Filosofi Uang ala Abdullah Vanath yang Mengubah Seram Timur

  • 28 Mar 2026 17:17 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Di tengah hingar-bingar politik Maluku yang kerap diwarnai baliho dan kampanye besar-besaran, nama Abdullah Vanath memiliki cerita yang berbeda. Ia bukan sosok yang lahir dari kursi-kursi dingin birokrasi, melainkan figur yang ditempa oleh jalanan, hutan, dan keyakinan bahwa uang bukan sekadar angka dalam APBD, melainkan mesin penggerak kehidupan.

Dalam perbincangan di Siniar Keker RRI Ambon baru-baru ini, mantan Bupati Seram Bagian Timur (SBT) dua periode itu membuka peta pikiran tentang bagaimana ia membangun daerah yang baru mekar dengan sumber daya yang sangat terbatas. Baginya, mengelola pemerintahan tidak jauh berbeda dengan mengelola rumah tangga. Bedanya hanya pada skala jumlah yang diurus.

"Kita punya anak tiga atau lima, sama dengan mengurus masyarakat 100-200 ribu jiwa. Duitnya segini, kalau dipakai untuk ini, di tengah jalan habis. Konstruksi berpikirnya sama. Tinggal pintar-pintarnya seorang pemimpin menggunakan uang," ujar Abdullah Vanath.

Ia mencontohkan sebuah ilustrasi sederhana yang kerap ia gunakan untuk menjelaskan skala prioritas. "Seorang pemimpin daerah atau entrepreneur harus tahu duit ini mau dialokasikan ke mana. Kalau dipakai untuk beli televisi di rumah, kan tidak produktif. Tapi kalau dipakai untuk beli sayuran lalu dijual lagi, itu produktif," katanya.

Latar belakang Abdullah sebagai praktisi perbankan dan pengusaha membuat ia memiliki cara pandang yang khas. Ia tak terpaku pada besaran anggaran. Ketika memimpin SBT di awal, APBD yang dikelola sangat kecil. Namun, ia menekankan pentingnya putaran uang yang tinggi daripada sekadar nominal.

"Saya punya APBD pertama 86 miliar. Meskipun kecil, tapi putaran uangnya tinggi. Saya mengerti bagaimana memanfaatkan uang dan bertahan dengan dompet yang menipis," kenangnya.

Perjuangan Panjang di Balik Pemekaran SBT

Namun, perjalanan Abdullah tidak serta-merta menjadi kepala daerah. Ia terlibat dalam perjuangan pemekaran Seram Bagian Timur yang dimulai sejak era Orde Baru. Menariknya, ia mengakui bahwa awalnya ia bukanlah figur yang dikenal oleh para pejuang SBT.

"Dulu saya enggak dikenal. Saya punya jalur bisnis sendiri, dunia pergaulan yang berbeda. Jangankan ikut rapat, undangan rapat pun istri saya yang suruh datang," ceritanya.

Keterlibatannya bermula ketika istrinya melihat undangan rapat di kantornya dan menyuruhnya hadir. "Istri saya bilang, 'Udahlah, pergi sana, siapa tahu bisa bantu apa.' Saat datang, di sana hanya dua orang yang kenal saya: almarhum Lucky Uyara dan Saifudin Go. Mereka yang tahu kapasitas saya," ujarnya.

Dari situlah, meski tidak dikenal luas, Vanath mulai bergerak. Ia memiliki kantor dan fasilitas yang kemudian digunakan untuk mengorganisir perjuangan. Dalam waktu relatif singkat, ia menunjukkan progres yang nyata sehingga rekan-rekan pejuang mulai memberikan kepercayaan kepadanya untuk memimpin gerakan.

Puncak perjuangan itu tidak mudah. Vanath menceritakan momen heroik sekaligus kritis saat tim dari Jakarta datang untuk melakukan verifikasi. Mereka butuh armada pesawat menuju lokasi, namun bantuan yang dijanjikan dibatalkan di menit-menit akhir.

"Saya perintahkan perusahaan. Saya suruh pilot terbang. Hari itu hari Minggu, dia bangun tidur pakai kaos kutang, langsung diterbangkan. Tidak ada pilihan lain. Kami butuh tim itu sampai ke lokasi untuk membuktikan keberadaan kami," kisahnya.

Saya Politisi Jalanan

Setelah sukses melahirkan kabupaten baru dan menjabat sebagai bupati selama dua periode, Vanath memilih jalan yang tidak biasa. Di tengah gempuran politik menuju Pilkada 2024, ia memilih "hidup di hutan" dan berkebun. Ironisnya, meski tidak memasang baliho dan tidak berkampanye, hasil survei menempatkan namanya di posisi puncak.

"Saya bukan politisi yang lahir dari atas. Saya politisi jalanan yang membesarkan diri dengan berjalan kaki dari kampung ke kampung," tegasnya.

Ia mengaku sengaja memilih profesi yang digeluti mayoritas masyarakat Maluku, bertani. "Orang miskin di Maluku terbanyak adalah petani. Komandannya petani itu saya. Saya berani kotor-kotor sama mereka dan saya menginspirasi mereka, Mereka percaya kalau saya jadi pemimpin di Maluku, saya bisa membuat sesuatu untuk mengangkat derajat mereka," ujar Vanath.

Kewajiban Moral dan Keberanian Muda

Saat ditanya mengapa seorang pengusaha mapan seperti dirinya memilih masuk ke dunia politik yang panas, Vanath memberikan jawaban reflektif.

Ia mengakui memiliki kebun dan aset yang cukup untuk menghidupi serta menyekolahkan anak-anaknya. Namun, ada beban moral yang lebih besar. "Yang membesarkan saya ini banyak orang. Mereka berjuang dengan saya, dengan harapan saya punya ide dan gagasan untuk kepentingan banyak orang," katanya.

"Bagaimana dengan orang banyak yang selama ini membuat saya menjadi tokoh di Maluku? Mereka ada yang belum kerja, ada yang ingin jadi dokter, ingin jadi pengusaha. Kalau saya cuma petani, batas kewenangan saya tidak bisa menyulap mereka meraih cita-cita. Saya harus ada dalam kekuasaan," jelasnya.

Keputusannya untuk maju menjadi bupati di usia 33 tahun pun mendapat keraguan dari para senior. "Banyak yang bilang, Kamu belum bisa jadi bupati, belajar dulu, masih muda,'" kenangnya.

Namun, ia memiliki keyakinan lain. "Saya berani karena ada kesempatan. Saya bukan tipe egois, saya sangat menghargai pendapat orang. Soal pengetahuan, itu akan didapat di dalam perjalanan itu sendiri," tutup Abdullah Vanath, menegaskan bahwa perjuangan yang dilandasi penguasaan aturan dan kedekatan dengan rakyat akan selalu menemukan jalannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....