Tradisi Husafara Perkuat Persaudaraan Masyarakat Maluku di Jakarta

  • 11 Agt 2026 22:32 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Jakarta - Tradisi Husafara atau Mandi Safar menjadi ruang bakudapa bagi masyarakat Maluku di wilayah Jabodetabek sekaligus memperkuat ikatan persaudaraan masyarakat Hitu di perantauan.

Pelaksanaan Husafara 1448 Hijriah yang digelar Perkumpulan Rumah Hitu di Pantai Lagoon, Ancol, Jakarta, pada Minggu, 9 Agustus 2026, dirangkaikan dengan peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia dan dihadiri masyarakat Maluku yang tinggal di wilayah Jabodetabek.

Kepala Badan Penghubung Provinsi Maluku di Jakarta, Saiful Indra Patta, mengatakan Husafara memiliki makna sosial yang kuat karena menjadi momentum berkumpul, mempererat silaturahmi, serta menjaga identitas budaya masyarakat Maluku meskipun berada jauh dari tanah asal.

Ia mengajak masyarakat Maluku di tanah rantau terus menjaga keharmonisan, persatuan, keamanan, dan ketertiban sekaligus menjadikan tradisi sebagai ruang untuk memperkuat hubungan kekeluargaan.

Patta berharap semangat kebersamaan dalam Husafara dapat terus diwariskan kepada generasi muda sehingga tradisi tersebut tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga menjadi perekat hidop orang basudara bagi masyarakat Maluku di perantauan.


Kepala Perwakilan Pemprov Maluku di Jakarta foto bersama warga Hitu yang melaksanakan Tradisi Husafara


Rawat Tradisi Leluhur Husafara

Ketua Perkumpulan Rumah Hitu, Faisal Pellu, mengatakan pelaksanaan Husafara 1448 Hijriah tahun ini memberikan ruang lebih besar kepada generasi muda untuk terlibat langsung dalam kepanitiaan dan seluruh rangkaian kegiatan.

Menurut Faisal, keterlibatan anak muda penting untuk memastikan tradisi adat tidak terputus di tengah perubahan zaman. Selain menjaga keberlangsungan budaya, pengalaman menjadi bagian dari kepanitiaan juga memberikan kesempatan bagi generasi muda mengasah tanggung jawab dan kepemimpinan.

"Generasi muda adalah tumpuan masa depan kita. Melalui kepanitiaan acara adat ini, kita ingin memberikan motivasi dan wadah bagi mereka untuk belajar bertanggung jawab menjaga tradisi sekaligus mengasah mental kepemimpinan," kata Faisal.

Ia berharap keterlibatan generasi muda dapat terus diperluas dalam berbagai kegiatan adat dan budaya sehingga Husafara tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi tetap hidup dan relevan bagi generasi Hitu di masa mendatang.

Makna dan Sejarah Tradisi

Diketahui, Husafara (atau Who Safara) adalah tradisi turun-temurun berupa Mandi Safar yang dilaksanakan oleh masyarakat adat beragama Islam di Negeri Hitu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Ritual ini digelar setahun sekali pada hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriah.

Ritual ini diyakini masyarakat sebagai sarana memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar negeri terhindar dari bahaya, penyakit, wabah, serta membersihkan diri dari dosa. Tradisi ini juga merefleksikan peristiwa ketika Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya melewati masa-masa ujian atau cobaan berupa wabah di bulan Safar.

Ritual ini dimulai sejak pagi hari setelah salat subuh dengan zikir, tahlilan, dan doa bersama oleh tokoh agama serta tokoh adat. Para pemuka adat menyiapkan air dalam wadah atau kendi khusus yang telah didoakan, di mana sebagian warga atau anak-anak meminumnya sebelum turun ke laut.

Dipimpin oleh Raja (Upu) Hitu bersama perangkat adat dan agama, ribuan warga kemudian berjalan menuju pantai atau pelabuhan (seperti Pelabuhan Huseka'a Hitu) untuk bersama-sama membasuh diri dan mandi di laut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....