ingatan dan ritual tetap hidup, para leluhur tak pernah benar-benar pergi dan di Watubela, mereka abadi dalam setiap gigitan Tantan dan helaan napas harum Babau.