RRI Ambon, dari Puing Perang hingga Transformasi Digital

  • 10 Sep 2026 19:26 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) Ambon dalam beberapa tahun terakhir telah menapaki babak baru transformasi multimedia. Stasiun penyiaran tertua di kawasan Indonesia Timur ini membuktikan konsistensinya sebagai benteng kedaulatan informasi yang tangguh berdiri melewati berbagai terpaan sejarah dan gejolak konflik dari masa ke masa.

Sejarah mencatat stasiun ini lahir dari puing-puing perjuangan pasca-perang pada 22 Desember 1950 di bawah pimpinan Kapten W. Chr. Risakotta. Didirikan tak lama setelah Kota Ambon direbut kembali dari cengkeraman pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS), para tokoh penentu seperti Des Alwi bersama teknisi lokal berjuang merakit peralatan sisa perang di sebuah rumah warga yang dijadikan kantor tumpangan darurat, sebelum akhirnya mengamankan markas permanen di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kelurahan Batu Gajah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon.

Kepala LPP RRI Ambon Yanni Latuheru (tengah) dan staf - dok. RRI

Ketangguhan RRI Ambon kembali diuji secara heroik ketika konflik komunal melanda Maluku pada tahun 1999. Di tengah bara kerusuhan horizontal yang memecah-belah warga, studio RRI Ambon menolak untuk padam; para angkasawan bertaruh nyawa menembus kepungan konflik demi terus menyiarkan seruan damai, menyaring hoaks yang memprovokasi massa, serta merekatkan kembali persaudaraan Pela Gandong di Maluku.

Kini, warisan api perjuangan tersebut diteruskan oleh Yani Peter Latuheru, S.Sos., yang menakhodai LPP RRI Ambon pada 2026. Di bawah komandonya, RRI Ambon terus menghentak lewat akselerasi aplikasi RRI Digital, radio visual RRI Net, dan portal berita online guna memastikan bahwa suara dari Maluku tidak hanya terdengar di udara, melainkan juga menguasai ruang digital global.

Creuw RRI Ambon bidang pemberitaan dengan busana tradisional Maluku - dok/RRI

Konvergensi media ini terbukti sukses merangkul semua generasi pendengar di Maluku, mulai dari golongan senior hingga kaum milenial dan Gen Z. Loyalitas ini diakui oleh Aldo, 50 tahun, pendengar lintas zaman yang menyatakan, "Dari dulu dan sampai kapanpun, katong selalu setia mendengarkan siaran RRI. Setiap ada kegiatan RRI, seperti perayaan Hari Radio, katong selalu hadir."

Jalan sehat Pencanangan Hari Radio ke- 81 tahun 2026 - foto AL/RRI

Daya tarik RRI di era digital bahkan mampu mendobrak sekat bagi generasi muda yang awalnya asing dengan dunia radio. "Awalnya beta seng tahu banyak tentang RRI, terutama konten siarannya. Tapi setelah nonton salah satu podcastnya, kebetulan tentang artis Ambon yang lagi hits, beta jadi tertarik dan mulai rajin buka RRI Digital," kata Ines Makatita, seorang perwakilan Gen Z di Ambon.

Reporter RRI Ambon - foto istimewa

Hal senada juga diutarakan Irfandy Maruapey, mahasiswa Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon. Dia dan rekan-rekan sekampus mengandalkan platform digital RRI sebagai rujukan akademis tepercaya. "Beta memang jarang dengar radio, kecuali ada dialog interaktif dengan isu menarik dan narasumber top. Tapi setiap hari beta dan kawan-kawan selalu akses berita atau informasi dari portal RRI Online karena beritanya beragam, aktual, dan bertanggung jawab," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....