Sansekerta Beta, Wadah Kreativitas yang Menembus Kancah Nasional & Internasional
- 11 Agt 2026 12:13 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID,Ambon – Komunitas Sansekerta Beta terus menjadi ruang bagi mahasiswa dan generasi muda di Maluku untuk mengembangkan bakat serta kreativitas di bidang seni dan sastra. Berdiri sejak 2021, komunitas yang lahir dari inisiatif lima orang pendiri ini kini telah memiliki sekitar 61 anggota resmi.
Sansekerta Beta dibentuk sebagai wadah untuk menumbuhkan kemampuan dan keterampilan mahasiswa, khususnya dalam bidang seni dan sastra. Komunitas ini berawal dari kepedulian terhadap keberadaan komunitas sastra sebelumnya yang tidak lagi aktif. Salah satu pengurus Sansekerta Beta, Lilis, dalam dialog budaya menjelaskan, komunitas tersebut dicetuskan oleh lima orang, yakni Susi, Dewi, Nana, Nanik, dan Fajar yang kini telah almarhum.
“Karena sebelumnya sudah ada komunitas yang berkaitan dengan sastra, tetapi seiring berjalannya waktu tidak terbentuk lagi. Dari situ kakak berlima mencetuskan Sansekerta Beta supaya mempunyai wadah untuk menumbuhkan kemampuan dan skill mahasiswa,” ujar Lilis saat diundang dalam obrolan Paparisa Komunitas di Pro 4 tadi pagi.
Sejak berdiri lima tahun lalu, Sansekerta Beta tidak hanya berfokus pada satu bidang seni. Komunitas ini menyediakan sejumlah ruang pengembangan bakat melalui beberapa studio, yakni studio tari, musik, puisi dan prosa, teater, serta desain. Menurut Lilis, keberadaan studio-studio tersebut menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menemukan dan mengembangkan potensi yang dimiliki.
“Kita menyiapkan wadah khusus untuk skill dan kemampuan, berfokus pada studio tari, studio musik, studio puisi dan prosa, studio teater, dan juga studio desain,” katanya.
Karya Menembus Tingkat Nasional
Kreativitas anggota Sansekerta Beta juga tidak hanya ditampilkan dalam lingkungan kampus. Sejumlah karya komunitas tersebut telah mendapat perhatian hingga tingkat nasional dan internasional.
Salah satunya melalui film pendek berjudul “Indahnya Perbedaan”, yang mendapat perhatian dari masyarakat di Belanda. Selain itu, karya film “Sombar” berhasil meraih juara dua dalam sebuah kompetisi tingkat nasional. “Alhamdulillah, karya kita ada yang luar biasa. Bahkan ada yang dilirik sampai internasional. Salah satunya film pendek “Indahnya Perbedaan
yang mendapat komentar dan perhatian dari warga Belanda,” ungkap Lilis. “Untuk film “Sombar”, alhamdulillah kita mendapatkan penghargaan juara dua dalam lomba nasional,” lanjutnya.
Sansekerta Beta juga aktif mengangkat berbagai isu sosial melalui karya seni. Salah satunya adalah pementasan yang mengangkat isu Palestina dengan memadukan berbagai bidang seni yang ada di komunitas tersebut. Dalam pementasan itu, anggota Sansekerta Beta tidak hanya melibatkan mahasiswa, tetapi juga mengajak masyarakat, termasuk anak-anak, untuk terlibat dalam kegiatan literasi dan seni. Anak-anak yang sebelumnya hanya menghabiskan waktu bermain diajak mengenal literasi sekaligus mengambil peran dalam pementasan teater.
Menjadikan Seni sebagai Ruang Kolaborasi
Dengan jumlah sekitar 61 anggota resmi, Sansekerta Beta terus berupaya membangun ruang kolaborasi dengan berbagai pihak.
Komunitas ini pernah berkolaborasi dengan Yakesma Maluku dalam kegiatan yang mengangkat isu Palestina melalui pendekatan sastra. Sansekerta Beta juga terlibat dalam berbagai kegiatan penguatan literasi yang diselenggarakan Balai Bahasa. Lilis menilai, kolaborasi antarkomunitas menjadi hal penting untuk mengembangkan ekosistem seni dan sastra di Maluku.
Ia berharap ke depan terdapat wadah yang dapat mempertemukan berbagai komunitas seni dan sastra di Maluku sehingga mereka dapat saling bertukar ide, pengalaman, serta membangun kerja sama.
“Harapan saya, komunitas-komunitas seperti ini yang belum dilihat dan belum dilirik bisa mendapatkan suatu wadah atau event, di mana kita semua dapat berkumpul dan bertukar pikiran,” ujarnya.
Manfaatkan Media Sosial dan Teknologi AI
Di tengah perkembangan teknologi digital, Sansekerta Beta juga menyadari pentingnya membangun identitas komunitas melalui media sosial.
Karena itu, komunitas tersebut aktif menggunakan berbagai platform digital, seperti Instagram, Facebook, YouTube, dan TikTok untuk memperkenalkan kegiatan dan karya mereka.
Strategi promosi juga dibuat mengikuti perkembangan tren yang sedang diminati anak muda. Cara tersebut dinilai penting untuk menarik perhatian generasi muda agar tertarik mengenal seni dan sastra.
“Kita berjuang dalam promosi dengan mengikuti perkembangan zaman, sehingga menarik minat anak muda. Kita menanamkan sifat cinta terhadap sastra, tetapi kita juga cinta terhadap perkembangan zaman,” jelas Lilis.
Dalam produksi konten digital, Sansekerta Beta juga mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau AI sebagai bagian dari proses kreatif. Namun, penggunaan teknologi tersebut tetap dipadukan dengan ide dan kemampuan kreatif anggota. Menurut Lilis, teknologi hanyalah alat. Kualitas sebuah karya tetap sangat dipengaruhi oleh gagasan dan kreativitas manusia yang menggunakannya. “Kalau penggunaan AI semua orang bisa pakai, tetapi berbeda pemikiran, berbeda ide, dan berbeda hasil juga,” katanya.
Berharap Berkembang hingga Nasional dan Internasional
Saat ini, Sansekerta Beta masih memusatkan aktivitasnya pada lingkungan IAIN Ambon. Namun, komunitas tersebut memiliki cita-cita untuk memperluas jangkauan hingga tingkat nasional bahkan internasional.
Lilis berharap Sansekerta Beta dapat menjadi salah satu wadah yang mendorong generasi muda Maluku untuk terus berkarya, khususnya dalam bidang seni dan sastra.
“Harapan saya ke depan adalah mengembangkan anak muda bukan hanya pada skala lokal, tetapi mungkin sampai nasional hingga internasional,” tuturnya. Melalui berbagai kegiatan seni, sastra, literasi, kolaborasi, serta pemanfaatan media digital, Sansekerta Beta menunjukkan bahwa komunitas anak muda dapat menjadi ruang penting untuk menjaga sekaligus mengembangkan kreativitas generasi muda Maluku.
Komunitas ini juga membuka ruang bagi anak muda untuk mengenal seni bukan sekadar sebagai kegiatan hiburan, tetapi sebagai sarana menyampaikan gagasan, mengangkat isu sosial, membangun karakter, dan memperkenalkan karya anak Maluku kepada masyarakat yang lebih luas.
Penulis : Sumiaty Manilet, S.Pd
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....